Pandangan dan Harapan Husin Shahab Tentang Masa Depan Umat Islam Indonesia

Oleh: Syafrudin Budiman SIP
Lewat deringan Hand Phone dan diselingi wawancara chat via facebook massanger Husin Shahab seorang intelektual muda muslim menjawab semua padangan dan harapan tentang Islam Indonesia kedepannya di era revolusi komunikasi dan era peradaban baru kemajuan tehnologi dan informasi. Pria bujang kelahiran Sumenep  Sumenep, 26 April 1984 ini menjawab satu-persatu setiap pertanyaan yang diajukan. Sebagai seorang yang ahli dibidang  Filsafat Islam khususnya main subject Studi Islam, Perbandingan Agama dan Mazhab, Husin Shahab sangat paham benar tentang perbandingan antar mazhab dan aliran politik Islam di timur tengah. Berikut wawancara Syafrudin Budiman SIP dengan Husin Shahab secara tuntas tentang masa depan umat Islam Indonesia;
 
Pandangan anda tentang Islam di Indonesia seperti apa?
Islam di Indonesia sebagaimana yang dibawa oleh para wali dan habaib ke Indonesia yaitu menebarkan Islam rahmatan lil alamin, tidak melakukan invansi terhadap budaya nusantara dan menghancurkan peradaban yang ada. Berbeda dengan Islam yg masuk ke Asia seperti ke Birmah, Srilangka, Pakistan dan India pada masa Abbasyiah yg menyebarkan fanatisme kearaban sehingga muncullah paham intoleransi beragama di sana.
Bagaimana kehidupan beragama di Indonesia saat ini? 
Dari sudut pandang masyarakat awam, agama masih kental dengan fanatismenya mau itu dari penganut agama Islam dan agama-agama yang lain. Sedangkan ditataran akademik agama di Indonesia menjadi pedoman penganutnya. Namun, bagi para ahli propaganda politik, agama dijadikan alat untuk kepentingan politik mereka.
 
Islam di Indonesia kedepan harus seperti apa? 
Islam adalah agama yang dinamis, bukan hanya tekstual namun kontekstual yang apabila dikaji lebih dalam seharusnya Islam menjadi pedoman bagi rakyat Indonesia terhadap penerapan kekinian. Di negara lain, Islam dijadikan rujukan untuk memajukan dan memodernisasi negaranya dengan teknologi, saintis dan kedokteran. Qanun, buku karangan Ibnu Sina di Harvard, Amerika dijadikan rujukan untuk menemukan metode pengobatan terkini. Harusnya masyarakat Islam di Indonesia sudah lebih dulu melakukan itu.
 
Politik Islam menurut anda harus seperti apa? 
Secara garis besar, politik Islam itu politik ilahia, politik kepentingan Allah Swt terhadap alam, dimana itu hanya dapat dimiliki oleh Allah yg diturunkan kepada rasul-Nya Muhammad Saw. Politik Islam ini tidak bisa digunakan oleh siapapun karena hak prerogatif Allah dan rasul-Nya dan ketika kita mengaitkan Islam dengan politik harus sesuai dengan tujuan Islam itu sendiri yaitu menyebarkan rahmat ke seluruh alam (bagi seluruh rakyat Indonesia), yaitu politik yang memberikan keadilan terhadap masyarakat (semua), tidak membedakan itu muslim atau non-muslim. Untuk di Indonesia, politik Islam sudah difiltrasi (disarikan) oleh penggagas Republik Indonesia, Ir Soekarno ke dalam PANCASILA.
 
Pancasila sebagai dasar bernegara bagaimana pelaksanaannya saat ini? 
Pelaksanaan Pancasila masih kurang maksimal, karena jika itu sebagai pedoman bernegara seharusnya Negara Indonesia sudah maju dan bebas hambatan dari persoalan keyakinan rakyatnya. Karena masalah persoalan keyakinan rakyat ini jika masih dan menjadi polemik, negara akan lebih mudah digoyang dengan persoalan keyakinan apabila keadilan tidak merata. Persoalan utama negara ini adalah jenjang sosial ekonomi masyarakat sangat jauh. Sila Ke-3 dan Sila Ke-5 belum dilaksanakan dengan maksimal.
 
Pancasila sebagai dasar negara apa yang harus diterapakan pada generasi muda dan generasi mendatang? 
Bagi generasi muda yang punya kemampuan sudah sepatutnya membangun negeri ini dengan gagasan terhadap pembangunan terbarukan, kreatifitas dibidang teknologi dan meningkatkan kualitas sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Persoalan mendasar penerapan Pancasila adalah, masyarakat yang tidak mampu (ayah-ibu) jangan lagi dibebani dengan iuran pendidikan anaknya. Termasuk biaya sekolah sampai keperluan pendukung pendidikannya, seperti baju, sepatu, alat tulis dan buku pelajaran yang dikoordinir oleh tiap lembaga pendidikan setempat. Keadilan pendidikan bagi seluruh anak bangsa harus menjadi implementasi utama Pancasila ditengah masyarakat.
 
Islam adalah mayoritas di Indonesia seharunya berada dalam posisi seperti apa? 
Islam adalah agama rahmah, sebagai agama yg dianut oleh mayoritas masyarakat di Indonesia harus mengayomi dan menghormati penganut agama selain Islam. Artinya, apabila para penganutnya merangkul dan mengayomi penganut agama lain Islam akan dihormati dan diterima mungkin bahkan akan dijaga oleh mereka apabila ada oknum yang akan merusak Islam dari dalam.
 
Banyaknya kasus isu-isu SARA yg akhir-akhir muncul harus disikapi seperti apa?
Pertama, memberikan pandangan objektif terhadap pokok masalah dari kasus SARA yang dilakukan oleh kelompok intoleransi. Kedua, harus ada resolusi konflik dengan cara pendekatan persuasif yang diwakili oleh tokoh agama dan ulama setempat untuk menjelaskan pokok permasalahan kepada masyarakat. Ketiga, membangun rasa nasionalisme, gotong royong, membangun kesadaran atas identitas yang sama walau berbeda-beda agama namun masih satu bangsa dan negara yang sama.
 
Apa masukan anda kepada pemerintah agar kebhinekaan Indonesia terus terjaga di NKRI? 
Pemerintah perlu merangkul seluruh elemen masyarakat, mau itu yang pro terhadap pemerintahan dan yang bukan. Artinya, rentannya perbedaan yang berujung konflik dan munculnya isu SARA karena ada sisi keadilan yang belum terpenuhi dan mereka merasa dibeda-bedakan. 
 
Terakhir, bagaimana langkah kita membangun keberagaam di Indonesia agar terjaga dengan damai dan aman? Tidak membeda-bedakan perbedaan SARA yang ada ditengah masyarakat, tidak mencaci, menghina, mendiskreditkan dan harus membangun solidaritas antar semua elemen masyarakat. Ketika itu sudah tercipta, secara moril orang akan sungkan untuk menyinggung perbedaan yang ada. Maka dengan sendirinya perbedaan yang ada di Indonesia akan terjaga dengan aman dan damai.

Biodata Pribadi

Nama                                    : Husin Shahab
Tempat, Tanggal Lahir    : Sumenep, 26 April 1984
Jenis Kelamin                     : Laki-laki
Agama                                  : Islam

Data Pendidikan

Formal
Sarjana S1                           : Universitas Pancasila, Fakultas Hukum (Kelas Karyawan),
Main subject: Hukum Intenasional, Hukum Antar Bangsa, Arbitrasi
Internasional (Angkatan 2013)
Perguruan Tinggi (S1)     : Al-Mustafa International University – Iran, Jurusan Filsafat Islam, Main subject: Studi Islam, Perbandingan Agama dan Mazhab (2010)
SMU                                      : Madrasah Aliyah Negeri 1, Jurusan IPS, Sumenep (2004)

Non – Formal
Kursus Bahasa                   : Program Bahasa Persia, Madrasah Al-Mahdi, Qom – Iran,
Main subject: Percakapan, mendengar, menulis dan tata bahasa (2006)
Kursus Bahasa                   : Program Bahasa Arab, Al-Mustafa International University – Iran,
Main subject: Percakapan, mendengar, menulis dan tata bahasa (2009)

Training Paralegal             : Program Paralegal, YLBHU Cijeruk – Sukabumi,
Main subject: Training of Trainer resolusi konflik dan blue print area konflik
(2014)
Training Paralegal             : Program Paralegal, YLBHU Jepara – Jawa Tengah,
Main subject: Deradikalisasi, Isu sektarian Sunni – Syiah (2015)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here