Seharusnya Tunjangan  Guru Lebih Tinggi Dari Menteri

Oleh : Dhafir Munawar Sadat
Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Menjelang tutup bulan September 2018 Indonesia dihebohkan dengan rekrutmen CPNS, masyarakat terhipnotis dengan iming-iming gaji perbulan melebihi UMR, lain tunjangan ini, itu, beribu-ribu calon pendaftar, seluruh nusantara, dari sabang sampai merauke sibuk menyiapkan berkas dokumen persyaratan, apa kira pendaftaran ini terhindar dari pencaloan, apa bersih dari KKN, apa murni rekrutmen tanpa ada embel-embel, wallahu a’lam.

Seharusnya pemerintah tidak perlu mengadakan tes CPNS membuang-buang anggaran, memberikan peluang untuk membikin proyek-proyek KKN, cukup melantik guru honorer yang jumlahnya banyak sekali, cukup adil rasanya, disamping menghemat anggaran dan menutup celah dunia percaloan.

Guru sejatinya pendidik yang penuh dengan jiwa ke ikhlasan,ke sabaran, istiqomah, sehinga anak didiknya, murid-muridnya orentasinya bagaimana menjdikan mereka manusia yang bermafaat, bermartabat, cerdas berwawasan luas, baik ilmu-ilmu agama, dan pengetahuan lainnya. Guru mengajarkan ke seimbangan antara dunia dan akhirat, menjadi contoh barometer anak-anaknya, sehingga terhindar dari anasir-anasir yang membahayakan anak-didik ketika nanti menjadi alumni dan berkiprah ditengah-tengah  dikeluarganya baik di tingkat RT/RW, kecamatan, kabupaten, provinsi maupun pusat, ada juga yang di perusahaan swasta maupun pemerintah dan lembaga-lembaga swasta lainnya, mereka menanamkan nilai-nilai yang diajarkan guru-gurunya, spiritual, emosional dan kecerdasan IQ lainnya.

Itu semua tugas guru dalam mendidik menyiapkan putra-putri bangsa agar menjadi gemilang dimasanya, dikenang sepanjang masa karena kebaikan, kecerdasan ide-denya, sehingga mereka sudah siap untuk menjadi pemimpin yang berkwalitas, sudah teruji, terhindar dari KKN, terhindar dari kemilau dunia. Tugas guru sungguh berat, hidup meraka, pikiran mereka dicurahkan hanya bagaimana anak didiknya bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, lebih-lebih untuk bangsa dan negara kelak.

Waktu terus berputar, jaman sudah berubah guru dituntut untuk lebih energik dalam mendidik murid-muridnya, harus inovasi dikelas, tidak boleh diam, harus bergerak dengan ritme yang sudah diatur pemerintah, guru sudah dicak-acak, yang berumur lebih yang sudah tidak produktif lagi siap-siap dipensiunkan, siap-sipa disuruh istirahat, padahal berjasa tidak meliaht umur, mereka sebenarnya mengajar itu adalah hoby, kesenangan dalam mengajar, mendidik, seharusnya derajat mereka diangkat, karena mereka berilmu, bukan malah di diskriminsaikan, pemerintah memberikan banyak tunjangan tapi mereka dikebiri dengan tugas dan laporan yang lainnya, gaji tidak seberapa, bahkan tidak cukup untuk beli lipstick istrinya, mereka manusia biasa, keikhlasan mereka terganggu, kesabaran mereka terganggu oleh aturan-aturan yang kata mereka biar bersaing dengan negara-negara lain, biar tidak ketinggalan jaman, harus canggih.

Moderen boleh tapi tidak harus menggerus nilai-nilai yang sudah terpatri dari guru itu sendiri, jiwa keikhlasan jangan sampai luntur, hanya gara-gara ambisi sesaat, sehingga menghalakan semua cara. Pemerintah dalam memberikan tunjangan itupun tidak cuma-cuma, harus lengakap dengan laporan, padahal mereka sudah profesi, sudah teruji kemampuannya, pemerintah seakan-akan tidak ikhlas dalam memberikan tunjangan, tunjangan tidak seberapa, tapi laporan kerrep.

Walhasil, waktu untuk mengajar habis untuk buat laporan, habis hanya dibuat untuk seremonial belaka, waktu untuk mendidik tergerus, waktu untuk mengajar akhlaq habis, waktu untuk mengajar tidak korupsi hilang,dan mereka tidak pernah mengharapkan gaji setingkat menteri dan dewan, mereka sudah senang bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi orang yang yang bermanfaat dan mereka tetap dengan istiqomahnya mendoakan anak-anaknya agar berguna bagi nusa dan bangsa. Amin……

Kraksaan, 25 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here