Polres Mamasa Lamban Tangani Kasus

Polres Mamasa melakukan otopsi terhadap almarhum mantan Kepala Desa Botteng yang di diduga kuat penganiayaan.

MAMASA, Kamis (12/07/2018) suaraindonesia-news.mom – Polres Mamasa tidak mampu menemukan titik terang terkait pembunuhan sadis yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap mantan Kepala Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa.

Dua tahun berlalu, kasus pembunuhan mantan Kepala Desa Botteng, Almarhum Ahmad Taslim masih menyisahkan misteri, siapa sebenarnya dibalik pembunuhan zadis ini.

Pembunuhan zadis ini berawal saat korban usai menghadiri acara lamaran di salah satu Dusun, di Desa Botteng. Saat itu, kamis (19/5/2016), diperkirakan sekitar pukul 01 dini hari itu, di tengah perjalanan yang tak terlalu jauh dari Dusun yang ia tinggali tepatnya di Dusun Botteng. Korban diduga dihadang pelaku yang hingga kini belum terungkap siapa gerangan yang tega merenggus nyawah kakek 50 tahun ini.

Sekitar pukul 6:30 pagi itu, korban ditemukan tergeletak di jalan poros antara Dusun Salubiru dan Dusun Botteng. Korban ditemukan dalam keadaan tak berdaya dan tak sadar dengan kondisi berlumuran darah yang keluar dari mulut dan kepala korban.

Awalnya pihak keluarga mengira korban hanya mengalami kecelakaan tunggal saja, namun berbagai kejanggalan yang ditemukan di tubuh korban, hingga mengundang berbagai pertanyaan.

“Waktu itu kami mengira hanya kecelekaan lalulintas saja,” kata Sono anak korban, saat ditemui, Kamis (11/07/2018).

Baca Juga: Kawanan Pembuat Teror, Diringkus Tim Anti Teror Polres Lumajang 

Menurut Sono, korban pertama kali ditemukan seorang warga Dusun lembang yakni Sultan alias Papa Nassu’ di sungai Lembang dalam keadaan tak berdaya.

Selanjutnya kata Sono, sesuai pengakuan warga yang menemukan korban, sepeda motor yang korban gunakan dalam keadaan posisi standar samping tanpa ada yang rusak parah. Sementara sendal yang dikenakan, ditemukan di atas jembatan, sedangkan kopia miliknya ditaruh diatas keranjang motor dengan posisi dijepit.

“Kejanggalan yang lain yang kami temukan, ternyata gigi almarhum bapak saya habis tercabut tanpa ada tanda tanda benturan dibagian bibir, tetapi anehnya, lidahnya itu terpotong,” Terang Sono.

Untuk mendapatkan pertolongan pertama, selanjutnya korban dibawa ke rumah Bidan terdekat yang diketahui bernama Nasra. Guna mendapatkan perawatan yang intensif, selanjutnya korban dilarikan ke RS Kondo Sapata Mamasa. Namun pihak rumah sakit langsung merujuknya ke RS Umum Polewali Mandar. Hal serupa dilakukan pihak Rumah Sakit Polewali Mandar sebab korban tak dirawat inap, tetapi juga merujuknya ke Rumah Sakit Wahidin Makassar.

Tepat 22 Mei 2016, Ahmad Taslim menghembuskan nafas terakhirnya di RS Wahidin Makassar. Selanjutnya, jenazah korban dipulangkan dan disemayamkan di Desa Botteng Dusun Kata-Kata pada tanggal 23 Mei 2016.

Setelah dimakamkan sejumlah keluarga tak puas atas meninggalnya Ahmad Taslim dengan berbagai kejanggalan yang tidak masuk diakal. Sehingga keluarga korban melaporkan kejadian ini ke Polsek Mambi.

“Polsek mambi kurang merespon laporan kami, dan pada akhirnya laporan ini diteruskan ke Polres Mamasa,” ujar Sono.

Setelah dilaporkan, pihak Polres Mamasa melakukan penyelidikan, dan meminta untuk dilakukan otopsi. Akhirnya Pada tanggal 02 September 2016 dilakukan otopsi. Dari hasil otopsi ahli porensik Polda Sulbar, ditemukan indikasi penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

“Setelah diotopsi, Kasat Reskrim Polres Mamasa saat itu masih dijabat Syamsuriansyah, kepada keluarga mengakui penyebab meninggalnya bapak saya karena adanya indikasi penganiayaan,” ungkap Sirwan anak almarhum.

Baca Juga: Kasus Dugaan Pembunuhan, Keluarga Korban Tuding Penyidik Polres Sumenep Lalai 

Meski telah dilakukan otopsi, namun kasus ini tak berujung pada proses pengungkapan siapa dibalik otak pembunuhan zadis ini. Kelurga korban sempat meminta pihak penyidik untuk memperlihatkan hasil otopsi, namun pihak Polres Mamasa menolak untuk memperlihatkan.

Sejak tahun 2016 pasca kasus ini, terhitung telah sebanyak empat kali pergantian Pimpinan Polres Mamasa, namun kasus ini tak kunjung terungkap. Entah apa motif dibalik lambatnya kasus ini terungkap. Yang jelas pihak kelurga berharap agar kasus yang memilukan ini segera dituntaskan.

Keluarga korban juga telah melaporkan kasus tersebut yang kandas dibawa meja penyidik Polres Mamasa kepada Ombudsman perwakilan Sulawesi Barat namun masi belum ada tanggapan dari pihak Polres Mamasa.

Kapolres Mamasa AKBP Arianto mengatakan pihaknya akan berusaha dalam mengungkap kasus tersebut untuk itu melalui Sat Reskrim Polres Mamasa pihaknya sangat berusaha semaksimal mungkin dalam menangani kasus tersebut.

“kami tentunya berupaya semaksimal untuk melakukan pengungkapan kasus tersebut, harapan kami info masyarakat sangat berarti bagi kepolisian dalam mengungkapnya”, Kata Arieanto saat ditanya melalui via telpon.

Sementara Kepala Satuan Reserse Kriminal, Polres Mamasa, Iptu Dedi Yulianto SH saat dikonfirmasi melalui via Whatshap tidak memberikan komentar apapun, pihaknya hanya meminta pihak keluarga untuk datang ke Polres bertemu dengannya.

“Minggu depan kami tunggu di kantor dan kami jelaskan semuanya ke pihak keluarga”, Singkatnya saat di hubungi melalui via Watshaap.

Reporter : Bung Wahyu
Editor : Amin
Publiser : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here