Arist Merdeka Sirait : BT Segera Serahkan Diri dan Bertanggung Jawab Atas Perbuatan Cabulnya, Sebelum Polres Toba Menangkap Paksa

oleh -300 views
Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak saat berada dari Jakarta, Minggu (27/09/2020) memberikan keterangan pers kepada media ini. (Foto : M. Habil Syah/SI).

DELI SERDANG, Minggu (27/09/2020) suaraindonesia-news.com – Binsar Tampubolon alias BT (46), Ketua Panwascam (Panitia Pengawas Kecamatan) Narumonda diduga melakukan kekerasan seksual terhadap keponakan selama 8 tahun untuk segera menyerahkan diri ke Polres Toba sebelum pihak kepolisian menangkap paksa atas kejahatan cabul yang diperbuatnya.

Hal itu di utarakan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dari Jakarta, Minggu (27/09) melalui pesan Whats App miliknya kepada media ini.

Arist mengatakan, BT (46) Ketua Panwascam Narumonda, Kabupaten Toba terduga pelaku kekerasan seksual terhadap ponakannya sendiri selam 8 tahun segera menyerahkan diri sebelum Polres Toba menangkap paksa. Untuk mepertanggungjawakan perbuatan BT terhadap ponakannya (maen kandungnya-red).

“Saya sebagai Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, menghimbau agar saudara BT menyerahkan diri Kepada Polres Toba, sebelum anda di tangkap secara paksa. Kalau anda terus bersembunyi, tindakan anda akan lebih merugikan diri anda sendiri. Seharusnya anda melindungi keponakan anda sendiri, bukan justru merusak masa depan anak sekaligus ponakan (maen-dalam adat Batak), ee..ee..ternyata andalah predatornya yang sudah sepatutnya mendapat hukuman yang setimpal dan luar biasa atas perbuatanmu sendiri,” demikian disampaikan Arist.

“Oleh karenanya menyerahlah dan jangan lari dan terus bersembunyi, bertanggungjawablah,” desak Arist.

Dalam kesempatan ini, Arist mengapresiasi Kasat Reskrimum Polres Tobasa yang telah menemukan dua alat bukti dan setelah melakukan gelar kasus untuk menetapkan BT sebagai tersangka, oleh karenaya, “menyerahlah”, himbau Arist.

“Untuk memastikan proses hukum dan pemulihan Psikologis korban,
saya akan berkordinasi dengan Polres Toba untuk urusan penegakan hukum dan segera membentuk Tim pemulihan dan rehabilitasi sosial korban dan meminta bapak Parlin Sianipar untuk menanggungjawapi sebagai sebagai Kordinator pelaksana Perlindungan Anak di Tobasa,” kata Arist.

Mengingat kasus kejahatan seksual baik dalam bentuk incest, sodomi dan pencabulan terhadap anak terus meningkat dan dilakukan secara perorangan dan bergerombol (Geng Rape) di Tobasa, kata Arist, sementara Tobasa dan sekitarnya merupakan daerah religius dan memegang teguh adat istiadat dalihan natolu, dalam waktu yang tidak begitu lama.

“Tim Komnas Perlindungan Anak mengagendakan bertemu pimpinan daerah, alim ulama dan pemimpin gereja, tokoh adat untuk membicarakan dan mencari solusi terhadap meningkat kasus kekerasan seksual dan pelanggaran hak anak dalam bentuk lainnya yang dilakukan orang terdekat di Tobasa,” tutup Arist.

Reporter : M. Habil Syah
Editor : Amin
Publisher : Ela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *