Kenapa Memilih Rahmah?

M. Holil, Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo, Jawa Timur

Oleh: Khalil Abd Djalil
Dosen Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo, Jawa Timur

Saat menonton TV, membaca Koran, Membuka Media Sosial, isinya lebih banyak berkaitan dengan konflik, baik konflik politik, ekonomi, budaya bahkan Agama, silahkan hitung sendiri. Tontonan seperti ini secara tidak langsung dan berangsur-angsur menciptakan mindset polarisasi, bahkan berujung pada terjebaknya pikiran dalam oposisi biner yang dualistik bahkan menegasikan yang lainnya.

Dalam realitas, kita, disadari atau tidak, terbiasa dihadapkan dengan peristiwa melalui pengelompokan oposisi biner, hitam-putih, atas-bawah, kiri-kanan, menang-kalah, benar-salah, positif-negatif, bahkan sampai ada pola partai Allah-partai setan, aliansi Makkah-Aliansi Beijing.

Pemahaman dualistik ini kemudian menghantarkan kita untuk menghukumi peristiwa tersebut, kitapun akhirnya menyebut kalau tidak menang ya kalah, kalau tidak damai ya perang, ataupun membuat perbandingan putih adalah lebih baik dari hitam, kanan adalah lebih baik dari kiri, partai Allah adalah lebih baik dari Partai setan (walaupun sebenarnya pandangan ini sama sekali keliru, karena Allah tidak bisa dibandingkan apalagi dilawankan dengan setan, kalaupun ada ungkapan yg mensejajarkan secara oposisional Maka itu sudah menurunkan Allah sebagai Wujud Haqiqi).

Dalam konteks politik di Indonesia pembacaan dualistik ini mempolakan individu, kelompok, ormas, atau partai politik menjadi dua juga, ada pro pemerintah dan ada oposisi pemerintah, sehingga apapun ucapan atau tindakan tokoh, ormas dll, lebih-lebih di tahun politik, selalu dikaitkan dengan Pro atau Kontra Pemerintah. Kalau tidak pro Jokowi ya Kontra Jokowi. Pembacaan begini akhirnya menihilkan kelompok yang berjuang melampaui kekuasaan, misalnya perjuangan demi kebangsaan dan perdamaian dunia.

Baca Juga: Mengaji Islam Moderat Kepada KH Yahya C. Staquf 

NU selalu berusaha keluar dari konflik dualistik ini dengan semboyan الخروج من الخلاف مستحب sehingga tidak banyak terlibat secara langsung dalam posisi yang sedang konflik, walaupun NU juga sering diseret sana-sini agar menentukan posisinya. Dalam perjalanannya, bangsa Indonesia hampir mengalami perang saudara antara kelompok Nasionalis dan Islamis gara-gara bentuk Negara apakah Negara Islam atau Negara Sekuler, untung saja tokoh-tokoh NU mengambil peran dalam memformulasikan Ide besar negara, sehingga perpecahan itu bisa dihindari dengan lahirnya pancasila yang mengakomodir atau menengahi antara dua kelompok tersebut.

Berkaitan dengan Islam Rahmah yang ditawarkan oleh Gus Yahya Cholil Staquf di Israel sebagai jalan tengah keluar dari konflik yang tidak berkeaudahan sebenarnya tidak keluar dari prinsip NU yang tidak mau terjebak dalam dilema dualistik.

Pemilihan kata Rahmah sudah tepat, karena kata Rahmat keluar dari kemelut konflik angkat senjata atau dijajah, menang atau kalah, kata Rahmah juga tidak memiliki lawan, Rahmah adalah nilai tertinggi, Rahmah bukanlah lawan dari benci karena benci lawan katanya suka. Bahkan kitapun biasa menyebut agama Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamien, karena Islam mau keluar dari konflik bukan menciptakan konflik.

Mana dalilnya? Tidak perlu jauh-jauh mencari dalil, karena Sebutan Allah sangat banyak berdampingan dengan kata Rahmah, sebut saja basmalah بسم الله الرحمن الرحيم، Bahkan ada sebuah hadits Qudsi yang menyebutkan ان رحمتي سبقت غضبي sesungguhnya rahmatku melampaui amarahku. Allah juga berfirman وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ, (Al-‘Anbyā’):107 – Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here