Sampang Masih Rawan Gizi Buruk, Aktivis Anak: Kemana Pemerintah Setempat??

Kanan, Naumi Lania Kornas TRC PA / Aktivis Anak. Foto: Dok/SI

JAKARTA, Kamis (3 Agustus 2017) suaraindonesia-news.com – Setidaknya 49 balita di Kabupaten Sampang tercatat menderita gizi buruk. Data yang ada hingga bulan Juni 2017 tersebar di Puskesmas di seluruh wilayah kabupaten tersebut.

Aktivis Anak, Naumi Lania mengatakan, tugas penanganan penderita gizi buruk merupakan tugas pemerintah setempat terutama lintas sektoral terkait, seperti Dinas Sosial, Ketahanan Pangan, dan Bapermaspemdes.

“Masak saat ini masih ada penderita gizi buruk, apalagi jumlahnya masih cukup tinggi, apa yang dilakukan pemerintah daerah setempat selama ini, hususnya dinas kesehatan setempat,” kata Koordinator Nasional Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anank (Kornas TRC PA) itu, Kepada suaraindonesia-news.com. Kamis (3/8).

Naumi menjelaskan, penderita gizi buruk ternyata tidak selalu karena faktor ekonomi, tapi ada pula yang disebabkan penyakit bawaan sejak lahir. Baca Juga: Sampang Masih Rawan Gizi Buruk

“Penderita gizi buruk harus segera ditangani, karena bisa berakibat terganggunya pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasan anak,” tuturnya.

Ia meminta pemerintah daerah segera bertindak dan mengambil tindakan sehingga penderita gizi buruk bisa cepat teratasi. Tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, kabupaten Sampang sampai saat ini masih rawan gizi buruk. Bagaimana tidak, data yang ada hingga bulan Juni 2017, sebanyak 49 balita di Kabupaten Sampang, Madura menderita gizi buruk.

Jumlah tahun 2016 lalu, sebanyak 47 kasus, sedangkan tahun ini justru malah bertambah 2 kasus lagi bayi yang menderita gizi buruk.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang, dr. Firman Pria Abadi melalui Kabid Kesehatan Masyarakat Agus Mulyadi mengatakan, penyumbang penderita gizi buruk terbanyak di Kecamatan Kedungdung dan Kecamatan Robatal.

Ia menyebutkan ada beberapa faktor penyebabnya, bisa antara lain karena tidak ada ketersediaan makanan, pola makan yang salah, ada penyakit penyerta karena tidak diimunisasi. Ditambah dengan minimnya pengetahuan orang tua. (Zaini)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here