Pengamat: Demi Elektabilitas, Gerindra “Hajar” Jokowi

Dalam sebulan, Gerindra konsisten membangun pesona Prabowo di Twitter.

Jakarta, suaraindonesia-ews.com – Lembaga pemantau media sosial, Katapedia, meneliti bagaimana strategi partai-partai politik peserta Pemilu 2014 meningkatkan elektabilitas masing-masing. Salah satu hasilnya mereka menemukan bahwa Partai Gerindra menggunakan strategi “menghajar” Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk meraih popularitas dan elektabilitas.

“Untuk bisa menjadi populer, kita harus menembak yang populer. Supaya jadi wangi, kita harus dekat-deket tukang parfum,” kata Direktur Katapedia, Deddy Rahman, dalam konfrensi pers di Cikini, Jakarta, Senin 2 Desember 2013.

Deddy menjelaskan dalam sebulan terakhir, Gerindra konsisten membangun pesona Prabowo Subianto di Twitter. Selain itu, mereka juga menjadikan Jokowi sebagai sasaran tembak, dengan menjegal pencapresan mantan wali kota Surakarta itu.

“Mereka mengkampanyekan Jokowi tetap di DKI saja, kemudian Prabowo lebih hebat dari Jokowi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Deddy mencatat Gerindra juga aktif menyebarkan isu di media sosial bahwa blusukan, yang menjadi pendekatan favorit Jokowi kepada masyarakat, kontra produktif. Bahkan, menganggap blusukan adalah kampanye gratis dengan dana negara.

“Jokowi top survei tapi belum capres, Prabowo sudah capres,” lanjut Deddy menirukan kicauan pendukung Gerindra di Twitter.

Popularitas Tertinggi

Dalam riset Katapedia ini, Gerindra mendapatkan popularitas tertinggi dengan 19,67 persen. Partai-partai lain berada di bawah mereka yaitu Nasdem 13,68 persen, PKS 12,97 persen, PDIP 12,12 persen, Golkar 11,45 persen, Hanura 10,17 persen, PPP 9,84 persen, dan Demokrat 9,65 persen.

Sedangkan, PKB, PKPI, tidak begitu aktif. PBB dan PAN tidak masuk ke dalam analisa karena atau kata kuncinya terlalu luas. Mereka tidak hanya menyangkut tentang partai tetapi menyangkut keyword lain seperti PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa, Pajak Bumi dan Bangunan), PAN (PAN Islamisme dll).

Penelitian tersebut dilaksanakan selama 30 hari terakhir, dari 1 November hingga 1 Desember. Metode yang digunaan adalah memantau aktivitas atau percakapan puluhan ribu akun Twitter dan Facebook di media sosial seperti mention, reply, hastag, dan lain-lain dengan menggunakan software tertentu.

Sumber : VIVAnews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here