UKWMS meriahkan Hari Studi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik 2016

Reporter: Cahya

Surabaya, Jum’at 21/10/2016 (suaraindonesia-news.com) – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah sebuah mimpi masa depan bersama bagi negara-negara Asia Tenggara. Keinginan membangun ekonomi nasional yang semakin kuat di masing-masing negara anggota menjadi motivasi awal munculnya MEA.

Namun, seberapa kuat landasan perjuangan membangun mimpi bersama tersebut kalau motivasi yang ditonjolkan adalah motivasi ekonomi? Perlu dipertimbangkan, bahwa selain semangat kebersamaan, motivasi ekonomi juga akan menghasilkan semangat berkompetisi. Apakah semangat tersebut cukup aman kita kembangkan bersama di wilayah yang kini mulai dilanda oleh berbagai permasalahan lingkungan dan sosial?

Mulai dari kebakaran hutan, pencemaran udara kota, penelantaran buruh migran, pemancingan ikan dan penebangan hutan secara ilegal, konflik internal yang menghasilkan pengungsi, penyanderaan, hingga meningkatnya penyalahgunaan narkoba dan lain sebagainya adalah sekelumit bentuk-bentuk permasalahan lingkungan dan sosial yang melanda negeri-negeri ASEAN.

Mimpi bersama negara-negara MEA di satu sisi berhasil menciptakan kebersamaan dalam pengaturan ekonomi. Namun di sisi lain apabila kemampuan berkompetisi sangat jauh berbeda antar negara anggota, yang terjadi bukanlah kebersamaan yang harmonis, namun rapuh, dan pincang. Apakah resiko tersebut sudah kita sadari?

Sikap dasar yang perlu dibangun oleh segenap warga negara Indonesia adalah sikap kritis sekaligus kreatif. Kritis karena landasan kebersamaan yang membangun pilar-pilar cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025 belum terasa cukup kokoh. Kreatif karena kekuatan-kekuatan yang kita miliki dan peluang-peluang yang ditawarkan serta bisa kita manfaatkan lewat MEA sangatlah besar.

Dalam rangka menciptakan sikap kritis dan kreatif maka Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) mengangkat tema studi bersama: Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Tantangannya bagi Perguruan Tinggi APTIK. Tema itulah yang digodok bersama pada Hari Studi APTIK tanggal 20-22 Oktober 2016 di Surabaya.

Menghadirkan dua orang pembicara dengan kaliber nasional, yakni Prof. Dr. Sulistyowati Irianto dan Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D.

“Penting untuk memikirkan bagaimana menciptakan manusia yang bisa menjunjung tinggi ke-Indonesian, mampu berdampingan dengan orang-orang yang berbeda, berbela rasa terhadap penderitaan orang lain. Suatu semangat yang menjadi pelita/panduan bagi setiap kegiatan akademik dan capaian prestasi di kalangan sivitas akademika pendidikan tinggi Katholik,” tandas Guru Besar Universitas Indonesia yang akrab dipanggil dengan nama Sulis tersebut kepada seluruh peserta Hari Studi APTIK yang terdiri dari ratusan perwakilan Universitas Katolik se-Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, Perguruan Tinggi Katholik harus mampu mendefinisikan keberadaan dirinya. Menyelaraskan visi dan misinya dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi; manusia dengan karakter seperti apa yang akan dihasilkan, agar mampu berkolaborasi dan memiliki daya saing bila berhadapan dengan mahasiswa/sarjana mancanegara. Hal itu penting, mengingat semua pihak meyakini bahwa pendidikan tinggi (PT) merupakan bagian dari mekanisme penting untuk memudahkan proses integrasi tersebut karena peran sentralnya baik sebagai tujuan/sasaran maupun sebagai elemen pendukung integrasi.

Drs. Johanes Eka Priyatma yang telah berpengalaman menjadi seorang programer sejak tahun 1987 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta juga menyampaikan pentingnya peran pendidikan tinggi agar manusia Indonesia bisa bertahan di masa depan. “Berdasarkan tujuan dari integrasi ekonomi regional, pendidikan tinggi diharapkan memainkan peran penting dalam meningkatkan pembangunan ekonomi regional dan mengurangi kesenjangan pembangunan di antara negara-negara anggota.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa program mobilitas mahasiswa dan dosen merupakan mekanisme penting dan menjadi indikator dari harmonisasi sistem pendidikan tinggi dan integrasi ekonomi regional.

“Dengan demikian tugas utama dosen bukan pada tridharma saja melainkan catur dharma karena ditambah dengan tugas manajemen administratif,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here