Keluarga Marianus Oki Surati Kapolda NTT

Reporter: Cyriakus Kiik

BETUN, Jumat (16/6/2017) suaraindonesia-news.com – Keluarga Marianus Oki, warga RT 01/RW 01 Desa Bakitolas, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) surati Kapolda NTT. Langkah itu dilakukan untuk mempertanyakan proses penyidikan polisi yang berlangsung sudah 1,6 tahun terkait kematian Marianus Oki dalam sel Pos Polisi Manamas pada 4 Desember 2015.

Keluarga yang menandatangani surat itu adalah Maria Kefi (istri Marianus), Yohanes Kefi (kakak kandung Marianus) dan Willem Oki (sepupu Marianus).  Surat itu diberi tembusan pula kepada Mabes Polri, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan KontraS.

Kepada media ini di Betun, Kamis (15/06/2017),  Willem Oki selaku sepupu Marianus, menjelaskan, pihak keluarga bersurat ke Kapolda NTT minggu lalu. Dalam surat itu, keluarga mempertanyakan proses penyidikan kasus kematian Marianus Oki 4 Desember 2015.

“Kasus ini sudah satu setengah tahun. Tetapi, belum ada kejelasan siapa pelakunya. Padahal, korban meninggal di dalam sel tahanan polisi”, katanya.

Willem juga bilang, pihak keluarga sudah berulang-ulang mendatangi Polres TTU dan Polda NTT. Tetapi, tidak ada informasi jelas siapa pelakunya dan sejauh mana penanganan kasusnya.

Surat terakhir minggu lalu itu dilayangkan keluarga korban Marianus untuk mendapatkan informasi terkait kerja-kerja penyidikan setelah gelar perkara bersama antara Polda NTT dan Kompolnas pada 25 April 2017 yang ikut dihadiri keluarga korban Marianus saat itu.

Awalnya, kisah Willem, korban Marianus dijemput dari kediamannya, Kamis (03/12/2015) petang sekira pukul 16.30 wita oleh dua anggota Brimob dan satu anggota polisi. Korban kemudian dibawa ke Pos Polisi (Pospol) Manamas. Dia ditahan atas dugaan percobaan perkosaan terhadap Theresia Kune, warga setempat.

Yang disesalkan keluarga, tindakan penangkapan dan penahanan korban justru tanpa surat perintah (Sprint) penangkapan dan penahanan. Kapospol juga tidak ada saat itu. Tetapi anak buah Kapospol berani menahan dengan menjamin keamanan tahanan, sehingga keluarga pulang ke rumah.

Keluarga yakin korban pasti aman dan dilindungi polisi. Tetapi, pada keesokan harinya, Jumat (05/12/2015) sekira pukul 17.00 wita, keluarga yang hendak mengantar makanan kepada korban mendapati beberapa anggota polisi sedang mengeluarkan korban dari sel untuk dibawa ke Puskesmas Wini.

Berdasarkan hasil pemeriksaan luar oleh dokter di Puskesmas Wini, korban ternyata sudah meninggal beberapa jam sebelum diantar ke Puskesmas. Pada tubuh korban ditemukan tiga goresan merah dan pembengkakan di leher serta goresan di pelipis korban. Sedangkan jarak dari Pospol Manamas ke Puskesmas Wini hanya sekira 4-5 kilometer dan ditempuh dalam waktu 25-30 menit.

“Kesimpulan kami, korban memang meninggal dalam sel. Ini sebuah kejahatan profesional karena korban meninggal di pos polisi dan sedang dalam perlindungan polisi,” demikian Willem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here