Ada Apa Dengan Gampong Pande, Geuchik Ditekan BPD Bubar

oleh -704 views
Foto: Suasana rapat bersama di Gampong Pande Kecamatan Tanah Pasir Kabupaten Aceh Utara

ACEH UTARA, Rabu (25/01/2023) suaraindonesia-news.com – Dugaan mempolitisir kenyamanan desa terjadi di Gampong Pande, Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara. Benarkah Camat dan Sekcam jadi Dalang?

Menurut salah satu mantan Geuchik, HH (inisial) diduga telah menggiring opini massa terutama kalangan pemuda hingga memecahkan kenyaman dan kekerabatan desa dengan dalih Geuchik tidak memiliki tatakrama.

Ironisnya, Camat dan Sekcam setempat diduga sebagai dalang permasalahan dari permasalahan itu.

Beberapa fakta yang terjadi akibat pembiaran, dimana Tuha Peuet terorganisir mengundurkan diri dari jabatan ketua, wakil ketua dan para anggota. Pun demikian yang terjadi dengan sejumlah aparatur desa. Beberapa diantaranya diberhentikan oleh Geuchik seperti mantan Sekdes dan Kadus karena dinilai privokatif dalam menjalankan tugas pemerintahan desa.

Gampong Pande merupakan salah satu desa yang sempat dikunjungi oleh Menteri Desa A. Halim Iskandar pada tahun 2020 lalu. Desa ini dipilih setelah Teleconfrens pada tgl 7 Januari 2020 Kemendes RI pada start awal jabatan Geuchik De Junaidi alias Geuchik Deje.

Sekelompok orang diduga telah melaksanakan beberapa kali rapat gelap dengan tujuan untuk melengserkan pemerintah Deje.

Mereka (sekelompok provokatif) memperkeruh suasana masyarakat, sekelompok masyarakat terkait juga telah mendemolisasi warga menghadiri rapat mendadak dimeunasah. Camat bersama muspika lainnya alih-alih hadir karena sebuah surat undangan silaturahmi yang dibuat oleh oknum mantan Geuchik HH menggunakan kop desa. Mirisnya, hal itu dilakukan saat Geuchik sedang tidak berada di desanya.

Kejadian tersebut kembali mengungkit
Polemik Gampong Pande, Kecamatan Tamah Pasir, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (24/01/2022). Mengatasnamakan tokoh masyarakat, seorang mantan Geuchik juga menyurati Muspika dengan bertajuk undangan silaturahmi, camat dan muspika plus lainnya menghadiri undangan tanpa sepengetahuan Geuchik.

“Saya lagi di Banda Aceh, saya terkejut kok baru saja sebentar saya tinggal, ada pihak yang berani mengadakan rapat desa,” kata De Junaidi, Geuchik Gampong Pande yang sengaja pulang dari Banda Aceh bertepatan jam acara silaturahmi yang dimaksud.

Sepenggal voice suara auto record Geuchik menguak pernyataan mantan Sekdesnya, jika Camat Fahri, menyuruh mereka untuk membuat mosi tak percaya. Alasannya, hanya dengan mosi tak percaya tersebut, Geuchik dapat dilengserkan.

“Untuk menjatuhkan Geuchik tidak ada celah karena tidak melakukan hal yang dapat melanggar hukum, jika memang mau diupayakan, maka buat surat Mosi Tak Percaya,” kata mantan Sekdes kepade Deje via telp.

“Itu kata Camat dan Pak Jol (Zulkifki Sekcam Tanah Pasir,” lanjutnya.

Camat dan Muspika gagahnya hadir, terlibat dari Koramil, Polsek dan pejabat seksi kecamatan mendampingi camat dalam pertemuan silaturahmi yang berlangsung di Meunasah Pande.

“Kami tidak tau ada masalah apa-apa, yang kami dengar Geuchik ada masalah dengan sejumlah pemuda. Kami hanya diundang hadir,” kata seorang ibu rumah tangga, warga setempat saat dikonfrimasi.

Hal senada juga disampaikan oleh warga lainnya, pria yang mengenakan kaos oblong warna besar bercelana jean itu menuturkan, warga tidak mengetahui apa tujuan rapat tersebut.

“Yang kami pahami, di desa telah pecah menjadi tiga kelompok,” kata pria itu tanpa menjelaskan kelompok apa yang dimaksud.

Dalam acara silaturrahmi, Rabu (25/01) perwakilan kelompok yang mengatasnamakan masyarakat menyampaikan keluhan kepada Muspika terkait beberapa kinerja geuchik yang dinilai lalai dalam menjalankan tugas.

Salah satu perwakilan yang mengatasnamakan massa Gampong Pande, Nazaruddin, kepada media ini mengatakan bahwa kehadiran sejumlah warga berkumpul di Meunasah untuk menyampaikan somasi kepada Geuchik dan bertujuan melengserkan Geuchik.

“Selama 2 tahun terakhir kinerja Geuchik sangat mengecewakan, banyak kegiatan masyarakat yang di abaikan,” ujar Nazaruddin.

Akibat tidak sinkron, kata Nazarudin, semua TPG dan dua perangkat desa telah mengundurkan diri. Iapun bersama yang lainnya mendesak Geuchik untuk istirahat dari jabatannya.

“Karena kondisi desa vakum, kita mendesak Geuchik untuk istirahat,” tegas mantan Sekretaris TPG itu.

De Junaidi dari ibu Kota Banda Aceh, sengaja menghubungi suaraindonesia-news.com, ia mengaku tidak tau harus melaporkan kemana masalah ini. Berhubung Muspika setempat bukan menyelesaikan masalah tapi menfasilitasi masalah desa.

Kendatipun demikian, Deje dari Banda Aceh dengan jarak tempat 7 jam perjalanan, pulang atas kabar tak sedap, bahwa warga diundang hadir rapat tanpa sepengetahuannya. Katanya, warga mengumumkan rapat dengan cara mengarak keliling Gampong oleh sejumlah pemuda menggunakan becak motor.

Hal ini dibantah keras oleh Geuchik Pande, De Junaidi, saat dikonfirmasi media ini mengatakan, polemik yang terjadi di desa nya karena ada beberapa orang yang memperkeruh suasana dan memanfaatkan peluang disaat dirinya berada diluar desa. Camat setempatpun dituding memfasilitasi polemik di Gampong Pande.

“Banyak hal yang terjadi di Gampong Pande sejak 2020, Camat tidak pernah menyelesaikan masalah desa kami. Sehingga, hal ini terus memperburuk kondisi masyarakat yang termakan isu yang tidak benar,” katanya.

Menurutnya, akibat hasut fitnah sistem yang buruk yang ditenggarai oleh Muspika setempat, menyebabkan semua Tuha Peuet (BPD) di desanya mengundurkan diri, karena dipengaruhi oleh bahasa-bahasa yang buruk dari sekelompok orang.

“Saya menemukan kabar, kalau Camat kami menyarankan warga untuk membuat surat somasi, untuk melengserkan saya. Sementara kami pemerintah desa sedang menghadapi pandemi yang dahsyat, hal ini saya temui dari mantan sekdes saya,” kata Geuchik Pande.

“Dinamika dalam masyarakat hal lumrah, ada yang puas, ada yang tidak puas, tapi jangan diprovokasi,” ujar De Junaidi.

Menanggapi hal itu, Camat Tanah Pasir Fahri menuturkan, jika pihaknya telah menyelesaikan persoalan Somasi, namun kehadiran mereka hari ini hanya bersilaturahmi denga warga yang mengundangnya dengan selembar undangan kop desa tanpa legalitas Geuchik setempat.

“Somasi ini telah selesai, jadi tidak ada masalah lagi. Kita udah menyelesaikan. Dan kemarin kita hadir hanya karena undangan warga bersilaturahmi,” katanya, singkat saat dihubungi terpisah oleh media ini.

Reporter : Efendi Noerdin
Editor: Wakid Maulana
Publisher: Nurul Anam

Tinggalkan Balasan