Reporter : Rusdi Hanafiah
Langsa-Aceh: Suara Indonesia-News.Com – Pimpinan Dayah Futuhul Muk’arif Furu’ Tsani Al-Aziziyah,” Tengku Moerdani, menjelaskan untuk diketahui oleh semua masyarakat daerah pada dasa warsa sekarang ini, awal pendirian balai pengajian (dayah) sudah ada di masa Dulu sewaktu aceh ini dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Demikian keterangan sejarah yang dihimpun SI, dari Tengku Moerdani, Sabtu lalu (23/1).
“Santri pertama yang mengikuti ajaran islam di masa doeloe adalah Sultan Iskandar Muda yang diajarkan oleh seorang tengku berasal dari Arab, maka diberi nama kepada pembawa ajaran Islam itu, disebut Tengku Arab.
Begitulah cerita asal mula berdirinya dayah di aceh, pada abad ke 18 doeloe yang di pimpin Sultan Iskandar Muda, Sultan Iskandar Muda, mengajak rakyat bersatu bahu, memotong kayu di tengah hutan bersama rakyat mendirikan dayah pertama sejak itu. ” Ujar Tengku Moerdani.
Sultan Iskandar Muda setelah mengusai ilmu dalam ajaran islam dibawah asuh tengku Arab, karena Sultan Iskandar Muda dari anak raja turun temurun maka memimpin aceh saat itu setelah mengusai kitab ilmu Falachk, sehingga mendirikan tempat pengajian yang dulu di berikan nama “DIAH” ada pun dari kata itu dari bahasa arab,” Yakni sekarang ini lebih melekat dibibir rakyat aceh disebut Dayah.
“Sebutan dayah karena lidah masyarakat daerah sering terpelintir bahasa yang sehari – hari dihunakan di daerah aceh, sebutan nama Diah ( menjadi dayah-red) begitulah ucapan masyarakat daerah di zaman tempo Doeloe, ” yang terlalu kental menyebut Dayah. ” Papar Tengku Moerdani.
Tausiah berdirinya Dayah Futuhul Mu-arif Futu’ Tsani Al Aziziyyah dijelaskan oleh pimpinan Dayah Tengku Moerdani, turut dihadiri Walikota Langsa, Kapolres Langsa AKBP Sunarya SIK, Pimpinan DPRK dan para tokoh agama di Langsa.
“Pimpinan Dayah Futuhul Mu’arif Furu’ Tsani Al-Aziziyah. Berulangkali menyampaikan keberadaan lahan seluas 2 hektar itu, sangat berharap kepada pihak pemerintah daerah tentang kejelasan pembesan lahan tersebut, yang sudah diperuntukan untuk podok pesantren (dayah-red) karena itu, Pimpinan dayah meminta DPRK Langsa untuk segera memperjelas lahan itu.
Dayah dalam bahasa Aceh mengandung arti tempat belajar dan tempat menginap para santri. Bila di daerah pulau jawa sangat di kenal dalam sebutan Pondok Pesantren.












