Mengaji Islam Moderat Kepada KH Yahya C. Staquf

M. Holil

Kehadiran KH YAHYA CHOLIL STAQUF ke ISRAEL dan beredarnya Video wawancaranya di acara AJC menuai kontroversi, walaupun sudah ada penjelasan bahwa posisinya dalam rangka membela Palestina tetapi tetap saja tidak mampu memadamkan kritik dan caci maki, lebih-lebih banyak pihak yang menilai tidak ada satu kalimatpun di Video tersebut yang secara eksplisit menyatakan dukungan atau pembelaannya atas Palestina.

Melihat langkah Yahya sebenarnya bisa dibaca dengan menggunakan pendekatan etika, yaitu dengan melihat Maqasid, Tathbiq, n Ghayah.

1) Maqasid (motif) adalah ‘amalul qolbi, motif lumrah disebut niat, motif menjadi asas bagi semua tindakan manusia, bahkan di dalam fiqh ada ungkapan sah atau tidaknya sebuah ibadah bergantung pada niatnya الأمور بمقاصدها pada aspek ini sebenarnya tidak ada yang mengetahui Motif dari keputusan Yahya kecuali Yahya sendiri, tapi saya berhusnudzan dan yakin bahwa Yahya memiliki i’tiqad baik untuk membela Palestina dan bahwa pembelaan terhadap kaum tertindas adalah selalu baik dimanapun dan kapanpun.

2) Tathbiq, dalam bahasa Indonesia sering disebut penerapan, penerapan dari maksud atau niat. Cara Yahya melakukan pembelaan terhadap Palestina secara soft, dialog, dalam acara AJC (American Jewish Committee) merupakan manifestasi dari pembelaannya atas Palestina, bahkan dengan melontarkan kata-kata “mengedepankan rahmah dalam beragama” di forum tersebut adalah lebih dari cukup untuk menjadi awal pembelaan seandainya tidak ada kata-kata yang lebih eksplisit untuk diungkapkan, walaupun frase “by standing with Palestine (berada di Posisi Palestina)” yang menyatakan secara jelas dimana Posisi Yahya dalam konflik Israel-Palestina sebenarnya bisa di dengar dalam Video dialog ICFR (Israel Council for Foreign Affairs) dimana Yahya memberikan perspective berbeda pemecahan konflik dua negara tersebut dg prinsip nir-kekerasan.

3) Ghayah, apakah Ghayah (tujuan) dari kunjungan Yahya ke Israel tercapai? Jawabannya belum. hasilnya tidak bisa langsung dirasakan saat ini pula bahkan mungkin tidak menghasilkan apa-apa mengingat konflik Israel-Palestina sdh berusia tua bahkan lebih tua daripada usia Yahysendiri,ri akan tetapi setidaknya telah memberikan dinamika pada penyelesaian konflik, oleh karena itu tidak perlu meminta oleh-oleh dari Yahya selepas kedatangannya di tanah air karena permintaan itu sia-sia lebih baik belanja oleh-oleh sendiri agar tidak kecewa, namun demikian perspektif yang dibawa oleh Yahya dari Indonesia adalah alternatif pemecahan konflik yang layak dicoba.

Lalu, kenapa muncul kritik, hujat dan cacian? Sebagai jawaban, saya berasumsi bahwa kritik-kritik Dan caci maki yang dilontarkan kepada Yahya diakibatkan oleh setidaknya dua hal:

Pertama, sikap apatis bahwa tindakan Yahya tidak Akan berhasil mendamaikanan dua negara tersebut, berdasar fakta bahwa setiap kesepakatan terdahulu selalu berujung ketidak sepakatan.

Lalu bagaimana seorang Yahya harusnya bertindak? Hal yang perlu diingat adalah I’tikad yg baik harus dilaksanakan dengan baik الغاية لا تبرر الوسيلة , karena tindakan etis adalah baik pada dirinya بذاتها dan niatnya بمقاصدها, bukan pada akibatnya, perilaku jujur adalah selalu baik pada dirinya dan niatnya, bahkan KPK sampai mengkampanyekan adagium “Berani Jujur, Hebat” Untuk membangun mental non-koruptif, begitu juga pembelaan terhadap kaum tertindas adalah baik pada dirinya dan niatnya. Terkait apakah tindakan Yahya akan menghasilkan kebaikan atau tidak, itu tidak berada dalam kuasa Yahya, kuasa Yahya adalah beri’tiqad baik dan bertindak baik.

Bukankan sifat baik tidak selalu baik? Kalau ada ungkapan Jujur itu kadang baik dan Juga kadang tidak baik, maka ungkapan tersebut menyebabkan absurdnya nilai-nilai kebaikan, sedangkan absurditas menyebabkan tidak adanya nilai-nilai kebaikan pada dirinya.

Kedua, kritik-kritik yang ditujukan kepada Yahya dikarenakan sensitifitas politik dan Ideologi, sudah kebiasaannya pada tahun-tahun politik apapun bisa dikapitalisasi untuk kepentingan politik tertentu lebih-lebih Yahya masuk dalam lingkaran Istana, namun yang perlu diantisipasi adalah adanya tendensi memecah belah anak bangsa termasuk NU, mengingat agenda menghancurkan NU dengan merusak martabat tokoh-tokohnya dan membenturkan NU struktural-kultural semakin nyata.

Kenapa dikaitkan dengan NU? Kehadiran Yahya menawarkan rahmah ke Israel adalah keberanian, sedangkan keberanian adalah moderasi, tengah-tengah antara nekat dan pengecut, membawa layang-layang atau senjata untuk menyerang Israel bagi Yahya adalah tindakan nekat, karena Idenya Yahya adalah lebih mahal daripada kematiannya, atau Yahya hanya berkoar-koar di Media sosial dengan mengutuk mencaci sana-sini karena penindasan yang dialami Palestina maka itu sebenarnya tindakan pengecut, keberanian Yahya menyampaikan nilai rahmah dalam lawatannya ke Israel adalah cerminan dari Moderat Islam.

Begitu juga dialog, dialog adalah cermin Islam moderat, tengah-tengah antara angkat senjata atau cuek seribu bahasa, angkat senjata bisa saja dilakukan dan bahkan telah dilakukan tetapi selalu menghasilkan kesengsaraan baru, diam seribu bahasa adalah tindakan pengecut yang tidak sesuai dengan semangat bangsa, tetapi pribadi Yahya secara tidak langsung adalah representasi Islam Moderat ala NU.

Nah,  kritik mereka kepada Yahya sebenarnya bukan kritik terhadap Yahya sendiri, lebih dari itu sebenarnya kritik itu adalah sentimen kepada NU ذكر الجزئ و ارادة الكل yang dikritik dicaci adalah personnya (Yahya) tapi yang dituju adalah organisasinya (NU), karena NU sebagai Wadah Moderat Islam yang sekaligus mencerminkan Prinsip “خير الأمور اوسطها sebaik perkara adalah tengah-tengahnya” dianggap sebagai pengahalang ekstrim kanan sekaligus ekstrim kiri, sedangkan moderat adalah posisi yang paling sulit, posisi ini selalu diserang kiri-kanan. Namun Ingat! Sebaik-baik perkara adalah tengah-tengahnya, Kecuali Donat.

Minal Aidin wal Faizin

 

 

M.Holil
PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here