Peti Jenazah Amintyas Tiba di Rumah Duka, Gang Vanili Dipenuhi Tangisan

Para keluarga langsung menangis sambil memeluk peti jenazah Almarhum Amintyas Wahyudi saat tiba di rumah duka. (Foto: Guntur Rahmatullah)

JEMBER, Rabu (13/6/2018) suaraindonesia-news.com – Tak terbendung lagi, akhirnya suara tangisan pun saling bersahutan saat ambulance pengangkut jenazah Amintyas Wahyudi tiba di rumah duka, Gang Vanili Talangsari Jember, sekitar pukul 16:48 WIB tadi petang menjelang berbuka puasa.

Ketika peti jenazah dikeluarkan dari ambulance, langsung digruduk oleh keluarga yang semakin deras air mata keluar dari istri, anak dan ibu kandungnya sambil memeluk peti itu. Gang itu pun bak lautan manusia, sesak, riuh dengan suara tangisan dan juga bacaan tahlil saat peti jenazah dikeluarkan dan digotong masuk ke rumah duka.

“Alhamdulillah berkat perjuangan dan doa, Ya Allah saya berterima kasih pada-Mu, terima kasih anak kami ada yang menolong. Terima kasih bagi yang sudah menolong, semoga kebaikan dibalas oleh Allah,” ucap Misti, ibu kandung almarhum Amintyas Wahyudi, sang pahlawan devisa.

Ibu Misti menceritakan awal mulanya dia tidak rela jika Amintyas (anaknya) merantau ke luar negeri 4 bulan yang lalu.

“Saya sebenarnya tak rela dia ke Malaysia, karena di sini sudah ada pekerjaan tinggal duduk dan menunggu pembeli, bulan lalu saya sempat video call dengannya, dia baik-baik saja, namun kemudian seorang temannya mengabari bahwa anak saya kritis dan harus dirawat di rumah sakit,” tutur ibu Misti.

Almarhmum di Malaysia bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah kantor perusahaan.

Kemudian oleh keluarga di rumah Jember diberikan doa sambil video call dan dikirim doa agar sehat bersama seorang kyai.

“Saat itu video call dan dikirim doa, dia disana sempat muntah seperti berupa lumpur, habis itu linglung. Beberapa hari lagi juga keluar seperti lumpur lewat hidungnya, padahal saat diperiksa dokter di rumah sakit tidak apa-apa, jantungnya sehat,” ujarnya.

Sepekan almarhum dirawat di rumah sakit Kuala Lumpur Malaysia kondisi kesehatan makin memburuk dan kritis. Setelah Amintyas menghembuskan nafas terakhir.

“Tanggal 27 Mei tidak ada umurnya, kami bersedih dan bingung harus bagaimana agar jenazah bisa sampai Jember,” ujarnya.

Selama bekerja di Malaysia, almarhum merupakan seorang ayah yang baik dan mengirim nafkah tiap bulan. Bahkan hutang untuk berangkat ke Malaysia juga sudah terlunasi. Jenazah Amintyas sebelumnya dalam pemulangan ke Jember dibantu langsung oleh Bupati Faida serta sejumlah pihak.

“Kami meminta camat dan kepala desa untuk mendata warga jember yang menjadi TKI yanh terdaftar maupun yang belum terdaftar, khusus yang belum terdaftar untuk diproses menjadi TKI yang terdaftar sehingga dapat menerima haknya bila ada musibah,” terang Bupati Faida.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here