Tanggapan Keluarga Zaini yang Dihukum Pancung Pemerintah Arab Saudi

oleh -47 views
Ucapan bela sungkawa di rumah duka

BANGKALAN, Rabu (21/03/2018) suaraindonesia-News.com – Setelah tersebarnya Kabar hukuman eksekusi terhadap Mohammad Zaini Misrin, warga asal Dusun Lembanah, Desa Kebun Kecamatan Kamal, Bangkalan,adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dihukum pancung oleh Pemerintah Arab Saudi tepat pada hari Ahad,(08/03/2018) pukul 11.30 waktu setempat.

Nafas terakhir Zaini terhembus setelah pengadilan Arab Saudi memutuskan ia bersalah telah membunuh majikannya pada tahun 2004 silam.

Vonis itu dijatuhkan terhadap Zaini pada 2008 dan vonis hukuman mati atau empat tahun setelah peristiwa dugaan pembunuhan itu terjadi.
Eksekusi pancung baru dilakukan tahun ini setelah Zaini mendekap dalam penjara 14 tahun lamanya.

Musthofa Kurniawan, anak kedua dari Zaini menceritakan selama ayahnya di penjara selama 14 tahun, kunjungan hanya berlangsung 1 kali dari pihak keluarga yakni kakaknya syaiful thoriq, pada tahun 2012 lalu.

“Hanya kakak saya yang melakukan kunjungan ke Arab Saudi pada tahun 2012 lalu bersama beberapa pihak pemerintah dengan tujuan kunjungan ahli waris dan untuk meminta maaf kepada pemerintahan Saudi Arabia,tapi usaha itu tak membuahkan hasil,” ungkapnya.

Dalam waktu yang sangat lama pihak keluarga hanya mendapat kabar terkait keadaan zaini dari adik iparnya yang tinggal di sana sebagai TKI juga.

Beberapa hari sebelum hukum pancung di jatuhkan terhadap Mohammad Zaini, pihak keluarga hanya mendengar kabar dari adik ipar Zaini yang disana bahwa kakaknya akan d hukum pancung,Hingga menimbulkan kegelisahan dan keresahan kelurga zaini yang di Indonesia.

“Kami mendapat kabar bahwa ayah akan di hukum pancung,tapi kami tidak tahu menahu kapan itu akan di langsungkan,sehinggaa keluarga kami di penuhi tangis dan duka, tapi ahad (18/03/2018) kemaren,kami menerima telpon dari pemerintah Indonesia bahwa ayah kami telah di eksekusi di Arab sama tepat habis solat Ashar disini,” lanjut anak bungsu Zaini itu.

Mushtofa kurniawan setelah mendengar hukum peradilan yang memvonis mati hingga proses eksekusi mati terhadap ayahnya ternyata ditemukan beberapa kejanggalan dan ketidakadilan hukum serta pengabaian pada hak-hak terdakwa yang menghadapi ancaman hukuman maksimal.

“Menurut kabar, hukuman yang di jatuhkan terhadap ayah,dari segi waktu dan tempat beda dari hukum yang d jatuhkan terhadap pidana sebelumnya, biasanya hukum pancung di sana di laksanakan hari jum’at,tapi dengan ayah tidak malah hari ahad,” jelas mustofa.

Menyikapi peristiwa seperti ini dari pihak kelurga hanya bisa bersabar dan ikhlas dengan harapan semoga almarhum di beri ketenangan dan d tempatkan di tempat yang layak.

“Kami hanya bisa ikhlas dan berdoa, kami tidak ingin memperpanjang hal ini atau menggugat terkait tindakan terhadap ayah kami,” lanjut mustofa.

Reporter : Ach. Zainuri
Editor : Agira
Publisher : Tolak Imam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *