Langsa-Aceh, Suara Indonesia-News.Com – Ratusan Imigran Gelap asal Bangladesh dan Myanmar telah diselamatkan oleh nelayan di perairan aceh, begitu juga kedatangan imigran tersebut pemerintah daerah mengambil kebijakan atas nama kemanusian turut memperlakukan mereka secara baik di beberapa tempat penampungan seperti aceh timur, kota langsa dan aceh tamiang.
Kehadiran pengungsi rohingya yang sudah tertapung di Desa Bayeun Keude, Kecamatan Ranto Selamat, Kabupaten Aceh Timur. kondisi mereka sudah sangat memadai, bahkan diberikan pelayanan bagaikan Raja terhormat.
Kucuran bantuan terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat, baik dari badan organisasi PBB yang mengurusi pengungsi (United Nation High Commissioner for Refugees). Demikian disampaikan oleh sejumlah pemerhati sosial yang namanya enggan untuk disebutkan. Selasa, (2/6).
Kabarnya Pemerintah Daerah tak tanggung-tanggung melayani para Warga Negara Asing tersebut, dari memberikan tempat perlindungan, hingga menyiapkan makanan untuk tiga kali sehari. Tetapi ironisnya yang di duga pemerintah terkesan mengabaikan masyarakatnya sendiri, faktor ekonomi kehidupan rakyat aceh masih banyak di bawah garis kemiskinan.
Ada pemandangan yang menggiris hati nurani pemerhati sosial di sekitar penampungan warga negara asing (WNA), anak-anak warga setempat terlihat berjuang melawan beratnya kehidupan, sehingga harus memungut botol air aqua hasil buangan sampah imigran gelap.
Seharusnya seusia dia, masih bermain dengan teman-teman ataupun belajar di rumah, tapi apa hendak dikata anak tersebut bisa jadi untuk kebutuhan makan dia berjuang demi meringankan beban keluarga yang harus dipukul.
“Namun karena keadaan terpaksa anak-anak ini kehilangan masa bermainnya,” sebut warga pada wartawan untuk di publikasikan sebuah penomena kehidupan masyarakat aceh yang masih dalam ketepurukan ekonomi.
Warga lain melanjutkan, seharusnya pemerintah tidak mengabaikan masyarakatnya sendiri. Karena kondisi seperti ini sangat mengecewakan warga setempat,” pemerintah perlu buka mata terhadap kondisi rakyatnya yang berada dibawah kemiskinan disekitar kita”
Jatah makan siang dan malam hari, para imigran terus berebutan jatah makanan yang tersedia, sedangkan anak-anak warga setempat dilokasi tersebut, yakni anak – anak pemulung yang kerap keluar masuk jadi memungut sampah aqua, terkesan tidak mendapat perhatian untuk sepiring nasi.
Ia hanya melihat saja dan memungut botol bekas air mineral (aqua) walaupun bocah tersebut dalam keadaan lapar sambil melihat pengungsi.
Di hari yang sama, ketika Wartawan menemui Saiful selaku petugas menjaga barang bantuan tersebut, yang berdatangan dari masyarakat maupun pemerintah Aceh Timur mengatakan, “logistik untuk setengah tahun ini masih aman, karena penyediaan ada dua tenda lagi yang belum dibuka,” ujarnya.
Sementara itu, pantauan Wartawan di lokasi penampungan. Ternyata para WNA asal Banglades terkesan sangat pemalas dan jorok, pasalnya tempat tidur mereka kita melihat sengaja dibiarkan begitu saja bagaikan sampah yang menumpuk, sangat berantakan persis gelandangan, bahkan kumuh, aduh dimana kesadaran mereka.
Dalam hal menyikapi permasalahan pengungsi yang dilayani oleh pemerintah daerah setemat. disisi lain perlu diberikan perlindungan suaka politik khususnya etnis Myanmar yang terancam konflik di negaranya.
Lanjut cerita bagaimana dengan imigran banglades di penampungan, apakah mereka seterusnya diberikan pelayan bagaikan raja dan kapan mereka dideportasi (di pulangkan – red) ke negaranya.
Sementara banglades bukan negara konflik kehadiran mereka kemari hanya sebagai pencari kerja, kehidupan Banglades tidak seperti penderitaan yang dirasakan pahit muslim myanmar kebanyakan diantaranya anak – anak dan wanita mencari suaka politik demi mendapatkan perlindungan di indonesia. (RH).












