Oleh: Bambang Prayitno (Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Pimpinan Nasional Keluarga Alumni KAMMI)
Ditulis di Jakarta, 1 Maret 2017.
JAKARTA, suaraindonesia-news.com – Kedatangan Raja Salman, Pemimpin Kerajaan Arab Saudi sekaligus pelayan dua kota suci ummat Islam ke Indonesia pada tanggal 1 hingga 9 Maret 2017 ini disambut beragam oleh publik Indonesia. Sebagian masyarakat menyambut dengan antusias penuh kegembiraan dan sebagian masyarakat Indonesia menyambut sinis nan pesimis.
Dalam rilis yang disampaikan kepada media, kedatangannya ke berbagai negara Asia bertujuan untuk melakukan penjajagan investasi dan melakukan berbagai kerjasama dalam bidang ekonomi, sekaligus membahas permasalahan dan isu dunia Islam dengan beberapa negara Asia.
Sinisme publik yang muncul itu memang bukan tanpa alasan. Kerajaan Arab Saudi memang sedang dirundung masalah ekonomi dalam negeri. Akibat harga minyak yang terjun bebas, GDP negara turun drastis setiap tahunnya sebesar USD 53 miliar dollar. Sementara hutang negara naik rata-rata USD 50 miliar setiap 5 tahun.
Tercatat pada tahun 2010, hutang nasional KSA mencapai USD 44,5 miliar, pada tahun 2017 diperkirakan oleh banyak pengamat akan menembus USD 100 miliar. Ini situasi yang tak mudah. Dalam situasi ini, maka mau tak mau KSA harus merumuskan “exit-strategy” dari situasi krisis dalam negerinya.
Dimulai dari kebijakan dalam negeri, mulai pengetatan pengeluaran negara, memangkas subsidi kebutuhan energi, memotong gaji seluruh pegawai dengan variasi berbeda, peningkatan transparansi, hingga pengurangan pengangguran dengan persentase yang signifikan setiap tahunnya. Juga kebijakan luar negeri, seperti membangun linkage bisnis baru di Asia dan Eropa dengan orientasi pada sektor energi, manufaktur, petrochemical, dan berbagai potensi lainnya.
Obsesi Masa Depan Arab Saudi
Ditengah potensi krisis ekonomi yang mendera, KSA seperti ingin membuat perubahan yang besar. Dokumen berjudul “KSA Strategic Vision 2030” seolah seperti dokumentasi mimpi dan obsesi masa depan Arab Saudi yang berbeda dari sebelumnya.
Ada hal yang menarik untuk disimak. Dalam kalimat pengantar dokumen resmi kerajaan berjudul ‘KSA Strategic Vision 2030’ itu, Chairman of the Council of Economic and Development Affairs KSA Mohammad bin Salman bin Abdulaziz Al-Saud menuliskan sebuah kalimat inti dari Arab Saudi Masa Depan;
“All stories start with a vision, and successful visions are based on strong pillars. The first pillar of our vision is our status as the heart of the Arab and Islamic worlds. The second pillar of our vision is our determination to become a global investment powerhouse. The third pillar is transforming our unique strategic location into a global hub connecting three continents, Asia, Europe and Africa”.
Arab Saudi sedang mendefinisikan langkah kakinya di masa depan. Pijakan itu mereka sebut sebagai “The strong pillars”. Pertama, menabalkan dirinya sebagai representasi Arab dan dunia Islam. Visi ini terkonfirmasi saat lawatan sebelumnya di Malaysia (27/2).
Dalam sebuah pidato di depan para pemimpin negara dan bangsawan Malaysia, Raja Salman mengatakan bahwa Arab Saudi akan berdiri dengan komunitas slam dunia, menjadi penyelesai berbagai isu dan masalah terkait agama yang terjadi di dunia.
Kedua, menetapkan diri menjadi powerhouse investasi global. Arab Saudi ingin negaranya menjadi lokomotif ekonomi kawasan dengan berjalannya berbagai perusahaan raksasa terutama dalam pengelolaan emas gold, fosfat, uranium, dan berbagai industri pengolahan mineral potensial di masa depan. Arab Saudi juga akan mengembangkan diri pada penyediaan kebutuhan air dan pangan di negara sekitarnya.
Ketiga, Arab Saudi ingin menjadi pusat bertemu dan menghubungkan jaringan perdagangan tiga kawasan; Asia, Eropa dan Afrika. Ketiga kawasan ini memang potensial dipertemukan dalam berbagai kepentingan ekonomi, karena modal, sumberdaya, teknologi dan manusia bertemu dan tersedia.
Kepentingan Dunia Islam
Lompatan visi masa depan Arab Saudi ini tentu saja harus kita sambut gembira. Indonesia memiliki kepentingan luar biasa atas keberadaan Arab Saudi. Walaupun belum menjadi mitra bisnis termuka, jauh di peringkat ke 50-an dalam daftar negara yang melakukan investasi ke RI, Arab Saudi sudah menunjukkan komitmennya untuk lebih serius bekerjasama dengan negara-negara Islam.
Jokowi sebagai Presiden dari negara Islam terbesar dunia harus membaca berbagai kesempatan ini. Beberapa kesempatan kita dari Arab Saudi adalah, pertama, kepentingan atas hajat ummat Islam atas akses pada dua kota suci. Besaran kuota haji dan umroh adalah keniscayaan agar kita tak mengulangi kasus haji ilegal yang marak serta koordinasi pelaksanaan penyelenggaraan haji yang labih sempurna.
Kedua, kepastian hukum dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Hal ini mendesak untuk dibicarakan, karena kasus kekerasan tenaga kerja informal dan potensi perdagangan manusia (human trafficking) asal Indonesia justru terbesar kasusnya di Arab Saudi. Arab Saudi juga memerlukan TKI. Dan kita memerlukan jaminan keselamatannya.
Ketiga, kerjasama ekonomi yang lebih maju dari tiga dekade ini, terutama terkait kebutuhan Arab Saudi bagi penyediaan pangan di kawasan yang bisa dipasok oleh Indonesia. Rencana diveesifikasi ekonomi Arab Saudi dengan rencana masuknya mereka ke Industri ekstraktif dan petrochemical juga bisa menjadi pemicu kita untuk menawarkan lebih banyak peluang.
Keempat, terkait kemanusiaan dan perdamaian dunia Islam, dimana Arab Saudi berkomitmen untuk menyelesaikan masalah Islam dunia. Berbagai konflik di kawasan Asia Tenggara dan Semenanjung Arab. Konflik berkepanjangan di Yaman, Suriah dan Palestina adalah konflik yang pantas kita sematkan tanggungjawab penyelesaiannya ke Arab Saudi. Kasus kekerasan rasial di Rohingya dan Thailand Selatan yang melibatkan ummat muslim setempat perlu dirumuskan oleh Indonesia dan Arab Saudi.
Kelima, terorisme yang berkembang secara massif di Afrika dan Asia, serta menjadi bahaya laten di Asia Tenggara, terutama Indonesia adalah masalah serius bagi Islam dunia. Perlu langkah-langkah strategis dan kolaborasi yang apik dalam hal informasi intelijen, kerjasama militer dan pendidikan deradikalisasi di basis-basis pendidikan Islam dan di tengah masyarakat agar terorisme berkedok Islam bisa kita hilangkan.
Keenam, masalah pengungsian adalah tema kemanusiaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Ditengah gelombang penolakan imigran asal Arab dan negara Islam dari beberapa negara Eropa dan Amerika, tanggungjawab menyelesaikan masalah imigran adalah tanggungjawab mulia yang harus diinisiasi penanganannya. Turki sudah sangat serius bergerak. Kolaborasi bersama Arab Saudi bisa menjadi setengah solusi masalah pengungsi muslim. Tentu saja, kita tetap harus mendesak PBB dan badan kemanusiaan dunia untuk bersikap dan menyelesaikan masalah ini.
Satu Warisan Berharga
Dalam penutup Mukdimah “KSA Strategic Vision 2030”, Arab Saudi juga menegaskan bahwa kekayaannya yang paling berharga selain minyak dan kekayaaan alam lainnya adalah anak-anak muda yang mereka harapkan menjadi arsitek masa depan Arab dan dunia. Harapan ini menegaskan kepada kita akan komitmen Arab Saudi pada masa depan negerinya yang lebih terbuka, demokratis dan mampu terkoneksi dengan baik dengan seluruh komunitas muslim dunia.
Komitmen Arab Saudi adalah sinyal menarik untuk kita sambut, dimana kita, anak-anak muda Indonesia, seharusnya bisa lebih mampu mendekatkan diri dengan anak-anak muda dari Arab Saudi terutama dalam menjalin hubungan kerjasama pemuda, membangun pengertian akan masa depan bersama, saling bertukar ide tentang pembangunan manusia, dan saling bertukar gagasan tentang tata dunia baru yang menjadi cita peradaban.
Dunia telah berubah cepat. Anak-anak muda tak lagi menunggu. Keluarga Alumni KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), organisasi pemuda Islam, aktivis masjid dan pesantren harus segera mengembangkan jejaringnya dengan komunitas pemuda muslim di Arab Saudi. Kita sedang mempersiapkan wajah masa depan kita.
