Bantuan Pugar Untuk Petani Garam Diganti Fisik, LSM Soroti Kinerja Pendamping

Petani Garam Penerima Program Pugar

Sampang, Suaraindonesia-News.Com-Bantuan untuk petani garam dari pemerintah pusat melalui program pugar 2015, tidak lagi berupa uang lewat bantuan langsung masyarakat (BLM), yang masuk ke rekening kelompok petani. Namun, saat ini bantuan untuk petani garam tahun iniprogram pugar berupa fisik sarana dan prasarana saluran serta jalan.

Informasi yang berhasil dihimpun, saat ini program pugar 2015 sudah dimulai, terutama sosialisasi dan identifikasi lapangan. Sementara untuk jalan keseluruhan dimulai pada awal bulan Agustus.

“Program pugar tahun ini sudah dimulai yaitu sosialisasi dan identifikasi lapangan. Sedangkan untuk jalan keseluruhan pada awal Agustus mendatang,” jelas kabid kelautan Moh. Mahfud,Dinas Kelautan, Perikanan dan peternakan.

Mahfud menambahkan, karena saat ini program pugar berupa fisik, dalam pelaksanaannya menggunakan pihak ketiga yaitu rekanan. “Tetapi pekerjaan fisik yang akan dilaksanakan disetiap kelompok (desa atau kelurahan) usulan tetap dari bawah sesuai kebutuhan masyarakat petani garam,” urainya.

Dijelaskannya, jumlah kelompok petani garam penerima program pugar saat ini berkurang. Tahun sebelumnya jumlah penerima pugar sebanyak 297 kelompok. Sementara untuk tahun 2015 ini, jumlah penerima pugar berkurang jadi 253 kelompok.

“Sementara dana pugar tahun lalu 3,5 milyar sementara tahun ini berkurang jadi 2,9 milyar. Tapi, Luasan lahan per kelompok saat ini bertambah. Dahulu dalam 10 hektar, jumlah kelompok 7 sampek 10 orang. Sekarang dalam 10 hektar , jumlah anggotanya 5 sampek 10 orang. Bantuan pugar saat ini tdk berupa uang atau BLM,” imbuhnya.

Sementara Wakil sekretaris GaperA Yepi menilai. Perubahan bantuan program pugar untuk petani garam, dari berupa uang dengan program bantuan langsung masyarakat, berubah jadi fisik agar manfaat bantuan tersebut dirasakan betul oleh petani garam di Kabupaten Sampang.

“Karena selama ini pelaksanaan program pugar lewat BLM, menjadi sorotan karena disinyalir ada permainan dalam pembentukan kelompok di desa atau kelurahan. Sebab untuk kepentingan mencari keuntungan pribadi,” tandas Yepi.

Sementara pendamping pugar jelas Yepi, keberadaanya masih belum optimal dalam membantu meningkatkan kesejahteraan petani garam dengan adanya program pugar.

“Jika program pugar tahun ini diganti fisik, keberadaan pendamping bisa diperbantukan untuk mengawasi pelaksanaan program fisik yang dikerjakan rekanan,” tegasnya. (nor/luk).


Warning: A non-numeric value encountered in /home/suaraindonesia/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 1008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here