Tingkatkan Ekonomi Kerakyatan, Kelompok Nelayan Dilatih Mengolah Hasil Laut

Reporter : Zein.

Probolinggo, Selasa (29/11/2016) – suaraindonesia-news.com – ISES (INSTITUTE FOR THE STUDY AND EMPEWORMENT OF SOCIETY) merupakan lembaga kajian dan pengembangan masyarakat yang konsen dalam pemeliharaan dan penanganan mangrove melalui penanaman, perbaikan pantai dan pemberdayaan masyarakat pesisir, dalam upaya penguatan ekonomi kerakyatan untuk menunjang penghasilan para nelayan, mengadakan pelatihan olahan hasil laut.

Agus Sukipyo selaku koordinator ISES Probolinggo mengatakan, pihaknya akan konsen dan intens dalam memberi penguatan penguatan kelompok baik penanaman mangrove maupun melalui kegiatan ekonomi lainya.

Kegiatan kali ini di adakan di desa Curahdringu, Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo dengan kelompok binaan Perahu Layar untuk penanaman dan perawatan mangrove serta kelompok Mutiara Hati Wijaya untuk kelompok ekonomi produktifnya, ungkapnya, Selasa (29/11).

Sementara untuk kelompok Mutiara Hati Wijaya saat ini masih fokus pada olahan hasil laut, seperti kerupuk ikan/udang, rengginang ikan/udang, petis rajungan, petis ikan, dan petis udang. Selanjutnya akan diberi pelatihan lanjutan, seperti packaging, penatausahaan, pengelolaan keuangan serta pemasaran.

Tentunya semua ini tidak akan terlaksana tanpa adanya dukungan bersama baik Pemerintah maupun masyarakat. Kegiatan kali ini terlaksana juga atas dukungam  MFF Mangrove For The Future. Pada kunjungan dan monev bersama Kementrian Perikanan dan Kelautan, bersama Bappenas, terang Agus Sukipyo.

Frista Yorhanita, S.Si,M.Si,PhD dari tim monitoring mengatakan, dalam pelaksanaan kegiatan harus ada out put yang jelas, salah satunya tentang kendala serta penanganan untuk penyelesaianya. Ada pembagian antara profit yang dihasilkan kelompok, dan untuk individu yang ada dikelompok tersebut, katanya.

“Segala apa yg menjadi kendala dan bagaimana penanganannya harus tercover pada hasil eksperimen yang dihasilkan, untuk kemudian bisa menjadi bahan masukan serta pertimbangan pada Kementrian Kelautan untuk program program di masa mendatang,” ujar wanita berjilbab tersebut.

Kholiyah, ketua kelompok Mutiara Hati Wijaya menyatakan, sangat berterimakasih pada ISES yang telah mendampingi kegiatan pelatihan yang dimulai sejak September-2016 lalu. Dia berharap ada binaan berkelanjutan setelah program ini. “Kami, berharap tiap kelompok ada binaan sampai bisa sukses”, harap kholiyah.

Kami sangat berharap dibantu peralatan dalam pengolahan dan produksi produk kami, sehingga bisa membantu memperlancar produksinya, kata Kholiyah menambahkan.

Ibu Ita, perwakilan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan pada FGD (forum discussion group) berjanji akan memperhatikan serta menindaklanjuti usulan usulan peserta FGD ke Kementrian. Sehingga akan ada tindakan nyata untuk bisa mengembangkan usaha kelompok serta juga dapat memperluas wilayah penanganan dan pengembangan pesisir pantai.

Samsuri dari kelompok Perahu Layar Desa Curahdringu menambahkan, selama ini kelompoknya hanya swadaya dalam menanam mangrove, karena tiap kali air pasang masuk ke tambak ikan dan udang, juga ke sawah sawah petani. Sehingga lahan tambak dan sawah rusak karena tergenang air laut.

Dia berterimakasih dengan adanya dampingan yang dilakukan ISES selama ini bisa menambah tanaman, serta merehab bibir pantai walau dengan pagar bambu seadanya. Dia pun berharap ISES dan Kementrian Kelautan dan Perikanan serta Dinas terkait di daerah tetap melanjutkan pembinaan dan perawatan dan pemantauan mangrove kedepanya.

Pak Agus Sukipyo selaku koordinator ISES kami harap tetap menjalin komunikasi meski program berahir.

“Kelompok kadung cocok dengan Pak Agus Sukipyo, orangnya gampang bergaul dan sumeh, pada anak anak muda di Desa kami, kata Samsuri menambahkan dalam logat jawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here