JAKARTA, Sabtu (18/4) suaraindonesia-news.com – Satgas Penegakan Hukum (Gakkum) Penyelundupan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri berhasil memutus rantai distribusi pangan ilegal di Kalimantan Barat.
Dalam sebuah operasi senyap yang dilakukan pada 13 April 2026, Korps bayangkara menyita sedikitnya 23,1 ton komoditas bawang dan cabai kering hasil penyelundupan di Kota Pontianak.
Langkah tegas ini merupakan respon cepat atas instruksi Presiden RI kepada Kapolri untuk menyikat habis praktik penyelundupan yang merugikan keuangan negara dan mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Petugas menyisir dua lokasi strategis di kawasan Pontianak Selatan, yakni sebuah bangunan di Jalan Budi Karya No. 5 dan sebuah ruko di Kompleks Pontianak Square. Di sana, tim menemukan ribuan karung komoditas pangan yang masuk tanpa izin resmi.
Dirtipideksus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak, merinci bahwa total barang bukti yang diamankan mencapai 23.146 kilogram.
“Kami menemukan berbagai jenis bawang dan cabai kering. Di lokasi pertama tersimpan sekitar 10,35 ton, sedangkan di lokasi kedua tim mengamankan 12,79 ton komoditas ilegal,” ungkap Ade Safri dalam keterangan resminya.
Hasil investigasi sementara mengungkap bahwa barang-barang tersebut berasal dari lintas negara. Diantaranya, bawang merah asal Thailand, bawang putih dan cabai kering dari China, bawang bombai dari Belanda, hingga varian merah berry dari India.
Seluruh komoditas ini diduga kuat diselundupkan masuk ke Indonesia melalui perbatasan Malaysia.
“Dugaan kami, barang-barang ini masuk ke wilayah Kalimantan Barat melalui jalur negara tetangga secara ilegal,” tambah Ade Safri.
Meski telah mengamankan puluhan ton barang bukti, Polri tidak berhenti di situ. Saat ini, penyidik tengah membidik tiga lokasi lain yang diduga menjadi gudang persembunyian jaringan penyelundup ini.
Untuk mengamankan barang bukti, polisi telah memasang garis polisi di tempat kejadian perkara (TKP) dan menitipkan ribuan karung pangan tersebut ke gudang Perum Bulog Pontianak.
“Komitmen kami jelas, penegakan hukum tanpa kompromi terhadap penyelundupan. Ini bukan sekadar masalah perdagangan, tapi soal melindungi kedaulatan ekonomi dan mencegah kebocoran penerimaan negara,” tegas jenderal bintang satu tersebut.












