Balitjestro Buka Wisata Edukasi Petik Jeruk, Bebas Untuk Umum

Agus Sugiyatno ketua Panitia workshop Pedoman Teknis Produksi Benih Jeruk Balitjestro.

KOTA BATU, Jumat (26/7/2019) suaraindonesia-news.com – Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Tlekung Junrejo Kota kota Batu, Jawa Timur mulai Rabu (24/7/2019) hingga Sabtu (27/7/2019) membuka wisata ekukasi petik jeruk, bebas dan diperuntukan untuk masyarakat umum.

“Jika dirasa jeruk yang sudah masanya panen tetapi buahnya masih ada di kebun Balitjestro maka wisata edukasi petik jeruk, waktunya akan diperpanjang hingga buahnya habis,” Kata Agus Sugiyatno ketua Panitia workshop Pedoman Teknis Produksi Benih Jeruk Balitjestro, saat ditemui di kantornya, Jumat (26/7/2019).

Ia berharap dibukanya edukasi petik jeruk adalah untuk memberikan informasi terkait jeruk, maka diharapkan kepada masyarakat kota Batu, kota Malang dan dimana saja untuk datang ke wisata petik jeruk di Balitjestro, siapa saja boleh karena ini untuk umum. Ini untuk pendidikan wisata petik jeruk.

“Mereka yang datang bisa berfoto ria dan pulang bisa membawa satu kilogram buah jeruk segar plus ada tambahan welcome drink, minuman gratis dari Balitjestro, satu paket kupon masuk hanya Rp 25 ribu ” kata Agus.

Hal senada juga diungkapkan Sutopo Pengelola Taman Sain Pertanian (TSP) Peniliti Balitjestro Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian (Balitbang) bahwa wisata edukasi petik jeruk itu pengunjung akan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan terkait tanaman jeruk.

“Kita memberi edukasi baik itu secara sederhana mengenai varietas cara budidaya pengelolahan, nama penyakit sampai pemasarannya, jadi kira-kira seperti itu wisata petik jeruk diperuntukkan untuk semua masyarakat yang mau menikmati petik jeruk di Balitjestro,” kata Sutopo.

Ia juga menyinggung terkait budi tanaman tanaman jeruk yang paling tepat di kota Batu dan Jawa Timur pada umumnya adalah Sistim Tanaman Rapat (sitara) karena lahan pertanian di Jawa timur dan kota Batu sekarang ini dari tahun ketahun semakin berkurang.

“Yang tepat adalah dengan menggunakan sistem Sitara, karena dengan lahan yang sempit kita dapat menghasilkan produksi yang tinggi, Untuk lahan di kota Batu yang cocok adalah Sitara,” Jelasnya.

Sutopo Pengelola Taman Sain Pertanian (TSP) Peniliti Balitjestro Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian (Balitbang

Sistem ini kata dia, sudah banyak yang menerapkan, selain Jawa timur juga banyak daerah-daerah lain di Indonesia, dengan panen yang berlipat. Dengan system ini 3,5 tahun sudah mulai masa panen hingga umum 20 tahun, dengan catatan pemeliharaan dilakukan secara baik.

“Produksi jeruk di kota Batu secara umum sudah memenuhi kebutuhan, tetapi kebutuhan jeruk di jawa Timur, Jakarta dan kota-kota lain secara umum masih kurang,” ungkapnya.

Reporter : Adi Wiyono
Editor : Amin
Publisher : Mariska

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here