Sumenep, Suara Indonesia-News.Com – Menjelang Konfrensi Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Sumenep yang bertepatan dengan Momen Pilkada, Bisa dipastikan kepentingan Politik akan mengalir ke tubuh NU Sumenep. Para Calon Pemimpin NU sumenep akan terus didekati oleh Para pemain Politik. Lantas, Kemana arah NU Kedepan?
Pernyataan tersebut disampaikan Addarori Ibnu Wardi, pengamat politik Sumenep, menurutnya, secara Garis besar, Pengaruh didalam tubuh NU sendiri terpecah-pecah.
“Saya meyakini 100% warga NU tidak sepenuhnya PKB, ataupun PPP. Kenapa? Suara Nahdliyin menjadi terkubu pada loyalis Ramdlan Riradj, Ilyasi Siradj, dan Imam Hasyim,” Ucap Ibnu, panggilan akrab Addarori Ibnu Wardi.
Sebab menurut aktifis GMNI ini, 3 Bersaudara ini selain pernah mencicipi asam pahitnya bersama NU, Beliau juga menjadi Tokoh Politik disumenep. Selanjutnya, K.H Unais Ali Hisyam, beserta keluarganya, Dewi Khalifah khususnya Muslimat, dan Wafiqoh Jamilah. Tak Lupa, NU wilayah barat yakni Annuqayah Sentris. Tutur Ibnu.
Ibnu menambahkan, Lantas, Bagaimana dengan arah Politik disumenep? Kita dengan jelas, Figur NU yang mencalonkan diri menjadi tokoh penting di NU. Dewi Khalifah bisa dipastikan akan mendapatkan 40% Suara Muslimat. Suara Unais Ali Hisyam sampai saat ini masih belum jelas arahnya. Bisa jadi, Beliau juga akan menjadi bagian Dari cabub atau cawabub.ujar Ibnu.
Sementara menurut Ibnu, Annuqayah? Seperti Biasa dalam politik, para Ulama’ di Annuqayah mempunyai pandangan politik yang berbeda-beda. Sama halnya Tahun ini. Sebab, Ilyasi Siradj, Ramdlan Siradj juga mempunyai pengaruh di lingkungan Annuqayah.
Ia menambahkan, sementara suara Ramdlan Siradj, Ilyasi Siradj, pengaruh politiknya tidak sama. Jika Ramdlan dengan para loyalisnya, Ilyasi dengan 5 Kursi Gerindra dan Konstituennya. Sama-sama menjadi masakan yang menggugah selera untuk suara para beliau.
“Kemungkinan Besar, suara Ramdlan Siradj tidak akan sama dengan suara PKB,”Ucapnya.
Saat ditanya, bagaimana dengan PKB itu sendiri? PKB itu sendiri hemat saya juga tidak akan utuh ke K. Busyro. Meskipun ada isu A dan B, tapi kemungkinan Rekom PKB jatuh ke Incumbent. Hanya saja, didalamnya akan kocar kacir, Jelas Ibnu.
“Busyro sendiri mungkin akan lebih memainkan Peran PDI-P itu sendiri ketimbang dengan mengais suara NU,”jelasnya.
Ibnu berharap, untuk Konfrensi NU, semoga saja para calon tetap bisa menjalankan NU sebagai Organisasi Kebangsaan yang tanpa Intervensi oleh kelompok Manapun. Karena menurut Ibnu, jika Flash Back ke belakang, NU adalah Ormas yang bukan Milik PKB, PPP, Demokrat atau partai apapun.
“Anggapan Judul Buku “Partai NU Ya PKB” maka jika mengacu pada hasil Muktamar Situbondo, NU Kembali Ke Khittah. Cara Berpolitik di NU sendiri bukan lagi cara bermain di Politik praktis. Tapi, pada tatanan Politik Kebangsaan,” Tukas Ibnu.
Sementara, Mulyadi Aktifis LSM Petir (Peduli Tuntutan Nurani Rakyat) berharap, supaya Nahdlatul Ulama (NU) tidak dijadikan ajang kepentingan politik apalagi sudah mendekati momen Pilkada.
“Saya hanya berharap, NU jangan di seret-seret ke ranah politik,” Harap Mulyadi singkat.
Seperti diketahui, puncak dari rangkaian konferensi NU Sumenep pada tanggal 29 – 30 Agustus yang di tempatkan di Pondok Pesantren Al – Ihsan Desa Jeddung, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Madura, Jawa Timur. (Zaini).












