Proyek Pengadaan Speed di Dinas Pariwisata Raja Ampat Dipertanyakan?

Proyek Pengadaan Speed Dinas Pariwisata Raja Ampat Yang Dipertanyakan Sejumlah Pihak, Karena Pekerjaannya disinyalir Beraroma Pidana. (Foto: Zainal La Adala/SI)

RAJA AMPAT, Minggu (12/8/2018) suaraindonesia-news.com – Proyek pengadaan lima speed (5) di Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat dipertanyakan sejumlah pihak.

Pasalnya, rekanan yang ditunjuk oleh Dinas Pariwisata Raja Ampat belum juga menyelesaikan proyek tersebut. Anehnya, kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, Yusdi Nurdin Lamatenggo saat dikonfirmasi belum lama ini, enggan menyebutkan nominal pagu anggaran proyek pengadaan lima (5) speed yang dimaksud.

“Tidak perlu diekspos itu, kita kan mitra. Ekspos saja berita pembangunan,” kata Yusdi, kepada media ini.

Informasi yang dihimpun media ini, dari sumber yang enggan namanya dipublikasikan, untuk proyek pengadaan lima speed dari Dinas Pariwisata bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2017.

“Anggaran proyek itu sudah cair seratus persen, jumlahnya fantastis miliyaran rupiah. Namun,ada sejumlah anggaran yang diblokir. Tapi hingga kini proyek itu belum juga selesai,” katanya.

Terkait hal tersebut, media ini melakukan investigasi lebih mendalam. Dilokasi lima speed berada saat ini, Marthen Laitora kepada media ini mengatakan, dirinya merupakan orang kedua (2) yang mengerjakan lima speed dari Dinas Pariwisata Raja Ampat tersebut.

Baca Juga: Sejumlah Komunitas Sosial Bareng Cak Thoriq Dan Bunda Indah Galang Dana Untuk Gempa Lombok 

“Saya orang kedua yang disuruh, Arius untuk mengerjakan speed ini. Dengan upah Rp 45.000.000 (empat puluh lima juta rupiah). Karena sisa upah, dan tidak ada bahan, sehingga lima speed ini belum juga selesai,” kata Marthen yang biasa akrab disapa Ateng, saat dikonfirmasi di jalan Warsambim, Kelurahan Bonkawir, jarak tak jauh dari SMKN 2, Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (11/8/2018) pagi.

Menurutnya, lima speed itu sebelumnnya dikerjakan Yusuf, di jalan Yos Sudarso (Kemindores), Keseluruhan Sapordanco, Waisai, Raja Ampat.

“Yusuf orang pertama yang kerja, dan saya pernah disuruh olehnya untuk mengerjakan dek dan tempat duduk lima speed ini, dengan upah Rp.7.500.000 (tujuh juta lima ratus rupiah). Kalau total keseluruhan Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah) upah yang saya dapat,” ujar Marthen.

Ia mengaku, pernah didatangi sopirnya, Arius dan menyuruh dirinya mengerjakan kembali lima speed dari Dinas Pariwisata yang saat ini pekerjaannya terbengkalai.

Baca Juga: Peduli Korban Gempa di Lombok, Bhayangkari Raja Ampat Turun Jalan Galang Dana 

“Belum lama ini, sopirnya pak Arius datang untuk menyuruh saya mengerjakan kembali speed ini. Kata dia,ini sudah tercium oleh wartawan,” ungkap Marthen.

Terkait hal tersebut, sejumlah pihak mendorong awak media untuk mengekspos terkait proyek pengedaan lima speed dari Dinas Pariwisata Raja Ampat yang saat ini terbengkalai pekerjaannya.

Selain itu juga, sejumlah pihak meminta kepada penegak hukum untuk menyelidiki terkait proyek pengadaan lima speed dari Dinas Pariwisata Raja Ampat yang disinyalir beraroma pidana.

“Kenapa awak media tidak ada yang mau ekspos, berita terkait proyek pengadaan lima speed dari Dinas Pariwisata, ada apa. Saya juga minta kepada penegak hukum untuk menyelidiki terkait proyek pengadaan lima speed dari Dinas Pariwisata itu,” kata sejumlah pihak, yang namanya enggan dipublikasikan.

Reporter : Zainal La Adala
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here