Polisi Pelindung Rakyat Bukan Musuh rakyat

Reporter: Ipul

Malut, Kamis (24/11/2016) suaraindonesia-news.com – Kepolisian RI wilayah hukum Polda Maluku Utara kembali tercoreng dengan ulah oknum Polsek Pulau Moti dan anggota Polres Halmahera Selatan. Mereka diduga melakukan tindakan main hakim sendiri menyebabkan masyarakat menjadi korban. Dengan dua kasus ini mengindikasikan, ‘Polisi bukan lagi pelindung rakyat’.

Peristiwa ini terjadi pada Selasa, 22 November 2016 dini hari. Berawal dari seorang pemuda bernama Riski Kajul baru pulang dari pesta ronggen di salah satu rumah penduduk setempat, mampir di Halte Bus tiba-tiba didatangi beberapa oknum polisi tak berpakaian dinas langsung menghajarnya hingga hidung berdarah.

Mendengar Riski dipukul, sejumlah pemuda mendatangi TKP mencari tahu. Eh, malah mereka dihajar ramai-ramai oleh oknum polisi berpakaian preman ini. Ponakan Riski, Candra Kuraba berusaha menyelamatkan pamannya terkana pukulan dari polisi. Meski mereka dipukul menggunakan kayu, namun tak dibalas lantaran diketahui lima pemuda itu anggota Polisi.

Anggota Polisi lain yang mendengar kejadian itu datang dilokasi, bukannya mengamankan suasana, malah itu ikut membantu lima temannya sudah mabuk itu menghajar warga hingga ada yang hidung dan telinga berdarah serta gigi goyah.

Setelah tak berdaya, mereka diseret paksa yang berjarak sekitar 300 meter. Akibatnya Candra mengalami luka gores ditubuhnya. Tak hanya itu, Candra dipukul hingga pingsan. Warga lantas melapor ke Polsek Obi. Kapolsek memfasilitasi pertemuan antara pihak korban melibatkan pemerintah kecamatan, Koramil dan pihak perusahaan untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. Namun pihak keluar korban menolak penyelesaian damai dan meminta kasus ini diproses hukum.

Kapolres Halmahera Selatan AKBP Z. Agus Binarto mengaku, kasus ini sedang ditindaklanjuti. Kasat Reskrim telah berangkat ke Obi dan berjanji akan memproses anggotanya yang melakukan penganiayaan dalam keadaan mabuk itu. Menurutnya, anggota PAM yang terlibat melakukan penganiayaan akan segera ditarik dan diperiksa  Propam, juga akan diproses di Polda. Apalagi sesuai informasi kata Agus, anggota minum minuman keras adalah fatal dan tidak ada pembenaran.

Bukan hanya itu saja di  Kecamatan Pulau Moti, tiga tahanan dianiya hingga babak belur oleh oknum anggota Polsek bersama Lurah Takofi Andi M. Nur. Ketiga tahanan yang dianiaya itu adalah Udin Amin, Amirudin dan Akmal Jufri. Oknum anggota Polsek ini menganiaya tahanan, karena dituduh melakukan peniayaan anak sang lurah bernama Risal pada Sabtu, 19 November lalu.

Ironisnya, oknum anggota Polsek Moti berinisial SW alias Safrudin memaksa menjebloskan ketiga orang bersaudara ini ke tahanan sebelum interogasi lantaran Safrudin berteman baik dengan anak sang lurah. Tak hanya dianiaya, ketiganya diduga diintimidasi secara fisik dan psikis.

Khusus kasus di Pulau Moti, Kapolda Brigjen Polisi Tugas Dwi Apriyanto tampaknya tak main-main. Kapolda menegaskan, polisi tidak boleh melakukan penyikasaan dalam kasus apa pun, apalagi sudah berada dalam tahanan. Tugas berharap, tidak ada tahanan yang disiksa, apabila ada yang disiksa oknum anggota polisi bersangkutan akan ditindak tegas.

Selain di Pulau Moti, di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan lima oknum polisi yang ditugaskan melakukan pengamanan PT Mega Surya Pratiwi diduga menyerang dan menganiaya sejumlah warga. Dilaporkan, tiga warga babak beluar dalam insiden itu. Ironisnya, tindakan oknum Polisi ini dilakukan dalam keadaan mabuk berat. Padahal, komitmen Kapolda Maluku Utara Brigjen Tugas Dwi Apriyanto memberantas minuman keras dan narkoba, justru anggota mabuk dan menganiaya masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here