Sosialisasi TBC Kepada Seluruh Dokter Swasta

LUMAJANG, Jumat (18/5/2018) suaraindonesia-news.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lumajang, menggelar Sosialisasi Penyakit TBC, di Aula Dinkes, Jum’at (27/4) siang lalu.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Dinkes Kabupaten Lumajang dr Bayu Wibowo, bahwa peserta yang hadir dalam acara ini adalah seluruh dokter swasta se Kabupaten Lumajang.

Kepada media, pagi tadi, dr Bayu menyampaikan, bahwa penyakit TBC merupakan masalah besar dan harus ditangani secara serius.

“Saya katakan masalah besar karena jumlah yang diperiksa masih di bawah target. Target nasional penderita TBC sebesar 30 persen, sementara yang diperiksa masih dibawah itu,” katanya.

Menurut dr Bayu, yang diperiksa adalah orang yang disebut sebagai tersangka TBC. Setiap orang yang mengalami batuk lebih dari 2 minggu berarti tersangka TBC.

“Itu yang diperiksa. Setelah dan diperiksa dan dipastikan sebagai tersangka TBC, maka langkah berikutnya adalah memeriksa dahaknya di puskesmas. Kemudian puskesmas  yang memeriksa tersangka ini membuat surat rujukan ke Puskesmas Pusat Rujukan Miskroskopik,” ungkapnya.

Dari alat inilah nantinya bisa dipastikan apakah tersangka tersebut positif atau negatif penderita TBC.

Dijelaskan, ada tiga macam dahak yang periksa. Ada dahak tengah malam, pagi hari, dan dahak sewaktu. Jika pemeriksaan dahaknya selama 3 kali negatif bukan TBC, maka dipertimbangkan di rontgen paru-paru.

“Kenapa harus begitu? Karena penderita TBC diobati minimal selama 6 bulan. Yang dua bulan obatnya diminum secara terus menerus dan yang 4 bulan obatnya diminum seminggu 3 kali. Selama 6 bulan pula si penderita terus diawasi agar berhasil. Kalau gagal diobati akan mengancam dirinya sendiri dan orang di sekitarnya, karena penyakit ini menular,” tambahnya.

Dijelaskan pula oleh dr Bayu, bahwa sukses tidaknya pengobatan penderita TBC itu bisa diukur. Misalnya, pada saat pengobatan awal positif 60 persen, maka diakhir pengobatan juga harus 60 persen.

“Di Lumajang sendiri, tingkat keberhasilan pengobatan penyakit TBC sekitar 90 persen. Data penderita penyakit TBC di Lumajang tahun 2017 mencapai 1.401. Pada tahun 2018 tri semester pertama sudah mencapai 320 an penderita,” lanjutnya.

Oleh karena itu, kata dr Bayu, target pengobatan tersangka harus melibatkan seluruh pihak. Mulai dari pihak Puskesmas, perawat, bidan, dokter praktek swasta, dokter di p
puskesmas, harus tertata dan tersosialisasikan.

“Penyakit TBC ini disebabkan kuman yang bernama mycobacterium tuberculosis dan gejalanya adalah batuk selama 2 minggu. Bila sudah terjangkit TBC, maka pengobatannya membutuhkan waktu selama 6 bulan. Bahayanya, penyakit TBC bisa menyerang siapapun, mulai dari anak kecil, orang dewasa, lansia dan sangat cepat menular,” bebernya.

Lebih berbahaya lagi, ditegaskan dr Bayu, bila orang-orang yang ada di sekitarnya tertular. Makanya, bila ada penderita TBC maka minimal ada 15 orang sekitar yang juga ikut dilacak dan diperiksa untuk memastikan yang bersangkutan tertular atau tidak.

Dia mengingatkan, pemberian obat antibiotik yang salah terhadap penderita TBC akan membahayakan dan merubah penyakit TBC yang kebal terhadap semua obat. Kalau sudah begitu, maka si penderita harus disuntik setiap hari selama 4 bulan.

Masih menurut dr. Bayu, penyakit TBC ini termasuk penyakit kronis (menahun) yang menyerang paru-paru secara pelan-pelan. Kalau pengobatannya terlambat, maka si penderita bisa meninggal dunia karena paru-parunya sudah tidak berfungsi lagi.

“Penyakit menahun ini menular secara langsung lewat dahak dan batuk. Agar tidak mudah menular, maka disarankan agar penderita menggunakan masker,” pungkasnya.

Dia menambahkan, di Lumajang, target bebas penyakit TBC adalah 10 persen dari tersangka TBC. Sementara target pengobatannya harus 100 persen harus tuntas. Pencegahan penyakit TBC bisa dilakukan dengan cara pemberian imunisasi BCG terhadap semua bayi (sekali saja).

Reporter : Achmad Fuad Afdlol
Editor : Agira
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here