Pengrajin Tusuk Sate di Curahlele Minta Pemberdayaan

Salah satu warga pengrajin tusuk sate sedang menjemur tusuk sate. (Foto: Guntur Rahmatullah/ Suara Indonesia News)

JEMBER, Jumat (16/3/2018) suaraindonesia-news.com – Apa yang muncul di pikiran Anda ketika mendengar kata sate? Daging yang dipotong kecil-kecil, ditusuk dan dibakar di atas bara api, dilumeri dengan saus kacang yang lezat, inilah kuliner khas Indonesia yang melegenda, pilihan dagingnya pun beragam, yang paling dikenal ialah sate ayam dan sate kambing.

Namun ada yang harus digaris bawahi dari penamaan sate itu sendiri, tidak dikatakan sate jika tidak ditusuk, dari situlah potensi ekonomi yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Curahlele, Kec. Balung, Kab. Jember.

Masyarakat Desa Curahlele, dewasa ini menangkap potensi penghasilan dari kuliner yang melegenda ini yaitu menjadi pengrajin tusuk sate, bahkan dari banyaknya pengrajin, Desa Curahlele kini lebih dikenal dengan sebutan Desa Tusuk Sate.

Menurut pengakuan warga, setidaknya ada sekitar 100 orang pengrajin tusuk sate di desa ini, di antaranya juga sebagai pengepul.

Potensi penghasilannya pun lumayan menggiurkan untuk tambahan pemasukan, mulai puluhan hingga ratusan ribu rupiah perharinya.

Salah satu warga, Tipyani, seorang pengrajin sekaligus pengepul tusuk sate menjelaskan bahwa ada klasifikasi tusuk sate berdasarkan kualitasnya yang dihasilkan oleh warga di antaranya packingan dengan kualitas kasar dan halus, serta tanpa packing.

Packingan dengan kualitas halus dijual Rp. 2500 / pack dengan isi 170 tusuk sate, sedangkan packingan dengan kualitas kasar dijual Rp. 1.750 / pack dengan isi 200 tusuk sate.

“Kalau packingan kualitas halus, labanya Rp. 1000 per pack dan kualitas kasar Rp. 750 per pack labanya,” tutur Tipyani yang juga menjadi pengepul dari 20 orang pengrajin ini.

Dalam sehari, ibu dari dua orang anak ini mampu menjual hingga 100 pack perhari baik packingan dengan kualitas halus maupun kasar, dengan pemasaran di berbagai wilayah Kabupaten Jember.

Tipyani mengatakan bahwa Pemerintah Desa Curahlele pada 2017 telah memberikan bantuan berupa mesin tusuk sate kepada beberapa kelompok.

“Tahun lalu, pak kades memberikan bantuan mesin kepada kelompok, perkelompoknya ada 8 -10 orang pengrajin,” imbuhnya.

Sedangkan untuk tusuk sate tanpa packing dijual Rp. 12.000 per ikat yang berisi 2000 tusuk sate. Salah satu warga yang khusus menjual tusuk sate tanpa packing ini adalah Dedy Lukman yang khusus memasarkannya ke Pulau Dewata, Bali.

Pria yang akrab disapa Lukman menjelaskan bahwa dalam 15 hari, dirinya mampu menjual 600 ikat tusuk sate tanpa packing dengan harga perikatnya dijual Rp. 16.000 di Bali karena ada tambahan biaya kirim, pemasarannya meliputi wilayah Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan, Bali.

“Untuk saya pribadi, memang penjualan cenderung tidak ada penurunan di Bali, namun tetap untuk meningkatkan kualitas, saya dan juga pengrajin lainnya membutuhkan pemberdayaan dari Pemerintah agar produk kami semakin maksimal dan menaikkan harga jual,” ucap Lukman, pengepul dari 10 orang pengrajin tusuk sate ini.

Lukman mengatakan bahwa Pemerintah belum memberikan pemberdayaan peningkatan kualitas kepada pengrajin tusuk sate ini.

“Saya punya teman dari Malang, dia bisa sampai punya pelanggan dari Samarinda karena kualitasnya yang bagus setelah mendapatkan pemberdayaan dari Pemerintah Daerahnya,” imbuh Lukman.

Mengenai pemasaran, Lukman berharap Pemerintah dapat menjembatani, karena untuk menjangkau pasar yang lebih besar lagi diperlukan beberapa persyaratan yang pengrajin kecil tidak mampu untuk memenuhinya, seperti kekuatan modal yang besar, badan hukum usaha, sehingga jika Pemerintah menampung dan memberikan jalan pemasaran, itu akan meringankan masyarakat untuk menjangkau pasar yang lebih besar lagi.

Ketua Bumdes Curahlele, Luluk Ilmida mengatakan bahwa pihak Bumdes masih belum ada kerjasama dengan masyarakat karena Bumdes ini baru berdiri tahun lalu.

“Nanti bertahap kami akan mengajak masyarakat untuk bekerjasama dengan Bumdes,” tutur Luluk, Kamis (15/3).

Luluk membenarkan bahwa Pemerintah Desa pada tahun lalu telah memberikan bantuan berupa mesin pembuatan tusuk sate.

“Tahun kemarin memang ada bantuan berupa 10 unit mesin pembuatan tusuk sate kepada 10 kelompok, perkelompok 10-13 orang,” imbuhnya.

Produk tusuk sate akan dijadikan produk unggulan Bumdes, sehingga Bumdes nantinya akan memanajemen produk tusuk sate sebagai komoditas andalan desa Curahlele.

Sementara itu, Sekdes Curahlele, Muhammad Fauzi Rizal mengatakan bahwa memang selama ini belum memberikan pemberdayaan peningkatan kualitas seperti yang diminta masyarakat.

“Tahun ini akan kami data ulang, dan kami jembatani untuk memasarkan melalui online, selanjutnya kami akan berusaha bersinergi dengan instansi pemerintahan di Kabupaten untuk mewujudkan permintaan masyarakat ini,” terang Fauzi.

Reporter : Guntur Rahmatullah
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here