Tanjung Perak Barometer Pelabuhan Lain di Indonesia

Staf Khusus Menteri PAN RB Bidang Komunikasi, Sosial, dan Politik, M. Fariza Y. Irawady (tengah), GM PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak, Eko Harijadi Budijanto dan GM PT Pelni Surabaya, Presda Simangasing saat meninjau fasilitas Pelabuhan Tanjung Perak dari Terminal Penumpang GSN, Selasa (3/11/2015). (Icsan Bakhtyar)

Surabaya, Suara Indonesia-News.Com – Pelabuhan Tanjung Perak harus menjadi model pelabuhan lain dalam memberikan pelayanan terbaik bagi pengguna jasa.

“Inovasi-inovasi Pelindo III Cabang Tanjung Perak harus menjadi barometer dari pelabuhan lainnya”.

Sayang apabila hanya bisa dinikmati oleh pengguna di satu tempat saja,” kata Staf Khusus Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi Bidang Komunikasi, Sosial, dan Politik, M. Fariza Y. Irawady disela kunjungan di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, Selasa (3/11/2015).

Inovasi-inovasi Pelindo III Cabang Tanjung Perak dalam peningkatan kualitas layanannya, yakni clusterisasi terminal, penerapan sistem aplikasi anjungan, terminal penumpang modern, penerapan simpandu dan simtunda, pemenuhan kebutuhan SBPP (15 unit kapal tunda, 7 unit motor Pandu, dan 3 unit RIB), penambahan petugas pandung (eksisting 64 orang) hingga  penambahan 2 CC (container crane) di Terminal Nilam.

“Karena itu, Pak Menteri menugaskan kami membentuk tim pemantauan pelayanan publik di Tanjung Perak (pelabuhan,red) agar pelayanan publiknya prima. Mengingat sekitar 80 persen arus barang dan jasa berada di pelabuhan dan bandara,” kata koordinator tim pemantau dan evaluasi di Surabaya dan Semarang.

Fariza menjelaskan, pihaknya akan melakukan pemantauan Pelabuhan Tanjung Perak secara kesinambungan. Pasalnya, pelabuhan tersibuk kedua di Indonesia itu tengah disorot oleh dunia internasional.

“Tim memantau tidak hanya hari ini saja (kemarin,red) tetapi secara kesinambungan. Sebelum dinilai oleh pihak luar negeri jadi kita dulu. Karena Kementerian PAN RB memiliki kewajiban untuk melakukan evaluasi dan pemeringkatan pelayanan publik,” jelas pria yang akrab disapa Caca ini.

Dari hasil pemantauan Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN), lanjut Caca, pelayanan publik di Pelabuhan Tanjung Perak berjalan baik. Khususnya optimalisasi penggunaan alat informasi teknologi untuk mendeteksi kapal sebelum sandar.

“Ini langkah bagus untuk mengurangi dwelling time. So far secara keseluruhan di sini (GSN,red) bukan hanya baik tapi harus jadi tolok ukut bagi pelabuhan lain,” ungkapnya

Caca menambahkan, sedikitnya 25 kategori penilaian pelayanan publik yang dilakukan oleh tim pemantau Kementerian PAN RB. Diantaranya, standar pelayanan publik, publikasi maklumat, survey kepuasan masyarakat, sistem pengaduan yang bisa diakses, media untuk pengaduannya hingga sarana prasarana.

“Check list itu semua akan jadi bahan evaluasi kami dalam bentuk pelayanan maupun peningkatan. Supaya pelabuhan-pelabuhan lain memiliki tolok ukur.

Berdasarkan data indeks kepuasan pelanggan yang dilakukan Pelindo III Cabang Tanjung Perak pada tahun 2013 dan 2014 mencapai 3,64 persen.

Dengan pencapaian janji layanan sejak Januari 2015 – September 2015 dapat diselesaikan dari 9.95 menit hingga 8 menit.

Saat ditanya, pelayanan publik kapal-kapal Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) sebagai fasilitas penunjang dari Terminal Penumpang Modern GSN yang masih banyak butuh dukungan dari pemerintah, lebih lanjut Caca mengatakan, tim juga akan melakukan hal sama. Meski, evaluasi hingga rekomendasi tersebut tidak bersifat mendesak.

“Kalau kapal Pelni-nya sebagus apapun tapi saat masuk pelabuhan berantakan maka terjadi kongesti. Tapi di Jamrud Utara, begitu merapat (KM Dobonsolo) truk trailer sudah siap mengangkut, penumpang turun dan naik sudah rapi,” pungkasnya. (ib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here