TPID se-Provinsi NTT Rapatkan Barisan, Bahas Strategi Pengendalian Inflasi Tahun 2018

Suasana Rakor TPID se-Provinsi NTT dipimpin langsung oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya (Ketua) didampingi Kpala KPw BI NTT, Naek Tigor Sinaga (Wakil Ketua) di Hotel Aston-Kupang, senin (9/4) pagi.

KUPANG-NTT, Senin (9/4/2018) suaraindonesia-news.com – Bertempat di Aston Hotel Kota Kupang, Senin (9/4/2018) pagi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi NTT yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya Selaku Ketua didampingi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT, Naek Tigor Sinaga Selaku Wakil Ketua beserta seluruh anggota TPID se-Provinsi NTT menggelar kegiatan Rapat Koordinasi Daerah dalam rangka membahas strategi pengendalian inflasi tahun 2018 di Provinsi NTT.9

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Naek Tigor Sinaga dalam pemaparannya menguraikan bahwa , hingga bulan Maret 2018, inflasi Provinsi NTT masih terjaga. Pada bulan Maret 2018, Provinsi NTT tercatat mengalami deflasi 0,43% (mtm). Jika dibandingkan tahun lalu, inflasi ProvinSi NTT tercatat sebesar 2,26 (yoy) atau terendah ke S secara Nasional.

“Deflasi Provinsi NTT disumbang oleh penurunan harga kelompok Volatile Food (Bahan Makanan Bergejolak) sebesar 2,71% (mtm) diantaranya komoditas Ikan Kembung, Daging Ayam Ras, Kakap Merah, Wortel dan Daun Singkong,” Jelasnya.

Baca Juga: BNNP NTT dan BNN RI Gelar Rakor Program Penguatan Rehabilitasi dan Pasca Rehabilitasi

“Disisi lain kelompok Core Inflation/ lnti dan Administered Price mengalami inflasi namun masih dalam level yang rendah. Terjaganya Inflasi Provinsi NTT pada bulan ini, juga didukung oleh terjaganya inflasi di Kota Kupang yang Juga mengalami deflasi 0,56% (mtm),” Tambah Sinaga.

Lebih lanjut Sinaga menjelaskan bahwa, tantangan pada tahun 2018 yang perlu diperhatikan antara lain potensi inflasi pada volatile food dan administered prices yang dipengaruhi oleh Kenaikan Harga BBM, Momen Hari Besar Keagaamaan, dan masih tingginya ketergantungan Provinsi NTT terhadap daerah lain dalam pasokan bahan makanan.

“Komoditas volatile food yang perlu menjadi fokus perhatian TPID diantaranya beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah, kangkung, daging dan telur ayam ras,” ujarnya.

Menindaklanjuti tantangan tersebut, setelah melakukan pembahasan secara mendalam dengan seluruh anggota, TPID Provinsi NTT menyepakati sebuah komitmen bersama berlandaskan roadmap pengendalian inflasi Provinei NTT yang tertuang dalam 7 langkah aksi sebagai berikut:

1. Mempercepat dan mempermudah investasi industri daging ayam ras, telur ayam ras dan pakan ternak.

2. Memperkuat organisasi TPID se-NTT mengacu pada Keppres no 23 tahun 2017.

3. Mempercepat alur koordinasi dan komunikasi antar TPID melalui instant messaging.

4. Menetapkan harga acuan komoditas hortikultura.

5. Mengimplementasikan Program Pasar Tertib Ukur di seluruh NTT.

6. Menginisiasi perdagangan antar daerah di NTT melalui identifikasi komoditas dengan pasokan tinggi di setiap daerah.

7. Melakukan Pengendalian Konsumsi Masyarakat melalui pilot project Program Masyarakat Sadar Inflasi.

Sumber : Humas BI KPw NTT

Reporter : Yoko
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here