Pamekasan, Suara Indonesia-News.Com – Aktifis anti korupsi Madura Kompak (MAKO) terus menyoroti dugaan Manipulasi Data (Mark Up) siswa yang terjadi di SMA PGRI Larangan Pamekasan. Sebab, dari hasil Monitoring terhadap lembaga tersebut menyatakan data yang diajukan dan fakta dilapangan tidak sesuai.
CSO Madura Kompak melalui Ketuanya, Akhmad Riadi mengatakan, sudah menjadi rahasia Umum jika proses KBM di SMA PGRI Larangan Pamekasan Nyaris tidak ada. Sayangnya, Dinas Pendidikan Pamekasan yang sudah mengetahui Persoalan itu terkesan tutup mata.
“KBMnya nyaris tidak ada, tapi bantuannya terus mengalir kesekolah itu.” Ujar Akhmad Riadi, Rabu (11/11/2015).
Bahkan pihaknya mengatakan, anggaran Operasioanal penerimaan Peserta didik untuk SMA PGRI tersebut mencapai 27 siswa. Faktanya, siswa yang tercatat mengikuti kegiatan KBM hanya mencapai 2-3 siswa saja.
“Seharusnya Dinas Pendidikan segera ambil sikap, sebab jumlah siswa itu sangat menentukan, baik bagi sertifikasi guru, maupun anggaran dana BOS, kalau muridnya tidak ada dan KBM tidak berjalan sebaiknya ijin operasionalnya gak usah terus diperpanjang, kalau perlu cabut”. Ujarnya
Pihaknya juga berjanji untuk terus melakukan kroscek dilapangan, bahkan pria yang akrab disapa adie ini akan melaporkan apabila ada temuan pembekakan anggaran yang disiasati dengan mark up data siswa.
Sementara Kepala Bidang (Kabid) Dikmen, Moh Tarsun melalui sambungan telfon menjelaskan bahwa sekolah Tersebut merupakan tempat penampungan siswa yang dikeluarkan oleh sekolah Lain, dan tarsun mengatakan bahwa hal itu sangat membantu.
“Ya saya, sudah banyak tau kalau di SMA PGRI Larangan itu aktivitas KBM nya jarang, bahkan kami berinisiatif kalo izinnya tidak akan kami perpanjang,karena dulunya sekolah itu sebagai vilial atau penampungan bagi siswa yang nakal dan dikeluarkan dari sekolah ya ditampung disana”. Jelasnya
Untuk diketahui SMA PGRI yang beralamat di Desa Montok, Kecamatan Larangan tepatnya disebelah barat wisata talang siring tersebut tiap harinya hampir tidak ada kegiatan KBM dan siswa di sekolah tersebut hanya dua sampai lima orang saja sedang guru yang ada di sekolah tersebut kurang lebih sekitar 16 orang guru.(Ibnu).












