Kemenhan RI: Perkokoh Pertahanan di Wilayah Perbatasan, Butuh Alutsista yang Lebih Besar

Kapuslitbang Strahan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI Laksamana Pertama (Laksma) TNI, Agus Rustandi

RAJA AMPAT, Rabu (25 Oktober 2017) suaraindonesia-news.com – Untuk pengamanan di wilayah terluar Indonesia yang berada di Samudra Pasifik yaitu pulau Fani. Pulau yang berbatasan dengan negara Palau itu, untuk pengamanannya dibutuhkan Alutsista yang lebih besar guna untuk memperkokoh pertahanan NKRI di perbatasan.

Pernyataan itu disampaikan Kapuslitbang Strahan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI Laksamana Pertama (Laksma) TNI, Agus Rustandi kepada suaraindonesia-news.com usai diskusi dengan Pemrintah Kabupaten (Pemkab) Raja Ampat, di Aula kantor Bupati Raja Ampat,Selasa (24/10).

“Karena memang pulau Fani, wilayahnya cukup jauh dari pusat. Kita ingin melihat langsung kondisi fisik pulau itu. Khususnya untuk masalah pengamanan, mungkin apa yang perlu ditingkatkan,” katanya.

Dijelaskan, ketika kami ke pulau Fani, Senin (23/10) beberapa jam disana. Kami melihat yang paling penting adalah, seperti peralatan navigasi, dan melihat suar di sana mati. Kalau suar bukan tanggung jawab dari Kementerian Pertahanan.

Baca Juga: Patung GWK Bali Jadi Patung Tertinggi di Dunia, Kalahkan Patung Liberty

“Kementerian Pertahanan, hanya berupaya mendorong, melaporkan agar suar itu segera diperbaiki. Kemudian, perlengkepan untuk pertahanan, kita perlu pos untuk meninjau apakah diperairan itu ada kapal-kapal pencuri ikan. Kemudian, sarana yang lainnya yang penting untuk memperkokoh pertahanan di daerah perbatasan,” kata Agus.

Menurutnya, karena pulau itu sangat luas, kurang lebih 10 km (sepuluh kilometer) untuk keliling pulau itu, dan pulau itu tidak berpenduduk. Untuk pengamanan,satgas yang terdiri dari 10 orang itu, harus bisa melaksanakan patroli disana. Sarananya juga tidak ada, sehingga perlu kita dorong.

“Pengamanan itu, jangan seperti dalam tanda kutip seperti terpenjara. Tetapi mereka harus fokus pada tugas pokoknya. Oleh karena itu, dukungan logistik dan peralatan itu, harusnya mereka tidak berpikir lagi. Tinggal mereka fokus pada tugas pengamanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, hal tersebut perlu kita koordinasikan, untuk mencari solusinya. Karena untuk menjangkau kesana itu tidak mudah.

“Kemarin, kami berangkat ke pulau Fani menggunakan kapal yang cukup besar, kapal milik TNI AL ukuran 28 meter, jarak tempuhnya sangat jauh untuk balik butuh 7 jam dengan cuaca yang sangat bersahabat. Nah, bagaimana kalau cuaca itu sangat extrim apalagi kita harus berhadapan dengan laut Pasifik, perlu alutsista yang lebih besar,” urainya.

“Kita ingin mendorong, supaya ada perhatian untuk memberikan peralatan kapal sejenis KRI. Pengamanan pulau Fani ada di bawah Lantamal XIV Sorong. Sehingga perlu peningkatan peralatan, yang dibutuhkan bukan hanya KAL, tapi kedepan ada KRI yang rutin di BKO kan di wilayah perairan Papua ini, supaya bisa menembus perbatasan di sana,”pungkasnya. (Zainal La Adala/Jie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here