HANI, Baanar GP Ansor Sumenep Prihatin Masa Depan Anak Bangsa

Suryadi, Ketua Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) GP Ansor Kabupaten Sumenep

SUMENEP, Senin (02/07/2018) suaraindonesia-news.com – Ketua Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) GP Ansor Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Suryadi mengaku prihatin atas maraknya narkoba di Indonesia. Pasalnya, dari waktu ke waktu angka penyalahgunaan barang haram itu kian meningkat.

Faktanya, narkoba hari ini seakan menjadi momok yang sangat menakutkan. Ketakutan akan bahaya narkoba begitu menghantui setiap denyut nadi kehidupan bangsa ini.

Indonesia merupakan bangsa dengan pertumbuhan bonus demografi yang mencapai 30% itulah tentu membuat penyalahguna narkoba dari negara-negara luar tertarik untuk terus menjadikan bangsa ini sasaran utama penjualan barang haram tersebut.

Dari sekian banyak pencandu, pemakai, yang coba-coba terhadap narkoba di dominasi oleh kalangan anak muda mulai usia 17-40 tahun. Hasil temuan BNNP kalangan muda yang terlibat penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun terus meningkat.

Fakta itupun membuat organisasi otonom GP Ansor Sumenep ini mencoba tampil dengan medan juang yang penuh tantangan, serta ikut memberikan tenaga dan fikiran guna melakukan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

“Tujuannya adalah ikut memastikan generasi masa depan anak bangsa aman dari jeratan narkoba, dan menjadi generasi yang mampu meningkatkan kesadaran akan pentingya menjaga kualitas hidup secara fisik dan psikis. Sehigga menjadi generasi yang berguna bagi kemajuan bangsanya,” kata Suryadi, Senin (02/06) melalui pesan rilisnya.

Menurutnya, atas dasar temuan inilah, masa depan anak bangsa terancam dan memaksa presiden untuk menetapkan bangsa ini sebagai Negara yang darurat narkoba. Hal ini pun dianggapnya tidak berlebihan, karna setiap hari sekitar 50 nyawa melayang sia-sia akibat narkoba.

“Memang, apa yg kita lakukan tidaklah besar, heroik ataupun penuh dengan drama penangkapan. Tapi kita berharap semoga selalu tumbuh kesadaran dalam diri anak bangsa untuk tegas dan keras menolak narkoba dalam hidupnya,” imbuhnya.

Lanjut Suryadi, kasus teroris dalam satu kali aksi teror mungkin hanya mengakibatkan sekitar 5-10 orang yang meninggal. Hal itupun peristiwanya tidak setiap hari. Bandingkan dengan narkoba yang setiap hari memaksa 50 nyawa anak bangsa melayang sia-sia.

Untuk itulah, butuh langkah-langkah strategis guna mengurangi maraknya penyalahgunaan narkoba. Selain cara penindakan dan rehabilitasi, pencegahan menjadi sangat penting. Upaya preventif bisa dimulai sejak dalam lingkungan keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

“Dan peringatan HANI hanyalah bagian kecil dari rentetan perjuangan yg dilakukan Baanar Gp Ansor Sumenep guna meminimalisir dampak buruk penyalahgunaan narkoba,” pungkasnya.

Reporter : Syaiful
Editor : Amin
Publisher : Imam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here