Limbah Domestik Penyumbang Terbesar Pencemaran Air Sungai Brantas

Diyah larasayu

Reporter : Adi Wiyono

Kota Batu, suaraindonesia-news.com – Kondisi air sungai brantas  sekarang ini  dalam status waspada, Pencemaran air sungai Brantas dalam batas ambang mengkhawatirkan. Sehingga semua pihak harus bekerja sama untuk terus mengurangi pencemaran air sungai terpanjang di Provinsi Jatim. Limbah Domestik Penyumbang Terbesar Pencemaran  Air Sungai Brantas.

Kepala Sub Bidang Komunikasi Badan Lingkungan Hidup (BLH)  Pemerintah Provinsi Jatim, Dyah Larasayu, saat menjadi pembicara pada diskusi Festival Brantas, Di  gedung among Tani balai kota Batu, Kamis (21/4/2016) siang mengatakan  bahwa kondisi air sungai brantas sekarang ini dalam status waspada  karena pencemaran  air sungai brantas makin  hari makin mengkwatirkan terutama yang menjadi faktornya adalah limbah domestic ayaitu limbah rumah tangga

“Kalau dilihat  indek air sungai Brantas yang diukur dari berbagai elemen pengujian mencapai 49.17 persen. Artinya untuk saat ini indek kualitas air sungai Brantas yang melintas di 17 kabupaten dan Kota di Provinsi Jatim masuk dalam kategori Waspada” kata dia.

Menurutnya,  Setiap tahun kita selalu melakukan penelitian dan pengujian kualitas air sungai Brantas. Ada 30 titik pantau yang kita uji. Yaitu mulai dari bawah jembatan Desa Pendem, di Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Sampai dibawah jembantan Petekan di Kota Surabaya, hasilnya limbah domestic  menjadi penyebab terbesar  terjadinya pencemaran.

“limbah domestic itu  diantaranya tinja, bekas air cucian dapur dan kamar mandi, termasuk sampah rumah tangga selalu dibuang kesungai, Selain itu yang menjadi penyebab pencemaran air sungai brantas  adalah limbah peternakan, industry, limbah pertanian” ucapnya

Lanjut dia, dilihat dari kandungan Dissolve Oxygen (DO), nilainya dibawah 4 mg/liter. Dampaknya makhluk hidup dialiran sungai Brantas banyak yang mati. Hal itu banyak terjadi dikawasan tengah hingga hilir sungai Brantas di Kota Surabaya.

Demikian halnya bila dilihat dari Biologi Oksigen Demand (BOD) dan Chemical Oksigen Demand (COD). Dua inikator ini dibawah standart semua. Tidak terkecuali dengan Fecal Coli mencapai 5-10 ribu mg/liter.

BLH  Pemprov Jatim  kata dia, sudah berusaha melakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi pencemaran sungai Brantas namun hingga kini belum membuahkan hasil yang maksimal.

“Kita selalu mengalakan pembuatan ipal komunal, pengawasan industry dan penegakan hukum. Tapi kalau masyarakat tidak mau mengubah budaya membuang tinja, sampah dan limbah ternak tetap  ke sungai. Maka pencemaran disungai brantas tetap  saja tinggitinggi” jelas Diyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here