Kawin Muda Menjadi Penyebab Tingginya Angka Perceraian Di Kota Batu

Hakim PA Malang menyidangkan perkara permohonan dispensasi kawin warga bumiaji kota Batu

Reporter: Adi wiyono

KOTA BATU, Jumat (19/5/2017) suaraindonesia-news.com – Perkawinan pada usia muda atau dibawah umur 20 tahun ternyata   menjadi penyebab utama tingginya angka perceraian di Kota Batu. Data di Kantor  Pengadilan  Agama Kota Malang, dari tahun ke tahun Kota Batu  terus mengalami peningkatan, termasuk tahun2017  pada tri wulan kedua ini  kota Batu tergolong tinggi, prosentasinya terus meningkat.

Djazilatus Rochmat Panitera Permohonan pengadilan Agama (PA) kota Malang saat ditemui Usai acara Sidang  keliling  PA yang berlangsung  di Islamic Center, Jumat (19/5/2017)  mengatakan  permohonan cerai talak dan cerai gugat  di kota Batu masih tergolong tinggi di bandingkan dengan kota Malang, bila dilihat dari  prosentasi jumlah penduduk, di kota Batu jumlah penduduknya kecil.

“Data di kantor Pengadilan Agama Kota Malang, yang telah   menerima permohonan perkara  cerai talak cerai gugat dari warga kota  Batu, tahun 2017 ini tergolong tinggi,” kata Djazilatus.

Menurutnya,  yang menjadi factor permohonan cerai talak, cerai gugat adalah karena factor ekonomi dan  perselingkuhan. Sedangkan ekonomi menjadi yang paling dominan. Bila dilihat dari usia. Mereka rata-rata yang mengajukan cerai itu, pada  masa perkawinan belum matang yakni pada usia  dibawah 20 tahun,  bahkan mereka  dulunya pernah  mendatangi kantor PA meminta dispensasi agar perkawinannya diusia di bawah 17 tahun agar dikabulkan.

“Hakim PA mengabulkan permohonan lantaran bakal calon mempelai  itu sudah mengaku telah hamil duluan,  ada yang lima bulan  ada  yang tujuh bulan, sementara itu orang tua pemohon juga  ngotot agar permohonannya dikabulkan,” jelasnya.

Tetapi faktanya, dalam perjalanannya,  mereka yang melangsungkan perkawinan pada  usia muda ini tak lama kemudian mendatangi lagi kantor PA bukan untuk dispensasi lagi tapi mereka mengajukan permohonan cerai.

Kata dia, Hakim Pengadilan Agama, selanjutnya memediasi dengan upaya damai  untuk bersatu kembali meminta keduanya suami istri itu untuk rujuk, menjalin kembali agar tidak terjadi cerai, atau paling tidak  bisa dengan cara kekeluargaan dan baik-baik.

Namun upaya Hakim itu  kata dia, ada diantaranya gagal, karena beralasan factor ekomi, mereka  menyatakan tidak sanggup lagi meneruskan bahtera rumah tangganya, istri ngotot minta cerai  sedang  suaminya juga tidak sanggup lagi membiayai kebutuhan istrinya yang dinilai minta macam-macam diluar nalar.

Dalam sidang yang digelar itu,  termasuk sidang kedua.   PA kota Malang  menerima 27 perkara,  dinataranya ada cerai gugat, perubahan nama,  kekeliruhan dalam buku nikah dan dispensasi kawin.  Sidang dari 27 perkara itu salah satunya ada yang mengajukan permohonan dispensasi kawin.

“Yang mengajukan dispensasi kawin  itu Sebenarnya belum bisa menikah, karena laki-lakinya itu usianya 17 tahun, masih dibawah 19 tahun.  Harus minta ijin Pengadilan Agama agar mereka bisa melangsungkan pernikahan. Kalau tidak ada yang terhalang PA mngabulkan,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here