NGADA, Rabu (4/2) suaraindonesia-news.com – Kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi perhatian serius berbagai pihak. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (29/1/2026) siang di Dusun Saw Asina, Desa Nuru Wolu, Kecamatan Jerebu U, tersebut menimbulkan keprihatinan nasional dan menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan menyeluruh terhadap anak.
Korban ditemukan meninggal dunia di sekitar lingkungan tempat tinggal neneknya. Berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat setempat, peristiwa itu diduga berkaitan dengan tekanan ekonomi keluarga, termasuk keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar pendidikan seperti buku tulis dan alat tulis sekolah.
Kondisi keluarga YBS diketahui berada dalam kategori rentan secara ekonomi. Ayah korban telah meninggal dunia sebelum korban lahir, sementara ibunya berperan sebagai orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani untuk menghidupi enam anak. Warga sekitar mengenal YBS sebagai anak yang berperilaku baik, rajin belajar, dan jarang mengeluhkan kondisi keluarganya.
Ketua Nasional Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Indonesia, Jeny Claudya Lumowa, menilai peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang harus menjadi refleksi bersama.
“Kasus yang menimpa YBS adalah tragedi yang sangat menyakitkan dan harus menjadi titik balik bagi seluruh elemen bangsa. Negara harus hadir secara nyata, tidak hanya dalam wacana perlindungan anak, tetapi juga dengan langkah konkret yang menyentuh akar persoalan,” ujar Jeny dalam keterangannya, Selasa (4/2/2026).
Menurutnya, keterbatasan akses terhadap alat sekolah yang bersifat mendasar tidak semata-mata menjadi persoalan pendidikan, tetapi juga dapat menimbulkan tekanan psikologis yang berat bagi anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan emosional.
“Akar persoalan tidak hanya pada kemiskinan keluarga, tetapi juga pada sistem bantuan pendidikan yang belum sepenuhnya menjangkau anak-anak paling rentan, serta minimnya dukungan sosial dan emosional bagi keluarga dalam kondisi sulit,” jelasnya.
Jeny menambahkan, TRC PPA akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak guna mencegah terulangnya kasus serupa. Upaya tersebut meliputi pemetaan keluarga miskin ekstrem, peningkatan akses bantuan pendidikan, serta penguatan layanan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang berisiko.
“Perlindungan anak bukan semata tanggung jawab pemerintah. Seluruh elemen masyarakat harus menjadi bagian dari benteng perlindungan bagi anak-anak Indonesia,” tegasnya.
Keprihatinan juga disampaikan oleh sejumlah tokoh dan pihak yang memiliki perhatian terhadap isu perlindungan anak. Salah satunya Bunda Naomi, yang menyampaikan duka mendalam atas peristiwa tersebut.
“Setiap anak adalah harapan bangsa dan tidak seharusnya menanggung beban hidup hingga berada pada titik keputusasaan. Peristiwa ini harus menjadi momentum untuk memastikan kebutuhan dasar pendidikan dan dukungan emosional anak-anak terpenuhi, terutama di wilayah terpencil dan keluarga kurang mampu,” ujarnya.
Sejumlah lembaga negara turut merespons kasus ini. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan tengah melakukan penelusuran dan pendalaman terkait peristiwa tersebut. DPR RI mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyaluran bantuan pendidikan dan menyebut kasus ini sebagai peringatan serius bagi negara.
Sementara itu, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menilai peristiwa tersebut sebagai pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengatasi persoalan frustrasi sosial di masyarakat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf juga menekankan pentingnya penguatan basis data keluarga miskin ekstrem agar bantuan sosial dapat tepat sasaran.
Pemerintah menyatakan akan memperkuat sejumlah langkah strategis guna mencegah kejadian serupa, antara lain optimalisasi bantuan pendidikan, percepatan implementasi Program Sekolah Rakyat, penanganan kemiskinan ekstrem secara terpadu, penyediaan layanan dukungan psikologis di sekolah, serta peningkatan koordinasi lintas instansi.
Selain peran negara, TRC PPA menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mendeteksi dini kondisi anak-anak yang rentan, menyalurkan bantuan alat sekolah, memberikan dukungan emosional, serta menyebarluaskan informasi terkait program bantuan pendidikan.
Peristiwa di Ngada tersebut diharapkan menjadi pelajaran bersama untuk memperkuat sistem perlindungan anak, khususnya bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan sosial.












