SUMENEP, Rabu (02/07) suaraindonesia-news.com – Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Mandura, Jawa Timur, kembali melaksanakan program wirausaha santri sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi generasi muda santri.
Kegiatan tersebut berupa pelatihan berfokus pada pembuatan keripik singkong, produk olahan berbasis pertanian yang potensial di wilayah Campaka.
Acara ini digelar di Pondok Pesantren Nurul Jamal, Desa Campaka, Kecamatan Pasongsongan, dan diikuti oleh sejumlah santri serta alumni.
Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disbudporapar Sumenep, Syaifuddin, menyatakan bahwa pelatihan ini menjadi bagian dari program Santri Entrepreneur yang menyasar peserta usia 16 hingga 30 tahun.
“Kami ingin selain membekali para santri dengan ilmu agama, mereka juga memahami ilmu berwirausaha. Ini sesuai dengan ajaran Nabi yang tidak hanya menekankan aspek spiritual, tetapi juga kemandirian,” ujar Syaifuddin, Rabu (2/7/2025).
Menurutnya, sebagian besar produk singkong di daerah itu masih dipasarkan dalam bentuk mentah. Oleh karena itu, Disbudporapar menggandeng pelaku usaha, instansi terkait, dan Halal Hub sebagai mitra pemasaran agar produk olahan santri dapat lebih bernilai dan siap dipasarkan secara luas.
”Dengan dilibatkan beberapa pihak tersebut, nantinya ini untuk membantu proses perizinan dan digitalisasi pemasaran produk,”jelasnya.
Syaifuddin menuturkan, pelatihan berlangsung selama dua hari, dengan target output agar seluruh peserta mampu membuat keripik singkong secara mandiri.
Selain itu, peserta juga dibekali peralatan dan bahan produksi agar langsung dapat memulai usaha usai pelatihan.
Untuk mendukung keberlanjutan usaha, Disbudporapar akan membentuk lima kelompok usaha masing-masing terdiri dari enam peserta.
“Kami akan memantau perkembangan kelompok ini hingga akhir tahun 2025. Setelahnya, mereka akan mengikuti workshop lanjutan dan pendampingan untuk menjaga kesinambungan usaha,” tambah Syaifuddin.
Semenyar it, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jamal, KH Ahmad Suyuti, menyambut positif pelatihan ini.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menambah keterampilan dan wawasan santri dalam bidang kewirausahaan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi keluarga dan masyarakat di desa mereka.
“Semoga pelatihan ini berkelanjutan dan mampu melahirkan wirausahawan muda yang profesional dan mandiri ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Salah satu peserta pelatihan, Moh. Tawam, mengaku sangat antusias mengikuti program ini.
Ia menilai kegiatan wirausaha santri ini mampu melatih mental kewirausahaan sejak dini, sehingga kelak dapat mandiri secara ekonomi dan tidak selalu bergantung pada orang tua.
“Kegiatan ini memberikan bekal yang sangat berguna untuk masa depan kami sebagai santri dan calon entrepreneur muda,” katanya.













