SAMPANG, Selasa (10/2) suaraindonesia-news.com – Menyikapi banyak ruang kelas Sekolah Dasar (SD) yang ambruk di Kabupaten Sampang, menimbulkan berbagai tanggapan dari elemen masyarakat. Salah satunya, dari seorang Pengamat Pendidikan Drs Achmad Mawardi, M.Pd, mantan Kabid Pembinaan SD Disdik dan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sampang.
Begini tanggapan Achmad Mawardi, yang disampaikan pada media ini. Menurutnya, untuk fasilitas gedung sekolah yang rusak berat dan ambruk, Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan setempat harus tanggap dan hadir, untuk segera merencanakan perbaikan secepatnya.
“Melalui rehab berat/ringan lewat DAU. Bisa juga, menggunakan dana tanggap darurat dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab), jika sangat urgent. Atau segera melaporkan ke Pemerintah Pusat untuk dianggarkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK),” ungkap Achmad Mawardi, yang akrab dipanggil Wawang.
“Tapi sekolah juga harus update Dapodiknya, dengan dilengkapi foto atau video kerusakan sekolah,” imbuhnya.
Wawang menambahkan, jika kerusakan ruang kelas itu ringan seperti plafon yang sudah lepas sebisanya dianggarkan dan direncanakan melalui dana BOS. Agar kerusakan tidak berlanjut sampai fatal.
“Jika memungkinkan, Komite Sekolah bersama sekolah mencari dana CSR perusahaan atau pengusaha yang perduli pendidikan tapi tidak mengikat. Terutama, perusahaan atau pengusaha disekitar sekolah. Tapi, tidak boleh dari perusahaan atau pengusaha rokok,” pungkasnya.
Selain itu, Wawang juga memberi masukan agar sekolah merajut komunikasi yang baik dengan Kepala Desa setempat melalui dana desanya, untuk rehab sekolah yang rusak. Atau berkomunikasi dengan wali murid/orang tua siswa, melalui Komite Sekolah untuk perbaikan sekolah.
“Artinya, jika ini melibatkan partisipasi masyarakat, karena yang sekolah anak anak di desa tersebut,” tandasnya.
Terakhir Wawang menyampaikan, semua saran dan masukan ini dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat untuk bertanggungjawab atas sekolah. Karena, jika fasilitas sekolah baik akan membuat siswa dan wali murid senang.
“Jika Kepala Sekolah selaku manager di sekolahnya norok ngandik (bahasa Madura, red) atau merasa memiliki, maka sedikit kerusakan segera melakukan perbaikan,” himbaunya.












