Beri Penghormatan Tokoh NU, 15 Seniman Lakukan Riset Budaya Lokal

Imron Fathoni, Ketua Lesbumi NU

Reporter : Adi Wiyono

Kota Batu, suaraindonesia-news.com – Sebanyak 15 Seniman yang tergabung  dalam Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Kota Batu, kini  melakukan riset budaya lokal untuk menggali kearifan seni lokal di Kota Batu yang merupakan hasil karya cipta warga Nadliyin.

Selain melakukan tabayyun kebudayaan kepada ulama dan tokoh seni di kota Batu ini, mereka akan berdialog langsung dengan komunitas lokal yang masih memiliki tradisi kuno. Hal ini dilakukan untuk menambah kazanah budaya untuk menghadang arus globalisasi dan hegemoni Barat.

Untuk kepentingan tersebut, lima belas seniman Lesbumi NU ini bertemu di Pondok Pesantren Manbaul Ulum, Dusun Sukorembug, Desa Sidomulyo, Sabtu (9/4/2016)lalu. Beberapa seniman yang hadir antara lain Fuad Alit, Rudianto, Faruq Bin Talib, Slamet Henkus juga beberapa seniman lainnya.

“Ada beberapa agenda yang akan kita laksanakan, bagian dari Saptawikrama, tujuh strategi budaya Islam Nusantara,” ujar Imron Fathoni, Ketua Lesbumi NU saat ditemui di Rumahnya Sidomulyo kota Batu, Kamis, (14/4/2016).

Seniman kaligrafi ini mengatakan strategi ini dilakukan salah satunya untuk memberikan penghormatan kepada tokoh seni Islami NU.

Salah satu riset yang dilakukan adalah mencari tokoh NU yang memiliki jasa besar terhadap perkembangan seni Islami di Kota Batu.

“Ada beberapa nama yang kemarin sempat mencuat, salah satunya seorang seniman pencak silat di Kelurahan Sisir, kita masih dalami, semoga beliaunya masih sehat wal afiat,” ujar Imron.

Beberapa nama tokoh seni Islami yang muncul terus diinventaris oleh Lesbumi, hingga nanti yang terbaik akan diberikan penghargaan Saptawiratama. Kata dia, diantara beberapa nama yang masuk, ada beberapa nama pejuang yang diduga merupakan tokoh NU yang juga mengembangkan seni Islami.

“Seperti Abdul Gani, Munif serta beberapa nama lainnya, kita menduga bahwa mereka adalah tokoh seni NU yang berjasa mengembangkan dakwah Islam di Kota Batu, tapi kebenarannya masih kita terus lakukan tabayyun,” ujarnya.

Selain itu, Lesbumi juga sedang menyusun konsep seni dengan semangat kebhinekaan, dimana dilakukan penggabungan antara seni tradisi dengan seni Islami atau pun seni dari luar negeri yang bernafas Islami.

Salah satu contohnya adalah penggabungan musik tradisi seperti terbangan dikolaborasikan dengan musik gambus, hingga akhirnya tercipta tarian Yafin yang sebenarnya merupakan tari asli Indonesia.

“Yafin itu tari Indonesia, namun karena selalu dibawakan saat musik gambus, banyak yang mengira kalau tarian itu juga berasal dari Timur Tengah,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here