Peternak Ayam Mandiri Pantura Makin Terhimpit Akibat Kuota DOC Belum Merata - Suara Indonesia
BeritaEkonomi

Peternak Ayam Mandiri Pantura Makin Terhimpit Akibat Kuota DOC Belum Merata

Avatar of admin
×

Peternak Ayam Mandiri Pantura Makin Terhimpit Akibat Kuota DOC Belum Merata

Sebarkan artikel ini
IMG 20260220 151224
Foto: Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam (sumber: /.net).

PATI, Jumat (20/02) suaraindonesia-news.com – Kegelisahan menghinggapi para peternak ayam mandiri di wilayah Kabupaten Pati. Hal itu akibat dari sistem penyaluran Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam, yang mereka nilai, masih jauh dari kata adil.

Kondisi ini mendorong para peternak yang tergabung dalam Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP), berencana turun aksi sebagai bentuk protes atas ketimpangan yang terjadi.

Peternak mandiri asal Pati, Barry mengungkapkan, posisi peternak lokal saat ini berada di titik paling lemah dalam rantai distribusi DOC.

Ia menilai, kuota bibit ayam kerap tidak dibagikan secara merata; dan lebih banyak mengalir ke kalangan internal ataupun relasi bisnis tertentu.

“Sementara, peternak kecil justru harus berebut sisa kuota dengan harga yang lebih mahal dan persyaratan yang tidak seimbang”, ungkap Barry, Jumat (20/02/26).

Akibat kondisi itu, tambah dia, banyak peternak terpaksa menunda masa produksi atau pembelian DOC, dengan kalkulasi biaya yang lebih tinggi.

Situasi itu, lanjut Barry, berdampak langsung pada menurunnya pendapatan peternak mandiri, serta mengancam keberlangsungan usaha mereka yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat pedesaan.

Persoalan ini sejatinya sudah pernah dimediasi pada November 2025 lalu, antara peternak bersama kepala daerah dan integrator besar.

Dalam forum itu, integrator berkomitmen memenuhi kebutuhan DOC bagi peternak mandiri secara adil. Namun, kenyataan berbeda di lapangan, sehingga membuat kekecewaan para peternak.

“Distribusi DOC yang dijanjikan belum mendekati persentase yang sesuai aturan, sehingga kesepakatan yang sempat dibuat hanya berhenti sebagai janji formal tanpa implementasi nyata”, tegasnya.

Problematika itu yang akhirnya mendorong para peternak berencana menggelar aksi, pada Senin (23/02), di depan pintu gerbang perusahaan pembibitan ayam milik integrator besar, di wilayah Kecamatan Pucakwangi.

Ratusan peternak disebut akan bergabung menyuarakan rasa kecewanya atas apa yang mereka sebut sebagai dominasi korporasi besar dalam distribusi bibit ayam.

PPMP menegaskan, rencana aksi bukan sekadar luapan emosi, melainkan ungkapan suara kegelisahan atas ketimpangan yang berulang.

Mereka merasa hanya dijadikan pelengkap dalam ekosistem industri perunggasan, bukan lagi sebagai mitra sejajar yang harus dilindungi dan diberdayakan.

“Akses DOC yang tidak adil membuat peternak mandiri berada pada posisi serba terjepit. Kami bergantung pada pasokan dari integrator besar, membuat kami tidak memiliki daya tawar untuk memastikan distribusi yang layak”, tandasnya.

Sementara, pihak integrator besar yang dimaksud, belum terkonfirmasi atas situasi dan kondisi yang terjadi.

Tinggalkan Balasan