Amerika membangun pusat penyimpanan data di tempat terpencil, The Utah Data Center, milik National S

oleh -16 views

Moskow, suaraindonesia-news.com – Sebuah pesawat terbang jenis Boeing 737 yang mengalami kecelakaan di bandar udara di Kota Kazan, Rusia, Ahad, 17 November 2013, menyebabkan 50 penumpang yang ada dalam kabin tewas.

Menurut keterangan Kementerian Darurat Rusia, burung besi yang meninggalkan Bandara Domodedovo, Moskow, Ahad, 17 November 2013, ini dua kali mencoba mendarat darurat karena mengalami masalah teknis, namun akhirnya meledak ketika menghantam landasan pacu sehingga 44 penumpang dan enam awak pesawat tewas seketika.

“Pesawat dengan nomor penerbangan U363 ini dioperasikan oleh maskapai Tatarstan,” jelas juru bicara Kementerian kepada media, Ahad, 17 November 2013.

Sejumlah saksi mata mengatakan, Boeing itu kehilangan ketinggian begitu cepat. Sejumlah gambar yang ditampilkan pada layar kaca menunjukkan bangkai pesawat berceceran di lokasi kejadian. Bangkai mulai dipingirkan setelah dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran.

Di antara nama-nama korban tewas, Al-Jazeera menulis, terdapat putra Presiden Tatarstan dan Kepala Dinas Intelijen FSB. Namun nama mereka tak diungkapkan. Kazan terletak sekitar 800 kilometer sebelah timur Rusia. Mayoritas penduduknya beragama Islam. Negara bagian Rusia ini kaya akan minyak bumi.

Maskapai penerbangan regional Rusia dikenal memiliki tingkat keselamatan rendah. Pada April 2012, sedikitnya 31 orang tewas ketika sebuah pesawat penumpang Rusia jatuh tak lama setelah lepas landas di Siberia.

Pada September 2011, sebuah jet Yak-42 yang membawa tim hoki jatuh beberapa menit usai lepas landas dan terbakar di dekat Kota Yaroslavi, Rusia. Insiden ini menewaskan 44 penumpang pesawat.

Rusia dan gabungan negara-negara pecahan Uni Soviet terkenal memiliki rekaman tingkat keselamatan lalu lintas udara terburuk di dunia.

Di negeri ini, menurut catatan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), dalam setahun rata-rata terjadi tiga kali kecelakaan pesawat udara. IATA mengatakan, tahun lalu lembaganya telah memperkenalkan cara memastikan keselamatan udara, namun kecelakaan udara di Rusia dan negara-negara pecahan Soviet tetap meningkat.

 

Sumber : Tempo.Co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *