Quo Vadis Pilkada Alor 2018, Antara Janji dan Kenyataan Pembangunan

Ary Purnama Kapitang, Tokoh Muda Pantar-Alor-NTT

KALABAHI-ALOR-NTT, Minggu (14/01/2018) suaraindonesia-news.com – Dalam sebuah paradigma demokrasi, politik adalah suatu upaya atau seni untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional. Namun dilihat dari sudut pandang berbeda politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).

Tokoh Muda Pantar, Ary Purnama Kapitang saat dijumpai di kediamannya, Minggu (14/01/2018) di Jalan Badar Bungawaru, Kecamatan Teluk Mutiara mengatakan, menjelang Pilkada Alor 2018 masyarakat Alor sedang mempraktikan nilai dan amanah demokrasi 5 tahunan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati, jadi merupakanb sebuah kewajaran apabila ada penyimpangan dari pembelajaran tersebut.

“Namun, menjadi suatu kewajiban bagi mereka yang mengerti tentang praktik politik sehat untuk diarahkan dan diaplikasikan pada publik, bukannya malah ia yang membuat salah,“ Tandasnya.

Ary juga menambahkan kita orang Pantar sudah bosan dengan janji-janji palsu yang selama ini tidak direalisasikan, bagi kami prinsip dasar kepemimpinan 1 periode 5 Tahun berkuasa apabila tidak ada yang namanya perubahan maka sudah saatnya kita pilih yang baru, copot yang lama.

Baca Juga : BI Tidak Mengakui Bitcoin di Indonesia

“Dan hari ini kita bisa melihat dengan jelas tidak ada namanya perubahan yang dirasakan masyarakat Pulau Pantar, baik dari segi ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Kami merindukan kesejahteraan dan keadilan yang merata,” ungkapnya.

Menurutnya, jika dilihat dari ruang lingkup yang luas baik sosok Dr. Imanuel Blegur dan H. Taufik Nampira (Paket Intan) sangat siap membawa amanah rakyat untuk perwujudan perdamaian dan kesejahteraan rakyat Alor.

“Mari Kita Kedepankan sikap politik santun yang didasari budi pekerti luhur dan tidak menghalalkan segala cara. Gunakan politik untuk kesejahteraan rakyat dan kedamaian. Karna makmurnya suatu negeri jika rakyat didalamnya sudah makmur,” pinta Ary.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan dalam kondisi mendesak itulah politik tidak lagi sekadar sesuatu yang Ideal-Utopis yang enak dikunyah-kunyah, tetapi sesuatu yang harus diaktualkan. Politik pun menjadi seni mengelola berbagai kemungkinan. Sisi positif pragmatisme dibenarkan, bahkan harus dilakukan sebagai pilihan alternatif sebab selain dilandasi ideologi demi kepentingan umum juga dalam konteks kepentingan praktisnya.

“Dialektika perpolitikan yang ideal dan yang riil yang suci dan bukan sekadar berebut kepentingan perlu dikembangkan secara santun dan dengan tahap tahapan yang telah matang karna semua ini demi kepentingan masyarakat luas bukan sekedar pribadi maupun kelompok. Itulah dinamika politik,” tutupnya.

Reporter : Yoko
Editor : Amin
Publisher : Tolak Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here