Hukum Korupsi Di Dunia (Dagelan Petruk)

Dhafir Munawar Sadat

Oleh : Dhafir Munawar Sadat
Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Berawal dari satus teman seorang wartawan senior majalah ternama di Indonesia, ketika pulang dari kegiatan olah raga rutin diperumahan, yang mana tiap malam minggu biasanya bapak-bapak perumahan itu berolah raga, dengan bermain bulu tangkis, yah lumayan untuk sekedar mengisi ke kosongan dan bersilaturrahmi antar tetangga, disanalah kita menemukan nuansa ke akraban, penuh canda tawa, walau sedikit sedikit kadang melenceng, tapi agak nyeleneh maklum orang perumahan itu super sibuk dan bermacam-macam ras, suku sehingga beda bahasa, beda budaya, beda pergaulan, berbeda – beda tapi tetap satu jua, disinilah letak keindahannya, ada seni dalam hidup itu, tanpa seni hidup terasa galau….

Ketika pulang dari main bulu tangkis itulah tak disangka ketika buka HP dan baca status, “Hukum Korupsi Di Dunia

  1. Inggris tembak mati
  2. Jerman di penjara seumur hidup
  3. Arab Saudi di potong lehernya
  4. Malaysia di gantung
  5. Amerika Serikat di tembak 100 kali
  6. Di Indonesia di Potong Masa Tahanannya. Kurang oenak yo opo urip di Indonesia ….sik iso nyaleg pisan, TOP BANGET POKO’E……(dagelan petruk)

Sedih rasanya hati ini, ingin menangis kasihan kepada beliau-beliau para pendiri bangsa ini, mungkin roh-roh mereka sama denga al-fakir melihat ketidak adilan yang melanda negeri ini,yaqin wahaqqul yaqin meraka menangis disurga sana, mau dikemanakan negeri ini, seharusnya mereka menikmati kehidupan surg yang penuh dengan kelezatan tiada tara menjadi berubah menjadi kemarahan yang tiada lara, menjadi kegeraman yang tidak berkesudahan.

Korupsi sudah merajalela di Indonesia dari tingkat paling bawah ketingkat paling atas, dari tingkat desa ke tingkat menteri, korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran agama (Ar-rha”syi wal murtasyi finnar) apa lagi hukum, tetapi korupsi di Indonesia sudah berkembang secara sistemik dan sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging walau mereka mengaku beragama. Jua beli jabatan sudah biasa, jual beli kasus sangat biasa apa lagi soal sogok menyugok, luar binasa!

Menurut Sejarawan Onghokham, korupsi tidak lepas dari sejarah bangsa ini,  korupsi marak karena ada perubahan manajemen keuangan yakni antara uang negara dan uang pribadi yang sulit dilakuka pejabat, karena pada masa kerajaan dulu, tradisi yang ada adalah harta negara adalah harta raja, harta desa adalah harta lurah. Ada pergeseran makna jabatan masa lalu dan masa kini.

Masih kurang apa Indonesia ini, ada KPK, ada ke Polisian ada Kejaksaan, tapi kenapa kok masih boanyak korupsi, apa karena gaji nya kurang, atau karena ongkos politik terlalu banyak atau mungkin juga karena banyaknya aturan-aturan yang kaku sehingga menimbulkan banyak celah untuk korupsi, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya dewan, menteri yang korupsi, tapi kenapa mereka tidak kapok, kembali ke dagelan petruk tadi, kurang oenak opo yo urip di Indonesia, korupsi triliunan rupiah sek dapat remisi, sek dapat diskon sek iso nyalon, kurang enak opo urip di Indonesia Top Banget Poko’e (dagelan Petruk).

Kraksaan, Minggu 16 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here