PATI, Senin (24/11) suaraindonesia-news.com – Dalam rangka mendukung Program 10 Ton/Hektar produksi padi di wilayahnya, Camat Pati menggelar sosialisasi kepada petani.
Acara berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Pati, Senin (24/11), diikuti para petani, didampingi kepala desa masing- masing.
Narasumber dari berbagai disiplin ilmu pertanian pun didatangkan untuk mengisi acara.
“Terkait dengan program unggulan Bupati Pati dibidang pertanian, hari ini kita menggelar sosialisasi, antara lain metode tanam padi (evaluasi), pembuatan mikroba pengurai dan penyubur tanah, serta penanaman bibit terong jepang”, terang Camat Pati, Didik Rusdiartono.
Mengutip metoda tanam padi yang disampaikan oleh narasumber, Suyoto, Camat menambahkan, cara yang dipraktikkan telah menghasilkan 10 hingga 11 ton gabah, per hektar.
“Ada 15 dari 24 desa di wilayah Kecamatan Pati yang telah melaksanakan metoda tanam padi Pak Suyoto. Tapi hasilnya belum maksimal. Hanya ada 4 desa yang mampu memproduksi 10 ton per hektar, antara lain Desa Gajahmati, Geritan, Purworejo, Blaru”, tambahnya.
Maka dalam kesempatan itu, Camat mendorong desa-desa lainnya, untuk dapat menerapkan Metoda Suyoto, pada musim tanam berikutnya.
“Memang banyak hal yang mempengaruhi hasil produksi padi. Hama tikus di Desa Tambahsari dan Ngepungrojo. Juga terjadi banjir di wilayah lainnya”, ungkap Camat.
Narasumber kedua, Ayub Supriyo, terang Didik Rusdiartono, mengetengahkan cara pembuatan mikroba pengurai dan penyubur tanah, berbahan sederhana dan mudah didapat.
“Mikroba ini, menurut Ayub, mampu mendampingi kebutuhan pupuk petani hingga 30 persen. Bahannya terdiri atas gula aren, kacang ijo, daun kelor dan buah pisang”, tuturnya.
Penggunaan benih padi unggul, juga disinggung, yakni varietas M70D, yang mampu berproduksi hanya dalam waktu kurang dari 80 hari tanam. Namun, ada sisi kelemahannya, yakni bulirnya kecil dan batang padi kurang kuat, sehingga mudah roboh bila dihantam angin.
Adapun penanaman bibit terong jepang, dengan nama Nasubi, oleh Camat Pati, juga didorong untuk dikembangkan oleh petani.
“Bu Arum selaku koordinator kemitraan dari CV Wahyu Jati Nusantara, akan memfasilitasi para petani yang berminat menanam terong Nasubi. Dengan MoU, bahwa petani dapat membeli bibit terong dengan harga 500 rupiah dan hasil panennya akan dibeli oleh perusahaan itu sebesar 2.500 rupiah per kilogram”, kata Didik.
Adapun estimasi beayanya, mulai dari pembelian bibit, pengolahan tanah dan perawatan tanaman, dibutuhkan anggaran sebesar 80 juta rupiah per hektar. Masa tanam 40 hingga 50 hari.













