Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Malik Haramain : Tragedi Mina Pemerintah Arab Saudi Harus Obyektif Dalam Investigasi

Abdul Malik Haramain, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI

PROBOLINGGO, Suara Indonesia-News.Com – Terkait kasus tragedi Mina yang menyebabkan banyak Jama’ah Haji dari Indonesia menjadi korban, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Malik Haramain meminta Pemerintah Arab Saudi bertindak secara obyektif dan transparan atau melibatkan beberapa Negara lain termasuk Indonesia yang  secara rutin mengirimkan Jama’ah Haji besekala besar  ikut dilibatkan melakukan investigasi secara bersama – sama dengan Pemerintah Arab Saudi dalam upaya mencari penyebab terjadinya tragedi mina.

Statment ini disampaikan Abdul Malik Haramain dihadapan sejumlah wartawan, saat dikonfirmasi “apa tindakan Komisi VIII DPR RI kepada Pemerintah Arab Saudi dalam menyikapi kasus tragedi Mina”, Minggu (4/10/15) sekira jam 22.30 WIB seusai mengunjungi keluarga Tutik Andriani dijalan Mastrip Blok B Kota Probolinggo.

“Tutik Andriani adalah Petugas Kesehatan Puskesmas Kedopok Kota Probolinggo yang ikut menjadi korban tragedi mina saat melakukan tugas sebagai tenaga kesehatan Jama’ah Haji Kloter SUB 48 Surabaya di Makkah”.

Abdul Malik Haramain kepada sejumlah wartawan juga mengatakan, meskipun ini masalah takdir atas Kuasa Allah, tetapi tetap saja musibah ini bisa terjadi akibat humaneror. Untuk itu kita minta Pemerintah Arab Saudi mau bersama – sama dalam mencari solusinya, ungkapnya.

“Analisa kami, tragedi itu terjadi dikarenakan aparat atau askar Pemerintah Arab Saudi kurang profesional. Oleh karena itu perlu adanya ketegasan semacam M o U antara Indonesia dengan beberapa Negara lain dengan Pemerintah Arab Saudi, misal kerja sama tentang perkuatan keamanan Jama’ah. Indonesia siap untuk mengirim aparatnya ke Arab Saudi untuk bersama – sama melakukan pengamanan Jama’ ah Haji”, ucap Malik.

Malik Haramain mengatakan, karena musibah sering terjadi di Mina, seperti musibah crant juga disekitar Mina, tuntutan kita agar Pemerintah Arab Saudi lebih jernih, lebih obyektif dengan harapan mencari solusi bisa kita olah secara bersama – sama.

Selain itu, lanjutnya, kedepan nanti untuk petugas kesehatan dari Indonesia yang ditugaskan melayani Jama’ah Haji harus profesional. Tugasnya di Makkah adalah khusus melayani Jama’ah Haji. Jadi nanti dalam melaksanakan tugasnya petugas kesehatan harus fokus dengan tugasnya, tidak boleh sambil berhaji seperti yang terjadi sekarang ini.

Abdul Malik Haramain juga mengatakan, kordinasi yang dilakukan bersama Pemerintah Arab Saudi hingga saat ini belum selesai. Kesimpulan akhir investigasi akan menentukan seberapa tanggung jawab Pemerintah Arab Saudi terhadap Jama’ah Haji korban tragedi Mina ini.

Kalau kesimpulannya adalah salah satu penyebab terjadinya tragedi Mina dari kelalaian faktor manusia, maka Pemerintah Arab Saudi harus bertanggung jawab kepada Jama’ah Haji yang menjadi korban.

 “Seperti kasus crant, awalnya Pemerintah Arab Saudi menganggap itu suatu bencana, setelah kita tekan, dari hasil investigasi yang feer kesimpulannya adalah humaneror/kelalaian”.

Karena sebab kelalaian, kemudian para korban robohnya crant mendapat kompesasi dari Pemerintah Arab Saudi sebesar Rp.3,8 milliar.

“Oleh karena itu kami meminta kepada Pemerintah Arab Saudi jangan semua tragedi dianggap sepenuhnya bencana”, ujar Malik Haramain menekankan. (Singgih).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here