Ini Cara Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Beri Motivasi Soal UKM

oleh -23 views
Foto: Menteri Perdagangan Drs. Enggartiasto Lukita (tiga dari kiri) Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Heri Cahyono (kiri) saat memperkenalkan UKM di Moskow. (Foto: Iran/SI)

BOGOR, Senin (14 Agustus 2017) suaraindonesia-news.com – Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Heri Cahyono mencoba bernostalgia mengenang masa dirinya saat menjadi mahasiswa tentang bagaimana meningkatkan UMK.

Ide itu muncul, karena di Kota Bogor sendiri banyak sekali usaha kecil menengah (UKM) termasuk pengrajin Batik, namun masyarakat sendiri enggan untuk membelinya,

Sehingga, untuk meningkatkan kesejahteraan pengrajin, maka diperkenalkan batik tersebut di Moskow.

Salah satu contoh yang dia berikan adalah saat masih kuliah di IPB dan saat KKN, mereka membuat observasi sehingga membuat terobosan yang membuat perekonomian daerah sekitar melalui UMK jadi meningkat. Baca Juga: Polres Bogor Bersama Dishub Tertibkan Bus Pariwisata dan Truk

“Sekitar 20 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1997, saya waktu itu masih menjadi mahasiswa, saya ditugaskan melakukan KKN di sebuah tempat yang sangat terpencil di Kabupaten Sukabumi, untuk menuju wilayah tersebut kita harus menempuh perjalanan cukup jauh, setelah jalan raya kita masih harus menempuh perjalanan dengan jalan berbatu hingga puluhan kilometer,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Heri Cahyono kepada suaraindonesia-news.com.

Menurutnya pada saat itu, SDM di lingkungan warga sangat terbatas, kondisi ekonominya juga tidak menggembirakan, banyak yang putus sekolah dan menjadi pengangguran.

“Kita berfikir bagaimana bisa membantu menciptakan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat sekitarnya, setelah melakukan observasi maka kita melihat dan mendapatkan banyak potensi yang bisa digarap, tapi tentu potensi tersebut tidak akan bisa kita optimalkan jika tidak dilakukan terobosan dengan bantuan banyak pihak,” ujarnya.

Usai mereka mendapatkan jalan untuk menggali potensi daerah tersebut, lalu mereka para mahasiswa pun berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan juga dinas dinas terkait.

“Itu adalah bentuk mediasi bagaimana kita ingin mengangkat daya beli masyarakat, tanpa ada mediasi dan bantuan mahasiswa tentu masyarakat akan sulit melakukannya sendiri, kita menemukan kerajinan anyaman tikar pandan, keramik juga hasil produk pertanian seperti singkong, jagung, pepaya, buah buahan dll,” tuturnya.

Ditambahkan alumni Fakultas Kehutanan (Fahutan) angkatan 28 ini, pada saat itu, permasalahnya semua produk yang mereka hasilkan tidak bisa dijual dengan harga layak dan juga pembelinya hanya terbatas pada lingkungan setempat.

Sehingga, perputaran uang tidak bertambah dan hanya berputar pada lingkup yang terbatas.

Dengan memperkenalkan produk mereka dipasar pasar yang lebih luas walaupun masih sebatas lingkungan Kabupaten dan sekitarnya tapi usaha itu akhirnya membuahkan hasil.

Banyak pedagang dipasar dan pengusaha akhirnya datang melihat produk dari masyarakat tersebut, mereka datang karena diperkenalkan, mereka mengetahui ada produksi kerajinan dan hasil bumi karena dikenalkan dan dipromosikan oleh para mahasiswa, tentu energi promisi dan memperkenalkan tersebut memakan banyak pengorbanan waktu tenaga dan uang.

“Tapi itu adalah jalan yang harus ditempuh jika tidak dilakukan maka masyarakat di lokasi KKN waktu itu tetap tertutup dan tidak berdaya,” terangnya.

Hal itu adalah prototif sederhana, sebuah analogi yang pernah dilihat dan rasakan puluhan tahun silam.

“Analogi ini bisa kita ambil hikmahnya ketika para pengusaha lokal di Kota Bogor yang ingin bergerak merintis usaha dan memajukan perusahannya agar bisa berkembang pesat,” Imbuhnya.

Pihaknya mengaku telah memperkenalkan produk batik bogor. Itu merupakan salah satu produk yang dipamerkan di moskow beberapa hari lalu.

“Kita melihat bahwa pangsa pasar batik Bogor, juga beberapa kerajinan serta produk olahan makanan di Bogor, memerlukan perluasan pasar jika ingin usaha ini bisa bertahan dan maju, syukur syukur dikenal di dunia internasional selain akan menjadi kebanggan, juga bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat kota bogor dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Dikatakan Heri, apakah kita mau membiarkan para pengusaha dan perajin di Kota tempat kita ini akan mengalami kesulitan pasar dan akhirnya gulung tikar karena keterbatasan pasar domestik.

“Jawabnya tentu tidak, kita harus bertanggung jawab atas semua itu, mendorong mereka menfasilitasi dan membantu mediasi adalah tugas pemerintah, dan semua yang dilakukan itu memang mengorbankan tenaga, pikiran dan harta, tapi itu adalah langkah yang harus dilakukan jika kita ingin maju dan berkembang,” tandasnya.

Jadi, ketika bertanya pada diri apakah kita cinta kota Bogor, maka yang kita lakukan adalah melakukan kebaikan, mengajak kepada kebaikan, berfikir konstruktif dan juga menghindari hal hal yang bisa bersifat negatif.

“Dengan itu, insya allah jika semua elemen masyarakat bersatu dan bersama sama maka kita akan mendapatkan kota bogor ini cepat maju dan berkembang,” pungkasnya. (Iran G Hasibuan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *