Ini Gagasan Priyo Untuk Menyelamatkan Golkar

Priyo Budi Santoso, Calon Ketua Umum DPP Partai Golkar

Reporter : Hurri/Hsn

Jakarta, suaraindonesia-news.com – Calon Ketua Umum DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso mengaku sudah siap bertarung dengan Calon Ketum Golkar lainnya pada saat Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang akan digelar Mei mendatang.

Menurut dia, Golkar harus diselamatkan dari keterpurukan dan kehancuran. Maka dari itu, dia menegaskan bahwa dirinya sudah mempersiapkan konsep jitu untuk menarik simpati dari masyarakat luas.

“Kalau saya diberi amanah dan dipercaya (untuk menjadi Ketua Umum, red) maka akan mengharuskan partai mengedepankan strategi lompatan besar kalau ingin selamat. Lompatan besar itu harus berpikir tidak biasa tapi harus berpikir yang luar biasa. Golkar harus berani menerobos pakem-pakem untuk mencapai lompatan besar ini. Ini satu-satunya cara agar Golkar tetap awet, bisa menjadi pemenang pemilu,” katanya.

Hal tersebut Priyo sampaikan saat menjadi pembicara diskusi bertajuk “Babak Baru Partai Politik di Indonesia” di kantor Jenggala Center, Jakarta, Senin (25/4)/2016). Pembicara lainnya adalah Pengamat Politik dari LIPI, Siti Zuhro.

Priyo menegaskan, bahwa dirinya akan melibatkan semua kalangan, khususnya keluarga besar TNI, birokrasi, untuk berpartisipasi aktif menyelematkan Golkar, jika dirinya terpilih menjadi Ketua Umum Partai berlambang pohon beringin ini. Sejak reformasi dan undang-undang melarang TNI terlibat aktif dalam partai politik, setiap partai politik tidak dapat mengklaim dibekengi prajurit.

“Tapi banyak purnawirawan dan keluarga besar ABRI/TNI, birokrasi yang akan saya minta untuk mengurus partai,” pungkasnya.

Lebih detail, Priyo menjelaskan enam poin lompatan besar untuk menyematkan Golkar.

Pertama, Membangun dan kembali jalur Abri, Birokrasi dan Golkar (ABG). ABG yang dia maksud adalah keluarga besarnya. Para aktivis lainnya, seperti tokoh-tokoh LSM dan Ormas, akan Priyo jadikan sahabat jika terpilih menjadi Ketum Golkar.

Kedua, tentang kepemimpinan. Pemimpin adalah etalase sehingga pemimpin harus bernilai positif karena dia yang berhubungan dengan masyarakat. Tak boleh seorang pemimpin jauh dari masyarakat dan jangan sampai menunjukkan pemimpin yang borjuis.

Ketiga, jika golkar dipimpin figur yang tak memiliki kriteria seperti di atas maka ada konsekuensi yang harus diterima Golkar. Hal tersebut bisa dilihat dari kasus penurunan suara Golkar setiap Pemilu.

Keempat, kantor DPP Golkar akan dijadikan pusat komando. Rakyat juga bisa berkumpul di kantor DPP untuk menyampaikan aspirasina. Jika tidak dijadikan pusat komando, Priyo mengaku khawatir kantor Golkar akan menjadi kuburan.

Kelima, Pilkada serentak 2017 akan dijadikan momentum untuk merebut pucuk-pucuk pimpinan, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten atau Kota.

Keenam, Priyo akan mengedepankan politik luhur dan politik tingkat tinggi yang mengedepankan tatakrama. Golkar tidak akan membiarkan sebagai partai yang hanya memburu kekuasaan semata.

“Mengabdikan diri bukan lagi milik Golkar tapi milik masyarakat. Itulah esensi politik luhur yag saya tawarkan,” tutup mantan Wakil Ketua DPR RI ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here