Solusi Tuntas Berantas Sex Bebas

Oleh : Miya Ummu Akmal, Pendidik Dan Pemerhati Masalah Public

Perilaku seks bebas di kalangan remaja saat ini sudah kelewat batas. Bagaimana tidak hampir tiap tahun kasus pergaulan bebas di kalangan remaja senantiasa mengalami kenaikan. Jika dulu kasus tersebut hanya ditemukan di perkotaan saja, sekarang di desa juga sama. Pacaran  yang dibumbui dengan hubungan suami istri merupakan hal yang biasa terjadi. Akibatnya kasus hamil di luar nikah juga meningkat, imbasnya permintaan dispensasi kawin di Pengadilan Agama menjadi  cukup tinggi pula. Seperti yang disampaikan oleh DR Iswari Hariastuti, saat menyampaikan hasil penelitiannya kepada peserta seminar oleh BKKBN Jawa Timur, dalam rangka hari keluarga ke XXIII tahun 2016 di Grand Hotel Mahkota Lamongan, Selasa (19/7).

Dikatakan dari hasil penelitian yang ia lakukan dan kajian LSM komnas PA, koalisi perempuan, SEMAI 2015, trand terhadap permintaan dispensasi kawin terus meningkat apalagi terjadi di era digital saat ini. Dalam penelitiannya disebutkan dari 100 anak SD, 93 diantaranya pernah mengakses pornografi dan 63 remaja dari 100 yang berhubungan seks bebas. Karena perilaku yang demikian itu sebanyak 21 remaja memutuskan melakukan aborsi ketimbang harus melahirkan. Ada juga yang tidak mau aborsi karena takut beresiko, akhirnya memutuskan untuk melahirkan, tapi anaknya dibuang begitu saja. (www.surabayapagi.com, 20/07/2016).

Dewasa ini fenomena pembuangan bayi juga kerap terjadi. Termasuk  di pelosok desa pun banyak ditemukan kasus tersebut. Terhitung mulai januari 2018 hingga sekarang saja, fakta pembuangan bayi  di lamongan yang terungkap di media sudah ada 4 kasus, diantaranya adalah:

Pertama. kasus pembuangan bayi mungil pada Rabu(3/1) yang terjadi di Dusun Alang-Alang, Desa Karangbinangun Lamongan, diperkirakan bayi tersebut berusia 5 hari yang ditemukan di teras rumah warga tanpa pakaian dan hanya berselimut handuk yang ada bercak darahnya(detik.com, 3/1/2018).

Kedua. Seorang bayi mungil dibuang dalam kubangan air bercampur sampah. Kejadian ini terJadi di Desa Waru Kec.Pucuk Lamongan. Awalnya bayi itu dikira boneka yang terapung. Setelah diselidiki ibu bayi malang tersebut merupakan anak punk yang malu dengan anak hasil hubungan gelapnya.(Liputan6.com, 21/3/2018).

Ketiga. Senin(21/5) RK seorang pembantu RT  asal Tuban membuang bayi yang dilahirkan di pos satpam Perumahan Graha Indah Lamongan.

Keempat. Seorang bayi laki-laki yang baru dilahirkan ditemukan di tempat sampah timur lokasi stadion surajaya , rabu(6/6) pukul 04.45 wib.(tribunnews.com, 6/6/2018).

Lebih miris lagi baru-baru ini ada kasus yang mencengangkan public seperti yang diungkapkan Direktur Perkumpulan Keluarga Indonesia (PKBI) Lampung, Dwi Hafshah Handayani. Ia menemukan dalam salah satu SMP di Lampung yang 12 siswinya hamil (Tribun lampung.co.id, 02/10/2018).

 Akar masalah

Apa penyebab dari semua fenomena ini? Jika dianalisa dengan benar, maka akan ditemukan beberapa factor penyebab, diantaranya:

Pertama. Remaja sekarang mengalami degradasi moral. Yang itu diawali dari lemahnya keimanan dan ketakwaan individu remaja masa kini. Mereka gagal menemukan jatidiri mereka yang hakiki.

Kedua. Pengaruh media digital yang membawa pengaruh buruk untuk anak muda masa kini. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, anak-anak akan dengan mudah mengakses segalanya lewat gadget yang mereka punya. Mulai dari informasi, berita, gambar, video dan lainnya.

Tanpa dibarengi pondasi yang kuat, dengan sifat mereka yang mudah penasaran maka membuat mereka cenderung dengan mudahnya mengakses pornografi dari media digital. Akibatnya pemikiran mereka terkotori dengan pornografi, yang berimbas minta pemenuhan dengan melakukan pergaulan bebas.

Ketiga. Pengaruh lingkungan. Sekarang banyak bermunculan sejenis café  atau tempat–tempat dengan fasilitas wi-fi, yang banyak dimanfaatkan anak muda untuk mengakses internet dan berdua-duaan dengan pasangannya. Ditambah lagi sejak lokalisasi ditutup, banyak bermunculanlah warung dengan fasilitas karaoke(warung remang-remang) dan bioskop.

Solusi untuk memberantas pergaulan bebas

Pergaulan bebas saat ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan muda saja, tapi juga dilakukan oleh kalangan tua. Terbukti banyak juga kasus laki-laki dan perempuan dewasa tertangkap di sebuah hotel/tempat kos sedang mesum. Lantas, bagaimana cara memberantas kasus pergaulan bebas yang menjamur di masyarakat saat ini?beberapa hal ini bisa dilakukan:

Pertama. Peran keluarga sangat dibutuhkan untuk  menjadikan orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Orang tua tidak cukup memberikan materi saja, tapi juga harus senantiasa mengawasi dan mengontrol anak-anaknya. Memberikan pondasi keimanan yang kuat pada anak. Dengan mendukung anak tidak hanya mencari ilmu dunia saja juga tapi juga akhirat. Bekali anak dengan ilmu agama yag banyak, motivasi anak untuk berteman dengan teman yang baik lagi sholih dan dukung anak agar sering ikut majelis ta’lim agar anak memiliki pondasi keimanan yang kuat.

Kedua. Perlunya kontrol masyarakat untuk saling mengingatkan kepada kebaikan. Jika ada tempat-tempat yang tidak baik, maka masyarakat harus melaporkan ke pihak yang berwenang agar menutupnya. Jika ada anggota masyarakat yang bukan suami istri tetapi melakukan pergaulan bebas, maka masyarakat harus mengingatkan, melaporkan ke pihak yang berwenang agar diberikan sanksi sehingga di kemudian hari tidak ada orang yang melakukan hal serupa.

Ketiga. Peran Negara. Factor pertama dan kedua tidak akan efektif tanpa didukung peran dari Negara. Karena Negara memiliki kekuasaan lebih untuk bisa melakukan apa saja yang tidak bisa dilakukan oleh individu dan masyarakat. Negara bisa menerapkan kebijakan yang positif untuk  bisa memberantas pergaulan bebas ini.

Sebagai contoh, jika Negara memutuskan untuk menutup warung remang-remang, café, bioskop dan lainnya maka dengan mudah tempat-tempat tersebut pasti akan bisa ditutup. Begitu juga dengan aplikasi-aplikasi di internet pun itu bisa dikendalikan oleh institusi Negara, sehingga anak-anak tidak dengan mudah mengakses pornografi dan lainnya yang berdampak buruk bagi mereka.

Semua itu tidak akan bisa terealisasi jika Negara masih menerapkan system kapitalis secular di negri tercinta ini. System capitalis secular merupakan System yang berasaskan kemanfaatan, bukan halal haram. Agama berupaya disingkirkan dan tidak diberikan ruang untuk mengatur masalah kemasyarakatan dan kenegaraan. Padahal aturan siapakah yang lebih baik dari aturan sang pencipta?aturan manusia itu nisbi(relative). Tergantung siapa yang membuat aturan dan pasti dikembalikan ke hawa nafsunya. Yang cenderung memihak kepada kepentingan si pembuat aturan. Jika menguntungkan mereka maka aturan itu dibuat,sebaliknya jika tidak menguntungkan atau bahkan merugikan mereka maka tidak akan dibuat aturan tersebut meskipun itu baik untuk masyarakat. Akhirnya dengan suap yang diberikan oleh para pemilik modal maka aturan akan bisa ditawar-tawar.

Oleh karenanya masihkah kita berharap sex bebas bisa diberantas dengan tetap mempertahankan system saat ini?yakinlah, hanya dengan system buatan sang pencipta saja(system islam) maka segala permasalahan  akan bisa teratasi termasuk masalah perilaku seks bebas. Jika memang system ini baik untuk seluruh manusia bahkan seluruh alam mengapa kita menolaknya? Bukankah ini untuk kebaikan generasi kita mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here