Pemuda, Ayo Bangun Desa Dan Kawal Dana Desa

Satory

Oleh : Satory
Forum Kajian Desa Lumajang

LUMAJANG, Rabu (26/9/2018) suaraindonesia-news.com – Ketika bicara tentang desa, ingatan kita pasti tertuju pada hamparan sawah yang hijau, sungai-sungai yang jernih airnya, kebun yang rindang, penduduknya yang ramah, gotong royong dan sebagainya. Bayangan-banyangan tersebut menjadikan desa sebagai bagian yang tak terlupakan. Akan tetapi, desa yang menjadi tempat tinggal impian sebagian orang kini menjadi sepi peminat. Desa telah ditinggalkan sebagian penghuninya.

Pemuda yang disebut-sebut sebagai agen perubahan kini berbondong-bondong pergi ke kota dengan harapan bisa hidup layak. Mereka menjadi pegawai pabrik, menjadi karyawan kantoran ataupun pertokoan dengan iming-iming gaji yang cukup besar. Desa yang sebenarnya menyimpan banyak potensi, menjadi semakin impotensi akibat ditinggalkan oleh warga dan pemudanya. Desa kemudian hanya dieksploitasi tanpa diperhatikan upaya pengembangannya.

Pada tahun 2015, pemerintah mengalokasikan dana untuk desa melalui kabupaten. Digelontorkannya dana desa sejalan dengan visi pemerintah untuk membangun Indonesia dari desa, dan kebijakan ini menjadi harapan baru untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Yang kemudian menjadi persoalan adalah apalah artinya digelontorkannya dana desa jikalau desa ternyata tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup dan kreatif untuk mengelolanya?

Desa telah kehilangan pemudanya. Yang tersisa, hanyalah generasi tua.

Dana desa yang jumlahnya ratusan juta hingga miliaran rupiah tiap desa itu, tentu perlu pengawasan yang memadai sehingga masyarakat bisa memastikan penggunaannya tepat sasaran dan efisien. Karena, apabila kita mengamati pemberitaan di media, sudah banyak penyelewengan yang dilakukan oknum desa terhadap dana desa ini.

Hal ini tentu sangat ironis, padahal banyak hal yang harus dilakukan dengan dana tersebut, mulai dari pengentasan kemiskinan, pengangguran, perbaikan fasilitas umum, pendidikan, kesehatan, atau pembangunan infrastruktur. Karena penyalahgunaan itu, berdampak pada tersendatnya pembangunan desa.

Persoalan ini tentu mengkhawatirkan dan tidak bisa dibiarkan. Jangan-jangan dana desa bukanlah solusi dari masalah yang ada, malah menimbulkan masalah yang baru. Lalu, apa yang bisa dilakukan pemuda desa seperti kita?

Desa memerlukan tenaga-tenaga muda. Desa membutuhkan pemikir-pemikir yang bersih, kritis dan memiliki inovasi dan kreativitas.

Desa membutuhkan orang-orang cerdas yang tak mudah terbawa arus politik desa yang pragmatis. Pemuda desa perlu mengawal dan mengawasi dana desa yang jumlahnya tidak sedikit tersebut agar bisa dipastikan manfaatnya bisa dirasakan oleh semua masyarakat desa.

Dalam UU desa no 6 tahun 2014, pengelolaan dana desa yang baik akan memperlancar pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here