Menuju Negara Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur

Dhafir Munawar Sadat

Oleh : Dhafir Munawar Sadat
Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Patut bersukur kepada yang maha kuasa bagi mereka yang mendiami bumi Nusantara yang Gemah Ripah Loh Jinawih, Toto Tentrem Kerto Raharjo, tidak berlebihan kiranya jika kalimat seperti itu ditujukan untuk Indonesia, dari Sabang sampai Merauke berjejer Pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia, begitu kira-kira bait lagu ciptaan R Suharjo, berapa puluh tahun yang silam beliau menciptakan lagu ini, sangat cocok dengan kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah, Apakah Negeri seperti ini yang disebut Negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur?

Negeri yang makmur dan damai diungkapkan dengan kalimat Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbhun Ghaffur, secara bahasa berarti: ”Negeri yang baik dengan Tuhan Yang maha pengampun”. Makna “Negeri yang baik (Baldatun Thoyyibatun)” bisa mencakup seluruh kebaikan alamnya, dan “Rabb yang maha pengampun (Rabbun Ghafur)” bisa mencakup seluruh hasanah atau kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan dari Allah Azzawajallah.

Lalu bagaimana cara mewujudkan Negeri yang “Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghaffur”? Untuk mewujudkan Negeri yang baik yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah adalah Mohammad Muslih dalam khotbahnya mengatakan bisa terwujud  dengan mewujudkan beberapa hal berikut:

Pertama, Ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Ikhlas merupakan syarat terwujudnya Negeri yang baik, sebab dengan keikhlasan dalam beribadah, bekerja, berjuang dan beramal sholeh sebagai pertanda sikap syukur yang sebenarnya dan telah sampainya tujuan diciptakannya manusia yaitu mengabdi kepada Allah dengan didasari keikhlasan yang tinggi.

Kedua, Akhlak penduduknya yang mulia, Ahlak yang mulia merupakan pilar terwujudnya masyarakat dan bangsa yang baik. “Masyarakat yang sejahtera, aman, dan damai hanya dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan, bertolong-menolong dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syetan yang berwjud manusia dan hawa nafsu,” baik gangguan dari luar maupun dari dalam sendiri.

Ketiga, Seimbang artinya adanya keseimbangan yang indah antara urusan dunia dan akherat. Rasulullah bersabda: ”Aku adalah manusia terbaik, aku makan dan minum tetapi aku juga berpuasa, aku istirahat dan tidur tetapi aku juga mendekati istri, aku bangun menjalankan shalat tetapi aku juga bekerja mencari kehidupan dunia.
Itulah keseimbangan hidup,bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.

Keempat, Bertaubat dan beristhigfarlah meraih ampunan Allah karena setiap manusia tentu tak luput dari dosa, tetapi siapa yang bertaubat memohon ampun kepada Allah SWT, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Bagimana dengan Indonesia, apakah masuk atau belum atau mungkin baru mau menuju ke kriteria Negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur yang ada di atas. Namun perlu digaris bawahi, bagaimana mau dikatakan Negara yang aman, damai, tentram, sedangkan disana sini, masih banyak ketidak adilan, masih banyak penduduknya yang berada di bawah garis kemiskinan, pemimpinnya yang penuh dengan nafsu angkara dalam menjalankan roda kepemerintahannya.

Insya Allah suatu saat Allah Yang Maha Kuasa aka segera menurunkan RahmatNya kepada bumi nusantara negara Indonesia, mungkin berupa pemimpinnya yang selalu mengedepankan Uswahtun Hasanah sebagaimana Nabi Muhammad SAW di utus ke dunia, atau paling tidak sama seperti keadaan para sahabat Khulafaurrasidin menjadi pelayan ummat, rakyat hanya bisa mengharap, agar Negara indnesia betul-betul menjadi Negara Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur, Amien…

Kraksaan, Sabtu 08 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here