Berbagai Elemen Bangsa Suarakan Hari Tani Nasional

Reporter: Anam

Bangkalan, Sabtu 1/10/2016 (suaraindonesia-news.com) – Momentum Hari Tani Nasional (24 Sept, Red) menjadi ajang untuk menyuarakan eksistensi pertanian bagi parameter kedaulatan suatu bangsa oleh berbagai lapisan masyarakat baik dari para petani, aktivis juga dari kalangan pemerintah dengan berbagai cara dengan tujuan agar semua elemen bangsa berkenan untuk ikut serta peduli menjaga agar ketahanan pangan terus merangkak naik.

Ir. A. Fanani Kadispertanak Kabupaten Bangkalan disela-sela jam kantornya menyampaikan untuk tahun 2016 ini kuantitas ketersediaan hasil pertanian mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya sehingga ketahanan pangan untuk daerah Bangkalan boleh dikatakan berhasil.

“Barangnya sudah surplus cuman untuk yang tahu angka dan ngitung BKP3 mas, juga angka hasil pangan ini merata apa belum namun secara keseluruhan karbohidarat udah cukup, protein juga sudah tercukupi terutama untuk daging sapi, apalagi disini konsumsi daging sapi masi rendah, buah-buahan juga sudah mencukupi, salak sudah dibuat sirup ama dodol, mangga juga sudah dilatih namun masih kalah dengan yang disualayan, sehingga hasil panennya dibawa ke jawa seperti di kec. Modung setidaknya bisa mencapai 200 truk setiap musim panen dan dikirim ke Jakarta,” tutur Afanani yang juga mantan kepala BKP3 Kab. setempat.

Ditempat berbeda Aditya Roosvianto, S.E Pengamat Ekonomi Kabupaten Bangkalan Jawa Timur menyampaikan Jumat (30/09) semestinya Dinas Pertanian dan Peternakan seharusnya membuka peluang bisnis bagi para petani, karena yang punya akses jaringan luas merupakan dinas terkait,dan jika hal tersebut diterapkan secara maksimal maka dampaknya akan sangat berharga bagi masyarakat petani yang merupakan tulang punggung kedaulatan suatu negara.

Masih menurut Adit, yang juga merupakan salah satu alumnus kampus Unair Surabaya tersebut mengatakan petani diBangkalan masih masuk pada kategori jauh dari ideal untuk dikatakan sebagai petani modern sehingga untuk menunjang pada program ketahanan pangan yang didengungkan oleh pemerintah pusat masih butuh banyak upaya serius dari semua kalangan khususnya dari pemda setempat.

“Pola pikir yang harus dimiliki para petani diBangkalan harus berubah, petani kita harus dibentuk menjadi petani pengusaha, pemilik lahan, penghasil pupuk, punya alat pertanian memadai, gudang penyimpanan, armada untuk regulasi pertanian memadai, jaringan distribusi pemasaran sudah pasti. Dan semua hal tersebut semestinya difasilitasi oleh pemerintah (Dinas Pertanian dan Peternakan, Red) sehingga masyarakat petani kita tidak selalu berkutat pada pola pemikiran petani tradisional,” tutur Adit menjelaskan konsepsi pemikirannya mengenai pertanian didaerah kelahirannya tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here