Keluarga Minta Pemerintah Kembalikan Jenazah Mantan Dubes Lima Negara ke Malaka

Cornelis Foun Teiseran (Foto: Istimewa)

Laporan: Cyriakus Kiik

BETUN, Kamis (15/6/2017) suaraindonesia-news.com – Keluarga meminta pemerintah Indonesia untuk mengembalikan jenazah Cornelis Foun Teiseran, mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk lima negara, yakniKuba, Bahamas, Republik Dominikan, Jamaika, dan Haiti, dipulangkan untuk dimakamkan di kampung halamannya di Desa Builaran Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kami minta dengan rasa hormat kepada pemerintah Indonesia, isteri dan kedua anak almarhum, agar almarhum bisa dikuburkan di Builaran,” kata Kepala Desa Builaran, Alfonsius Luan,  Kamis (15/06/2017).

Menurut dia, permintaan keluarga itu sangat beralasan. Sebab, Cornelis Foun Taiseran adalah keturunan Raja.

“Cornelis harus dimakamkan secara adat dan budaya, layaknya seorang raja mangkat. Beliau adalah adik kandung Raja Liurai Malaka Wehali yang ke-16. Jadi, kami dan segenap tokoh adat meminta beliau dikuburkan secara ritual adat. Itu hanya bisa dilakukan kalau beliau dimakamkan di sini,” ujar Alfons.

Saat ini, demikian Alfons, beberapa keluarga dari Malaka, telah berangkat ke Jakarta untuk berkomunikasi dengan isteri dan kedua anak almarhum.

Informasi yang diperoleh dari Adhi Teiseran yang adalah keponakan kandung almarhum mengalami penyakit maag dan batuk sejak pekan lalu. Selanjutnya, selama lima hari almarhum dirawat di rumah sakit.

“Beliau hanya sakit maag dan batuk, tidak ada penyakit lain. Sebab, saya masih berkomunikasi dengan beliau via WhatsApp,” tutur Adhi. Namun, pada Selasa (13/06/2017) pagi, kondisi kesehatan almarhum semakin memburuk. Tepat pukul 17.00 WIB, almarhum menghembus napas terakhir.

Saat ini, jenazah almarhum disemayamkan di Rumah Duka Pondok Gede, Bekasi.

Almarhum lahir di Desa Builaran, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka pada 1 Januari 1958. Dia adalah anak ke-8 dari 12 orang bersaudara dari pasangan Benyamin Teiseran dan Lusia Luruk Klau.

Masa kecilnya dihabiskan di Desa Builaran bersama kedua orangtuanya dan ke-11 saudaranya. Kedua orangtua mendidiknya dengan keras.

Cornelis menamatkan sekolah dasar hingga menengah atas di sekolah Katolik. Tepatnya di SDK Builaran dan melanjutkan ke ke SMPK Santu Thomas Aquinas Sabar Subur Betun. Sedangkan pendidikan menengah atasnya dijalani di SMAK Suria Atambua-Kabupaten Belu, sebuah sekolah katolik terbaik di Pulau Timor saat itu hingga saat ini.

Setelah tamat, Cornelis merantau ke Jawa. Dia kuliah di UGM, Yogyakarta.

Cornlis melepas masa lajangnya dengan menikahi Lucia Cornelis dan dianugrahi tiga orang anak yaitu, Antonius Arief Teiseran (alm), Laurensius Teiseran, SE dan Leander Teiseran.

Cornelis mengawali karir diplomatik di Kementerian Luar Negeri RI sejak 1985 sebagai Aparatur Sipil Negara (PNS).

Pada 1989-1994 bekerja sebagai staf Sub Bidang Pendidikan Sosial Budaya pada KBRI Yangoon. Pada 1997-2001sebagai Kepala Sub Bidang Politik Luar Negeri di KBRI Paris-Prancis. Pada 2003-2007 menjalani fungsi politik pada KBRI Brasilia. Pada 2004 sebagai  HOC pada KBRI  Brasilia.

Pada 2005-2006 sebagai Kuasa Usaha Ad Interin pada KBRI Brasilia. Pada 2007 sebagai Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa (P3K2 AMEROP).

Pada 1 Desember 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantiknya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kuba dan diakreditasi oleh Persemakmuran Bahama dan Republik Jamaika, yang berkedudukan di Havana.

Pada 31 Januari 2016, Cornelis menyelesaikan tugasnya sebagai Duta Besar dan kembali ke Indonesia pada 2 Pebruari 2016.

Sebagai Dubes, Cornelis sangat aktif dalam mempromosikan budaya Indonesia di Kuba, dan terutama dalam meningkatkan pemahaman generasi muda tentang Indonesia dan tentang hubungan jangka panjang antara Indonesia dan Kuba.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here