Pustaka Atas Awan Menyebar Hingga Pelosok Desa

Mamasa Pustaka Atas Awan terus memberikan motivasi anak-anak untuk baca buku

MAMASA, Minggu (9/9/2018) suaraindonesia-news.com – Menjadi seorang sukarelawan tentu bukanlah hal mudah dan tak semua orang mau, sebab tak ada imbalan yang diharapkan menjadi seorang sukarelawan. Iya memang tak ada imbalan, namanya juka suka dan rela, jadi dilakukan dengan kerelaan hati.

Pun tak ada imbalan, namun hal itu tidak mengurungkan niat sejumlah pemuda di Kabupaten Mamasa untuk terus bergerak menjadi penggiat literasi pustaka bergerak. Mamasa Pustaka Atas Awan yang diketuai Frendy Kristian salah satunya, hanya bermodalkan kurang lebih 500 judul buku, namun ia berupaya untuk menjangkau sekolah sekolah hingga pelosok desa di Kabupaten Mamasa, dengan menyuguhkan bacaan gratis bagi murid sekolah dasar (SD).

Itu dilakukan penggiat literasi Mamasa Pustaka Atas Awan yang beranggotakan lima orang, semata untuk meningkatkan minat baca anak anak usia dini, sebab dinilai, zaman yang serba instan saat ini seakan memaksa kita untuk terus mengikuti perkembangannya, sehingga kitapun nyaris melupakan bahwa ada hal yang lebih penting selain dengan menekan touchscreen samartphone atau ponsel pintar yaitu menambah ilmu dan pengetahuan dengan membaca buku.

Tak dapat dipungkiri bahwa untuk meningkatkan minat baca anak usia dini, sangat diharapkan peran serta orang tua, namun spertinya orang tuapun seolah acuh dengan peran itu, kendati tidak orang tua zaman sekarangpun seakan berada di dalam lingkaran perkembangan zaman, hingga anak yang belum layak menggunakan gadget pun tak luput menggengam smartphone.

Jika itu terus dibiarkan, maka niscaya minat baca anak pun kian menurun. Maka di sinilah peran penggiat literasi, hingga menjangkau sekolah-sekolah ke pelosok desa.

“Kita hadir di sini untuk memotivasi anak-anak agar ada minat membaca buku,” ungkap Frendy. Minggu (9 September 2018).

Literasi pustaka bergerak ini dilakoni Frendy dan keempat rekannya, sejak 2 tahun lalu. Ia melakoninya dengan suka rela, tanpa bantuan dari pemerintah daerah. Mungkin saja pemerintah akan turut andil dalam kegiatan sosial ini namun pihak penghiat enggan melibatkan pemerintah.

“Kalau mengharap dari pemerintah, itu bukan sukar rela namanya. Kita bergerak tidak mengharap imbalan dari pihak manapun,” tuturnya kepada Suaraindonesia-news.com.

Menurut Frendy Buku-buku yang dimiliki ini, itu donasi dari komunitas penggiat literasi yang ada di luar daerah Mamasa, meskipun terbilang baru di dunia pustaka bergerak, tetapi pihaknya sama sekali tidak mengharap bantuan dana dari pemerintah.

Lanjut Frendy ntuk melakukan aktivitasnya, ia mengaku membagi jadawal, yakni dengan bergerak menjangkau sekolah sekolah, itu dilakukan pada setiap akhir pekan yakni hari Sabtu. Selain mendatangi sekolah juga dilakukan lapak baca, yang dijadwalkan tiap hari Minggu, itu dilaksanakan di taman kota Mamasa.

“Kita terus bergerak sesuai jadwal, harapannya agar baca buku menjadi sebuah budaya oleh generasi penerus bangsa. Yakin saja, dengan membaca buku ada ilmu pengetahuan yang kita peroleh dari buku itu, ketimbang hanya berhadapan media sosial,” tandasnya.

Reporter : Bung Wahyu
Editor : Agira
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here